Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya Bukan Anak Raja, Maka Saya Menulis

Taufik oleh Taufik
12 Juli 2019
A A
Alangkah Kesalnya Kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis Tapi Dia Pemalas terminal mojok.co

Alangkah Kesalnya Kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis Tapi Dia Pemalas terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah lama saya menyukai bahkan bisa dibilang menggeluti dunia literasi. Sejak pertama kali bisa mengeja huruf menjadi kata, kemudian mengumpulkan menjadi sebuah kalimat, saya sudah jatuh cinta membaca. Mungkin juga almarhum Ayah saya yang saat itu begitu ingin anak-anaknya bisa bersekolah atau paling tidak berpendidikan memberikan dorongan begitu besarnya. Ibu saya? Walaupun tidak pernah merasakan bangku sekolah bahkan termasuk golongan buta huruf begitu bersemangat ketika saya masuk jajaran orang yang bisa membaca dalam usia yang relatif muda.

Lalu saya menjadi sedikit “kutu buku” untuk ukuran seorang anak SD. Hampir semua buku yang saya punya atau pinjam, saya “lahap” walau kadang dalam waktu yang relatif lama. Saya benar-benar masuk kategori kutu buku dibandingkan teman-teman saya saat itu. Bahkan beberapa teman saya menjuluki saya “buku berjalan”. Untuk orang kota, mungkin lumrah saja. Tapi tidak untuk orang-orang yang bermukim di pedesaan macam tempat saya, itu luar biasa.

Hasilnya? Tentu saja saya menjadi orang yang selalu mendapat ranking di kelas. Bahkan sejak masuk SD sampai lulus.

Setelah pada level menjadi kutu buku ini, saya merasa stuck dan tidak ada lagi progress yang bisa saya lakukan. Lantas beberapa teman saya menganjurkan saya untuk menulis. Sayangnya, beberapa kali berusaha memulai menulis, tidak manjur apa yang disarankan teman-teman saya tadi.

Saya bahkan masih ingat, teman-teman saya banyak memberikan kata-kata mutiara dari berbagai penulis terkenal. Sebut saja Pram, misalnya. Dengan kata-kata mutiara terkenalnya soal menulis “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah”. Atau ada juga teman lain menyemangati dengan kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Lagi-lagi, keinginan saya menulis masih di posisi netral. Gigi satu saja belum masuk. Padahal pengen juga tulisan saya dibaca orang. Pikirku dalam hati.

Lantas sebuah quote dari seorang  Ulama besar, Al-Ghazali membimbing saya. “Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah!” Sebuah quote yang langsung menampar saya. Mengingatkan saya kembali kepada almarhum ayah saya. Bernostalgia saat saya mulai begitu sangat dikagumi oleh kedua orag tua saya karena bisa membaca. Dan saat ini saya memiliki misi menuliskan apa yang sudah saya baca. Kira-kira begitu yang terlintas di pikiran saya ketika mengigat almarhum ayah saya.

Kata-kata Mutiara Al-Ghazali ini benar-benar menjadi semacam penyemangat saya. Mengapa bisa demikian? Saya kembali teringat aalmarhum ayah saya. Bukan hanya dalam banyangan wajah, tapi juga apa yang dilakukan beliau selama hidupnya.

Secara hitungan, saya mengenal ayah saya secara singkat. Bukan karena meninggalnya beliau yang bisa dibilang cukup cepat, tapi apa yang dilakukannya dengan menulis. Walau tidak dalam bentuk tulisan berjilid-jilid, beliau seakan menginspirasi seisi rumah kami untuk menulis. Apa saja. Menulis hari, menulis kejadian, menulis cerita, karangan, sajak atau apapun itu. Cukup tulis saja.

Baca Juga:

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

Blora, Kabupaten Kecil yang Dirusak oleh 3 Kelakuan Bodoh Ormas, Bikin Malu dan Menyusahkan Masyarakat Waras Lainya

Ayah saya termasuk perantau (kalau orang zaman sekarang bilang). Menjelajahi hampir seluruh pulau di Indonesia bahkan beberapa negara tetangga macam Malaysia, Singapura bahkan Brunei Darussalam. Dan tentu saja, yang bisa mengingatkan beliau tentang begitu banyak lokasi dan tempat, begitu banyak kejadian dalam berbagai waktu adalah dengan menulisnya.

Tidak peduli untuk kejadian penting atau bukan, semuanya hampir masuk dalam catatan beliau. Bayangkan, untuk utang sebesar Rp 250 saja masih tidak luput dari tulisan di catatan harian beliau. Bahkan salah satu kejadian besar yang pernah masuk dalam catatannya dan saya kebetulan membacanya adalah ketika mereka menemukan seorang pegawai di sebuah kecamatan yang terdampar di perairan pulau buru. Saya lupa waktu tepatnya, tapi di catatan itu tertulis jelas bahkan nama si survivor yang diselamatkan ayah saya dan teman-temannya.

Maka tidak heran, ketika Al-Ghazali mengingatkan saya tentang menulis, saya teringat orang tua saya. Ya benar, orang tua saya bukan Ulama Besar, dan lebih-lebih bukan Raja. Bukan pejabat. Dan beliau sudah menunjukkan jalan itu awalnya kepada kami, kepada saya. Beliau juga bukan anak seorang ulama, bukan anak seorang raja dan beliau menulis. Walau bukan sebuah memoir politik, bukan kitab rujukan agama atau bukan novel best seller tapi beliau menulis. Menulis semua rangkaian kegiatannya, kehidupannya, kejadian besar dalam hidupnya.

Al-Ghazali dan tentu saja Ayah saya sendiri telah menginspirasi saya untuk menulis. Ayah saya bukan raja dan juga bukan ulama maka saya terinspirasi darinya untuk menulis. Terimakasih, Ayah.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: ayahmenulisPramoedya Ananta Toer
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus Mojok.co

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

10 Desember 2025
Salahkah Menulis demi Uang? kaya

Salahkah Berharap Bisa Kaya dari Karya?

29 Maret 2023
Jiwa Asli Rakyat Indonesia yang Tertanam di Sopir Angkot

Jiwa Asli Rakyat Indonesia yang Tertanam di Sopir Angkot

13 Februari 2020
reza rahardian

Begitu Banyak Artis Indonesia, Mengapa Harus Selalu Reza Rahardian?

9 Juli 2019
Bukan Blogspot atau Wordpress, Mywapblog Adalah Tempat Pertama Kali Saya Menulis di Internet terminal mojok.co

Bukan Blogspot atau WordPress, Mywapblog Adalah Tempat Pertama Kali Saya Menulis di Internet

4 Mei 2021
Pengangguran Terjadi Bukan Karena Keadaan, Tapi Faktor Gengsi sarjana mahasiswa lowongan kerja terminal mojok.co

Halo Ayah Muda, Kalian Boleh Sesekali Egois kok!

8 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.