Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Gara-Gara Arya Dwipangga, Saya Jadi Manusia yang Tidak Puitis

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
4 Juli 2019
A A
arya dwipangga

arya dwipangga

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup dengan syair-syair yang mengalir dari bagian cerita perjalanan kehidupan ini tentu sangat amat menarik. Merangkai kata, mengolah makna, mengilhami intisari kehidupan, lewat kata-kata yang rangkai seindah mungkin. Kadang kala saya sering berpikir, andai saja saya ini sedikit puitis, tentu postingan di Instagram saya akan penuh dengan potongan-potongan petikan puisi. Atau paling tidak, sehari sekali, saya akan ngetweet sajak-sajak pendek yang ciamik.

Tapi sayangnya tiap kali membuat puisi, otak saya mendadak tumpul. Saya tak bisa menemukan metafora-metafora yang cocok untuk kalimat dalam syair saya. Mau dipaksa kayak apa pun, yang ada saya hanya bengong berjam-jam memandangi kertas kosong. Sedangkan puisi tak kunjung tertulis.

Kadang saya sering berpikir juga, alangkah bahagianya jika memiliki tangan seromantis Eyang Sapardi. Ketika saya jatuh cinta, saya akan lekas menulis puisi ‘Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana‘. Lalu puisi itu akan di-retweet oleh jiwa-jiwa yang tengah jatuh cinta. Duh, manisnya~

Namun sayang seribu sayang, saat kecil dulu sebelum saya sempat mengenal WS. Rendra, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, ataupun Goenawan Mohamad, saya justru berkenalan dengan Arya Dwipangga terlebih dahulu. Apesnya, pendekar syair berdarah itulah penyair pertama yang saya kenal dalam kehidupan ini. Saya jadi memiliki kesan buruk soal dunia syair menyair karena ulahnya itu.

Arya Dwipangga merupakan tokoh fiktif dalam sebuah sandiwara radio yang legendaris yang berjudul Tutur Tinular. Cerita ini merupakan hasil karya S. Tidjab. Secara garis besar, cerita ini mengisahkan tentang kesatria hebat bernama Kamandanu. Tutur Tinular ini mengambil latar tentang runtuhnya Kerajaan Singosari hingga berdirinya Kerajaan Majapahit. Di cerita ini, nantinya juga akan terselip tentang cerita penghianatan Ronggo Lawe dan juga Ra Kuti.

Arya Dwipangga sendiri bukanlah tokoh utama dan bisa dibilang dia ini tokoh antagonis. Dia merupakan kakak kandung Arya Kamandanu. Namun berbeda jauh dengan adiknya yang rajin berlatih ilmu kanuragan, Arya Dwipangga memilih jalan ninjanya sendiri. Dia orang yang bermalas-malasan untuk berlatih ilmu kanuragan dan sibuk bersyair setiap hari.

Berkat syair-syair buatannya inilah, Arya Dwipangga akhirnya berhasil menggoda Nari Ratih yang merupakan pacar adiknya sendiri. Ratih terhasut oleh kata-kata indah buatan Arya Dwipangga, hingga akhirnya jatuh cinta dan melupakan kekasihnya sendiri. Bahkan karena ulah Arya Dwipangga itu Ratih pun hamil di luar nikah.

Saya ikut bersedih untuk Arya Kamandanu kala itu. Bahkan saat Arya Kamandanu mengahajar habis-habisan Arya Dwipangga, saya ikut-ikutan geregetan. Namun si Ratih ini justru membela kakaknya, karena dia telah mengandung anak dari kakaknya itu. Duh, ini nih yang namanya sakit tapi tak berdarah.

Baca Juga:

Sisi Gelap Julukan Madiun Kota Pendekar: Terlihat Gagah, tapi Penuh Masalah

Madiun, Kota Pendekar, Kota Pecel, Kota dengan Segudang Julukan

Arya Kamandanu akhirnya berhasil move on dan memiliki kekasih baru yang merupakan orang Cina, Mei Shin. Namun nahasnya, sebelum Arya Kamandanu ini berhasil menikahinya, Arya Dwipangga kembali menggoda kekasih adiknya lagi hingga ia hamil juga. Duh, baru kali ini saya liat tokoh utama kok di-zalimi terus sih sama si penyair itu. Padahal secara nalar, kekuatan tempur Kamandanu ini jauh melampaui Dwipangga, tapi sungguh kata-kata indah itu bisa melangalahkan segalanya.

Saya yang merupakan fans garis keras Arya Kamandanu, merasa tersakiti oleh ulah penyair menyebalkan itu. Sebagai bentuk protes, saya menjadi kurang respek dengan puisi. Tiap kali melihat puisi, saya kembali teringat akan kelakuan jahat Dwipangga yang sungguh amat menyebalkan itu. Saya jadi curiga, apakah syair di muka Bumi ini diciptakan untuk membuat orang terhanyut dan lupa akan segalanya? Betapa besarnya efek dari sebuah rangkaian kata-kata.

Pernah saat SD dulu saya diberi tugas untuk membuat puisi oleh guru bahasa Indonesia. Saya yang otaknya buntu karena tak bisa membuat puisi ini akhirnya mengutip syair lagu Sekuntum Mawar Merah yang dibawakan Bunda Elvy Sukaesih. Pas disuruh maju di depan kelas untuk membacakan puisi tersebut, ternyata guru saya tahu kalau puisi saya itu kutipan lagu. Nggak cuma dimarahi, tapi saya juga ditertawakan oleh semua orang di kelas. Hingga lulus SD bahkan teman-teman saya masih suka mengolok-olok dengan mendendangkan lagu Sekuntum Mawar Merah tersebut.

Kekuatan magic Arya Dwipangga ternyata berpengaruh besar bagi saya. Saya pikir-pikir, setelah sekian lama saya hidup, saya baru beberapa kali membuat puisi. Itu pun kalau cuma terpaksa disuruh membuat tugas. Selebihnya tak pernah.

Saya sepertinya belum bisa move on dari bayang-bayang Arya Dwipangga. Padahal saya sudah melakukan terapi jiwa dengan menonton video-video pembacaan puisi Rendra, saya bahkan juga membeli buku-buku puisi milik Widji Thukul ataupun Joko Pinurbo.

Tapi bayang-bayang Arya Dwipangga saat mengeluarkan Ajian Kidung Pamungkas masih teringang di kepala saya.

Ketika kata-kata
Sudah tidak bisa menjawab tanya
Maka bahasa pedanglah yang bicara
Bahasa para ksatria
Bahwa bumi menuntut sesaji darah manusia
……

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: arya dwipanggapendekarpenyairtutur tinular
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

obituari iman budhi santosa terminal mojok.co

Iman Budhi Santosa Wong Jawa Tenan

18 Desember 2020
Sisi Gelap Julukan Madiun Kota Pendekar: Terlihat Gagah, tapi Penuh Masalah

Sisi Gelap Julukan Madiun Kota Pendekar: Terlihat Gagah, tapi Penuh Masalah

25 Februari 2024
Meluruskan Salah Kaprah Soal Julukan Madiun Kota Gadis terminal mojok

Sisi Gelap Julukan ‘Madiun Kota Pendekar’

6 Oktober 2021
Widji Thukul

Apabila Widji Thukul Tiba-tiba Muncul dan Baca Puisi di Tengah Demo Mahasiswa

27 September 2019
obituari penyair umbu landu paranggi oleh sigit susanto terminal mojok.co

Umbu Landu Paranggi Berjaket Tentara dan Ia Memakai Pet ala Che Guevara

10 April 2021
Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

Madiun, Kota Pendekar, Kota Pecel, Kota dengan Segudang Julukan

30 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta Mojok.co

Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta

22 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.