ADVERTISEMENT

Dosa pengendara motor yang baru saya sadari setelah belajar mobil

Dosa pengendara motor yang baru saya sadari setelah belajar mobil Mojok.co

Hari pertama duduk di kursi kemudi mobil, saya langsung sadar bahwa dunia ini ternyata sempit. Kaca spion kiri, kaca spion kanan, kaca tengah, dan satu titik buta di sudut yang katanya bisa menelan satus motor utuh beserta pengendaranya. 

Instruktur saya bilang pelan-pelan, “Lihat spion, lihat spion, lihat spion.” Saya menoleh ke kiri, kanan, tengah, dan tiba-tiba ada pengendara motor yang wuzzz lewat dari sela-sela antara mobil saya dan truk di sebelah, jaraknya kira-kira selebar harapan hidup saya.

ADVERTISEMENT

Saya kaget. Lalu saya malu. Karena motor itu, sepuluh tahun lalu, adalah saya. Dan ini adalah pengakuan dosa saya.

#1 Saya mengira sela-sela kendaraan itu hak asasi pengendara motor

Dulu, di mata saya, celah antara dua mobil itu bukan celah. Itu jalan tol pribadi yang disediakan semesta khusus buat pengendara motor. Mobil macet? Bagus, saya punya lintasan. Mobil berhenti? Bagus, saya punya karpet merah. Saya meliuk-liuk seperti ular tangga, ngeeeng, ngeeeng, ngeeeng, sambil merasa jadi pembalap kelas dunia, padahal tujuan saya cuma warung nasi uduk.

Setelah duduk di dalam mobil, saya baru tahu sensasinya dari sisi lain. Rasanya seperti sedang makan lalu tiba-tiba ada tangan menyelinap dari samping mengambil kerupuk di piring. Kaget, jantung loncat, dan refleks pertama adalah menginjak rem. Padahal kalau saya telat refleks sedetik, kerupuk itu berubah jadi tragedi.

#2 Lampu sein itu dekorasi

Di dunia motor, lampu sein punya fungsi spiritual, bukan fungsional. Ia berkedip-kedip tanpa arah, kadang kiri menyala padahal belok kanan, kadang menyala terus sampai dua kilometer seperti lampu hajatan yang lupa dimatikan. Saya sendiri sering belok mendadak tanpa tanda apa pun, berharap orang di belakang bisa membaca pikiran saya. Telepati lalu lintas. Ilmu langka.

Di balik setir mobil, saya baru menyadari betapa menyiksanya menebak kehendak motor di depan. Dia mau belok? Lurus? Putar balik? Tiba-tiba berhenti karena ingat belum beli galon? Setiap motor di depan terasa seperti kotak misteri. Jawabannya baru ketahuan setelah rem mobil saya berbunyi ciiit.

#3 Spion cuma buat menata rambut

Spion motor, secara kodrati, adalah cermin untuk memastikan helm tidak miring dan wajah masih layak tampil. Fungsi sekundernya, yaitu melihat kendaraan di belakang, jarang saya pakai. Saya lebih percaya pada naluri dan doa ibu.

Sekarang saya paham kenapa pengemudi mobil bisa mendadak mengklakson panjang, tiiiin! Padahal saya cuma mau menyalip. Dari dalam mobil, motor yang muncul tiba-tiba dari titik buta itu terasa seperti hantu. Bukan karena mobilnya jahat, tapi karena memang ada bagian dari dunia yang tidak bisa mereka lihat. Dan kalau kita ada di bagian itu, kewajiban untuk menyingkir ada pada kita, bukan pada mereka.

#4 Pengendara motor merasa paling dirugikan sedunia

Ini dosa paling licik. Dulu, kalau ada mobil memberi klakson, saya langsung menggerutu dalam hati, “Sombong banget, mentang-mentang mobil.” Kalau ada mobil menyempit, saya balas dengan tatapan sinis ala sinetron. Saya selalu merasa jadi korban, padahal seringkali justru saya yang bikin ulah.

ADVERTISEMENT

Mental korban ini nyaman sekali. Ia membuat kita merasa benar terus, bahkan ketika sedang melawan arus, naik trotoar, atau menerobos lampu merah yang sudah merah sejak zaman Majapahit. Baru setelah saya ikut membawa mobil, saya sadar bahwa banyak “kesombongan” itu cuma ketakutan. Pengemudi mobil takut menyenggol kita, dan sering kali mereka yang akan ditanya duluan, “Kamu kok nabrak orang?”, sekalipun yang menyalip dari kiri adalah kita.

Bukan berarti pengemudi mobil suci

Biar adil, saya harus bilang, kalau pengemudi mobil juga punya dosa. Ada yang parkir sembarangan, ada yang membuka pintu tanpa menoleh, ada yang menyalakan sein kanan lalu belok kiri sambil tertawa. Kalau sudah begitu, motor yang jadi korban duluan. Jadi tulisan ini bukan penghakiman, apalagi kampanye “motor jahat, mobil malaikat”.

Akan tetapi, satu hal yang saya pelajari di balik setir mobil: kebanyakan kita, para pengendara motor, terlalu lama merasa jalan raya itu panggung solo. Kita menyalip, memotong, dan melesat seolah-olah semua orang lain cuma figuran yang harus menyingkir. Padahal jalan raya itu ensembel. Kalau ada satu yang main sendiri, nada kolektifnya pasti sumbang, treeet, tiiin, ciiit, lalu berhenti oleh sesuatu yang lebih keras dari klakson.

Saya belum jadi pengemudi mobil yang hebat. Masih sering ragu, masih grogi di perempatan, masih sesekali mematikan mesin di tanjakan, dan masih diklakson tukang ojek yang sepertinya punya dendam turun-temurun. Tapi saya sudah jadi pengendara motor yang lebih baik, karena sekarang saya tahu rasanya jadi orang yang tidak terlihat.

Jadi, buat kalian para pengendara motor yang masih merasa semua sela adalah milik pribadi, mungkin sudah waktunya ikut belajar mobil, barang dua minggu saja. Bukan supaya jago nyetir, tapi supaya tahu rasanya kaget melihat spion kiri tiba-tiba terisi sesosok manusia.

Setelah itu, percayalah, sein kamu akan menyala tepat waktu. Insya Allah.

Penulis: Sayyid Muhamad
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi  dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Sayyid Muhamad

Santri penuh waktu, mahasiswa separuh waktu, insyaallah warga negara Indonesia seumur hidup.