ADVERTISEMENT

Surabaya mengajarkan saya cara berdamai dengan jalanan ruwet dan pengendara yang semrawut

Surabaya mengajarkan saya cara berdamai dengan jalanan ruwet dan pengendara yang semrawut Mojok.co

Salah satu yang saya syukuri dalam hidup adalah ketika merantau ke Surabaya. Saya harus berterima kasih pada kota ini. Sebab, selama dua tahun hidup di sana, saya mendapat banyak nilai dan keterampilan hidup di jalan yang boleh jadi tidak saya temukan di tempat lain. 

Sebut saja soal kesabaran, ketangkasan, kelihaian, keberanian, hingga kemampuan membaca situasi yang seringkali tidak masuk akal. Saya sebut tidak ditemukan di kota lain karena saya merasakan pengalaman berbeda ketika hidup di Jakarta dan Semarang. 

ADVERTISEMENT

Jakarta memang terkenal dengan kemacetan dan ketersinggungan di jalan rasa.Sementara semarang, setidaknya dari pengalaman saya, menawarkan ketertiban yang lebih kental di jalanan. Memang ada ruas jalan seperti Tlogosari dan Pedurungan yang dianggap ruwet, tapi menurut saya tidak mendominasi. Saya lebih banyak berpapasan dengan pengendara yang patuh dan tertib.

Di sisi lain, Surabaya memberikan cerita yang berbeda Kota ini punya caranya sendiri untuk memastikan kemampuan berkendara warganya terus berkembang.

Jalanan Surabaya adalah sekolah mengemudi tingkat lanjut

Salah satu pelajaran yang saya dapati adalah pentingnya mengambil keputusan dengan tepat dan cepat ketika berkendara. Pengalaman saya membuktikan itu, misalnya ketika melintasi Jalan Ahmad Yani dengan jalur utama dan frontage road-nya.

Di sana, mengetahui alamat tujuan saja belum cukup. Saya yang beberapa kali melalui jalan ini harus memastikan berada di jalur yang benar. Sebab kalau terlanjur berada di jalur yang tidak memiliki akses langsung ke tempat yang dituju, saya harus terus melaju mencari tempat putar balik yang diperbolehkan. Setelah itu, barulah mencari jalan masuk yang sesuai. Selain kesabaran, perencanaan dan kefokusan berkendara jadi sangat dilatih.

Pelajaran tentang kehidupan lainnya saya peroleh salah satunya ketika melalui jalur utara Surabaya menuju Gresik. Mulai dari kawasan Kalianak, Greges, Tambak Langon, Tambak Osowilangun, hingga Romokalisari.

Saya pernah menuliskan bagaimana jalur ini diisi truk tronton dan kendaraan logistic berukuran besar. Sebagai pengendara motor, saya jadi belajar bahwa mengandalkan kelincahan dan keberanian saja tidak cukup. Seringkali saya harus mencari ruang di tengah kepadatan kendaraan besar, sambil memastikan posisi saya tidak berada di titik buta truk.

Berkat pengalaman itu, saya jadi belajar soal keseimbangan dalam mengambil keputusan. Jangan terlalu berani, tapi nggak boleh ragu-ragu. Tentu ilmu ini bermanfaat kedepannya untuk saya dalam mengambil keputusan hidup, bukan?

Dalam situasi begitu, saya jadi belajar untuk semakin rajin mengingat Tuhan. Sebab melihat truk tronton di kanan dan kiri adakalanya membuat dzikir dan doa yang jarang diucapkan terasa lebih lancar. Tentu keberanian jadi ada batasnya karena saya tidak mau berakhir mengenaskan di kolong truk tronton itu.

ADVERTISEMENT

Belajar kesabaran

Soal pelajaran kesabaran, saya juga mendapatkannya di banyak ruas di Surabaya. Salah satunya ketika melalui Jalan Mastrip. Melewati jalur ini pada jam-jam sibuk akan menantangmu dalam hal pengendalian diri, baik pengendalian diri untuk mengumpat, menyerobot, atau mengklakson tanpa henti karena ada yang lawan arus.

Di sana saya bisa melihat pengendara yang berusaha mengambil celah, berpindah lajur, atau mendahului kendaraan lain demi menghemat beberapa detik perjalanan. Yang bikin menarik, setiap usaha yang mereka lakukan kadang tidak membawa hasil yang sesuai harapan. Bukannya terbebas dari keruwetan, mereka malah menciptakan keruwetan baru.

Dalam momen seperti itu, saya jadi memahami bahwa tidak semua perjuangan berakhir dengan kemajuan. Adakalanya malah apes. Pada akhirnya saya jadi belajar tidak terburu-buru, bersabar, mengendalikan diri, dan tidak berekspektasi pada manusia. Mau berharap apa? Wong sama-sama susah kan?

Di jalanan tengah kota seperti Jalan Basuki Rahmat dan pertemuan arus menuju Panglima Sudirman, saya juga mendapatkan perjalanan penting misalnya, kemampuan membaca gerak-gerik pengendara.

Jadi saat kendaraan harus berpindah jalur misalnya, saya harus memperhatikan bukan hanya kendaraan yang ada di depan, tapi juga kendaraan di samping yang bisa jadi mendadak ingin mengambil jalur yang sama.

Apalagi kalau ada kendaraan yang baru menyalakan lampu sein ketika kendaraannya berbelok. Saya kadang bingung, apa fungsi lampu sein kalau dinyalakan ketika sudah berbelok. Tapi ya sudah, itu membuat saya belajar menguatkan intuisi dalam membaca pergerakan pengendara lainnya di jalanan.

Surabaya juga mengajarkan arti toleransi yang luar biasa

Pelajaran yang tidak kalah penting selama berkendara di Surabaya adalah saya semakin memahami arti toleransi. Ketika pengendara melawan arus, saya menghindar. Ketika seseorang menyerobot antrean di pom bensin, saya mengalah. Bahkan ketika kendaraan tiba-tiba memotong jalur, ya saya terpaksa ngerem untuk menghindari benturan. 

Luar biasa memang, saya yang mencoba mematuhi aturan di jalan kadang yang harus lebih banyak bersabar. 

Tentu semua itu bukan hanya salah para pengendara. Ada persoalan penataan jalur-jalur yang membingungkan, akses putar balik yang tidak praktis, serta persimpangan dengan pergerakan kendaraan yang ruwet turun mempengaruhi kenyamanan. Tapi, sekali lagi, tidak apa-apa, semua itu memberikan saya pelajaran hidup yang berarti.

Saya tidak sungkan untuk berterima kasih kepada Surabaya. Kota ini membuat saya makin sabar, waspada, dan terampil menghadapi berbagai kemungkinan di jalan rasa. 

Hanya saja, yang ingin mengajukan satu pertanyaan. Mengapa pengendara yang sudah berusaha tertib justru harus terus belajar berdamai dengan ketidaktertiban? Agaknya itu hanya bisa dijawab oleh para pemangku kebijakan. Mungkin memang warganya diminta memaklumi kekacauan.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA  10 alasan Surabaya menjadi kota terbaik di indonesia untuk hidup sampai pensiun dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

 

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.