Memilih jalur pendidikan setelah lulus sekolah memang sering bikin kepala pening. Di satu sisi, program Diploma 3 (D3) selalu diiming-imingi kelulusan cepat dan siap kerja. Di sisi lain, gelar Sarjana (S1) masih menjadi standar emas di banyak lapangan pekerjaan. Pertanyaannya, apakah kuliah D3 sebenarnya masih cukup relevan di masa sekarang?
Jujur saja, jika saya bisa memutar waktu, saya mungkin akan berpikir dua kali sebelum memutuskan ambil D3. Pengalaman pribadi dan realita lapangan menunjukkan bahwa selisih waktu kuliah yang hanya satu tahun sering kali tidak sebanding dengan batasan karier yang harus dihadapi kemudian.
Bagi kamu yang saat ini sedang bimbang memilih antara D3 atau langsung S1, ada beberapa pertimbangan krusial yang perlu dipikirkan matang-matang. Berdasarkan apa yang saya lalui, inilah alasan mengapa mengambil S1 sejak awal jauh lebih efisien.
#1 Dilema alih kredit dan beban waktu
Ketika lulus D3 dan ingin melanjutkan ke jenjang S1, proses alih kredit atau transfer nilai ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kebijakan tiap kampus berbeda-beda, dan tidak semua mata kuliah yang pernah saya ambil di D3 bisa langsung diakui. Akibatnya, saya harus mengambil beberapa mata kuliah matrikulasi tambahan yang cukup menyita waktu.
Jika jurusan yang diambil di jenjang S1 masih linear dengan D3, proses lanjut jenjang ini memang biasanya memakan waktu sekitar 1 hingga 2 tahun. Namun, masalah besarnya adalah ketika kita berniat pindah jurusan atau tidak linear. Waktu penyetaraan bisa membengkak hingga 2 sampai 3 tahun. Akhirnya membuat durasi total kuliah jauh melebihi masa studi S1 reguler.
#2 Setelah D3 lanjut S1, biayanya jadi membengkak dan tidak efisien
Dari segi finansial, skema kuliah D3 lalu lanjut S1 jelas memakan biaya yang jauh lebih besar. Saya harus membayar uang pangkal atau uang gedung dua kali. Pertama, saat masuk D3, dan kedua saat mendaftar program alih jenjang S1. Belum lagi ditambah biaya operasional semesteran yang terus berjalan selama kurun waktu tersebut.
Kalau ditotal-total, pengeluaran untuk skema dua kali kuliah ini jauh lebih mahal dibandingkan membayar satu paket program S1 dari awal hingga lulus. Menghabiskan uang berlebih hanya untuk mendapatkan status gelar yang sama rasanya menjadi sebuah investasi yang kurang bijak dan membakar dompet.
#3 Batasan karier dan standar pasar kerja
Harus diakui secara jujur bahwa dunia kerja masih memiliki preferensi yang kuat terhadap lulusan S1. Banyak posisi strategis, program management trainee alias MT hingga persyaratan jenjang karir di instansi pemerintah maupun swasta yang mengunci syarat minimal pendidikan pada level sarjana.
Meskipun lulusan D3 dibekali keterampilan praktis yang matang, plafon karir dan besaran gaji awal sering kali dibatasi oleh tingkatan ijazah. Berada di posisi di mana kemampuan teknis sudah memadai namun terhalang syarat administratif gelar tentu menimbulkan rasa frustrasi tersendiri.
Jadi, ketimbang membuang waktu dan biaya untuk proses alih kredit yang berbelit-belit di kemudian hari, memilih langsung jalur S1 sejak awal adalah keputusan yang jauh lebih taktis dan hemat energi.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pilih Kuliah D3 karena Realistis Ingin Cepat Kerja, Malah Disangka Malas Nggak Punya Cita-cita dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.