ADVERTISEMENT

Terpaksa menghapus riwayat pendidikan S2 di CV, berat tapi harus dilakukan demi dapat kerja

Terpaksa menghapus riwayat pendidikan S2 di CV, berat tapi harus dilakukan demi dapat kerja Mojok.co

Ada yang mengganggu pikiran saya setiap kali memperbarui Curriculum Vitae (CV). Selain menyusun CV agar terlihat menarik dan ramah terhadap Applicant Tracking System, saya selalu bertanya-tanya, perlukah menghilangkan riwayat pendidikan S2? Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti dan tenaga kerja yang kompetitif di negeri ini. 

Pertanyaan itu muncul setelah saya mendengar cerita sejumlah lulusan S2 memilih menanggalkan riwayat pendidikan magisternya ketika melamar pekerjaan. Alasannya, mereka khawatir dianggap overqualified oleh perusahaan

ADVERTISEMENT

Saya yang baru saja lulus S2 dan hingga sekarang masih mencari pekerjaan, memahami alasan tersebut. Namun, bagi saya pribadi, rasanya berat membayangkannya. Gelar tersebut didapat penuh susah payah dan perjuangan, mengorbankan waktu dan tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Semua harus ditanggalkan demi mendapatkan kesempatan wawancara.

Saya pun pernah mengalaminya. Saya tidak mencantumkan gelar S2 di CV. Lalu, saat wawancara saya menyampaikan bahwa saya baru lulus S2. Gesture dan ekspresi dari pewawancaranya langsung terlihat berbeda. Namun, di sisi lain, saya merasakan betul betapa eman-emannya ketika gelar S2 tidak dicantumkan di CV.

Gelar tidak diperoleh dengan mudah, apalagi kalau kuliah pakai biaya sendiri

Siapa saja yang pernah menjalani kuliah S2, pasti memahami bagaimana beratnya memperoleh gelar magister. Ada tugas kuliah yang berat, jurnal yang harus dibaca, penelitian yang perlu diselesaikan, hingga tesis yang membuat pikiran dan tenaga tersita begitu banyak. Semua itu butuh pengorbanan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Bagi saya yang menempuh pendidikan berkat beasiswa, mungkin sedikit beruntung. Meski kesulitannya tetap ada terutama soal bagaimana proses memperoleh beasiswa yang juga tidak mudah. Sementara bagi mereka yang menggunakan uang pribadi, maka ada uang yang harus disisihkan untuk membayar kuliah dan kebutuhan akademiknya.

Intinya, masing-masing memiliki perjuangannya sendiri untuk menempuh pendidikan magister. Karena itu, rasanya jadi ironi ketika sesuatu yang sebelumnya diperjuangkan, justru saat diperoleh harus dipertimbangkan untuk dihilangkan dari CV. Padahal, harapannya gelar S2 adalah nilai tambah. Namun, saat masuk dunia kerja, gelar itu malah dianggap jadi penghalang.

Agak paradoks memang. Negara mengakui bahwa SDM gelar S2 masih terbatas, yaitu hanya sekitar 900 ribu atau hanya 0,34 persen dari total penduduk. Namun,  bagi lulusannya, ada kekhawatiran bahwa gelar itu dirasa terlalu tinggi kualifikasinya.

Saya tergabung dalam sebuah grup Whatsapp yang isinya adalah para lulusan S2 yang hingga sekarang masih kesulitan mendapat kerja. Kami punya perbedaan latar belakang pendidikan, tapi punya keresahan yang kurang lebih sama.

Banyak dari mereka yang mengakui harus menghilangkan pendidikan S2 dari CV ketika melamar kerja. Tujuannya supaya memperbesar peluang untuk mencapai wawancara.

ADVERTISEMENT

Apakah lulusan S2 selalu mengharapkan jabatan dan gaji tinggi?

Saya paham alasan perusahaan mempertimbangkan berulang kali kandidat yang dianggap overqualified. Mereka khawatir mengenai ekspektasi gaji, ketidakcocokan dengan posisi pekerjaan, atau loyalitas ketika memperoleh tawaran lebih baik. Saya rasa itu masuk akal dari sudut perusahaan.

Akan tetapi, kami sebagai lulusan S2 juga tidak mengharapkan langsung mendapatkan gaji tinggi dan menduduki jabatan manajerial yang strategis. Ada banyak dari kami yang tidak masalah memulai karir dari staf demi mendapatkan penghasilan yang layak untuk kebutuhan hidup.

Bukankan soal gaji, motivasi, dan kesediaan bekerja pada sebuah posisi bisa digali langsung saat wawancara? Mengapa harus khawatir dengan sebuah gelar yang tertulis di CV tanpa digali lebih dalam. Bukankah yang paling utama adalah soal pengalaman, keterampilan, dan kesesuaian kompetensi?

Rasanya kurang adil jika gelar pendidikan yang lebih tinggi justru menjadi alasan untuk mengendurkan ketertarikan kepada kandidat sebelum keterampilan dan kemampuannya dinilai.

Pada akhirnya, saya paham bahwa menyesuaikan CV adalah bagian dari strategi mencari kerja. Namun, menurut saya, agak menyedihkan jika kesempatan membuktikan kualitas diri itu lenyap hanya karena pendidikan saya dianggap terlalu tinggi.

Sebab, setelah mencurahkan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran untuk menyelesaikan pendidikan magister, berat rasanya bagi saya sebagai pencari kerja harus memulai dengan “membuang” salah satu pencapaian yang pernah saya perjuangkan dengan susah payah.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.