Orang asli Bogor seperti saya merasa daerah ini makin lama makin tak nyaman. Belakangan ini Kota Hujan lebih terasa seperti seperti wajan raksasa yang dipenuhi angkot ngetem dan kemacetan nirfaedah. Suhu kotanya memanas, tata ruangnya semrawut, begitu pula sumbu emosi warganya yang dipaksa berbagi jalan dengan lautan pendatang di akhir pekan.
Itu mengapa, ketika nasib membawa saya merantau ke Tasikmalaya, saya sudah bersiap menghadapi kerasnya hidup di kota orang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kota ini perlahan berhasil menjinakkan urat leher saya yang tegang setiap harinya.
Tasikmalaya dengan segala kesederhanaannya, diam-diam menampar kesombongan orang-orang yang datang dari Jabodetabek seperti saya. Di sini, saya menemukan apa yang oleh kaum urban sering diromantisasi sebagai slow living.
Tasikmalaya yang mengajarkan slow living
Bedanya, slow living di Tasikmalaya bukanlah estetika gaya hidup yang menuntut kalian untuk membeli pakaian linen mahal atau bermeditasi di vila eksklusif. Slow living adalah setelan pabrik dari kota itu sendiri. Waktu seolah berjalan dengan gigi satu. Kendaraan melaju santai, jalanan jarang terkunci oleh kemacetan yang membuat putus asa. Orang-orang di Tasikmalaya juga tidak terlihat sedang dikejar penagih utang atau tenggat waktu yang mengancam nyawa.
Keterkejutan budaya paling besar tentu saja ada pada tutur bahasanya. Secara geografis, Bogor dan Tasikmalaya sama-sama berada di tatar Pasundan. Namun, bahasa Sunda di Bogor sudah lama berakulturasi dengan kultur komuter metropolitan yang keras, blak-blakan, dan bersumbu pendek.
Di Tasikmalaya, saya berhadapan dengan bahasa Sunda Priangan yang ritmenya begitu mengalun, sopan, dan terlampau halus. Mendengar warga lokal berbicara, bahkan saat mereka sedang tawar-menawar harga atau berdebat kecil sekalipun, rasanya seperti sedang diusap-usap punggungnya.
Perlahan, tanpa disadari, saya yang terbiasa bersikap defensif, memasang wajah garang, dan gampang mengumpat di jalanan Bogor, mulai berubah. Saya menjadi sosok yang anehnya lebih pemaaf. Saya jadi jarang memencet klakson panjang ketika ada motor yang memotong jalan. Emosi yang biasanya gampang mendidih kini lebih cepat menguap begitu saja.
Akan tetapi, jika kita mau sedikit sinis, di sinilah letak ironi terbesarnya. Ketika saya merasa bangga telah berubah menjadi pribadi yang “berhati lembut” dan menemukan kedamaian batin, saya tersadar apakah saya benar-benar mengalami pencerahan spiritual menjadi manusia yang lebih baik? Atau sebenarnya saya hanya sedang berada di lingkungan yang absen dari kekerasan tata kota?
Kita yang datang dari area metropolitan sering kali keliru memaknai ketenangan di kota kecil. Kita menyebutnya sebagai “proses penyembuhan”. Padahal kenyataannya, kita hanya sedang dipindahkan dari lingkungan yang brutal.
Daerah yang lebih manusiawi
Tasikmalaya tidak memiliki mantra magis yang mengubah kepribadian seseorang menjadi malaikat. Kota ini sekadar memperlakukan warganya sebagaimana mestinya manusia diperlakukan. Manusia yang tidak dipaksa menua di jalanan akibat kemacetan lalu lintas, tidak dibakar oleh suhu kota yang pohon-pohonnya habis ditebang demi komersialisasi, dan tidak dituntut untuk terus bersikap buas hanya agar tidak diinjak-injak oleh orang lain.
Di sisi lain, romantisasi ketenangan ini sesungguhnya adalah kemewahan yang bias dari kacamata seorang pendatang. Bagi saya, ritme santai Tasikmalaya adalah penawar racun yang menyegarkan dari hiruk-pikuk kota asal.
Akan tetapi, bagi sebagian warga lokal, slow living yang saya puja-puja ini mungkin sekadar realitas dari roda ekonomi daerah yang memang tidak berputar secepat di kota-kota besar. Kita yang datang dari luar menyebutnya “kedamaian yang hakiki”. Padahal, bagi mereka, bisa jadi itu hanyalah rutinitas yang tak punya banyak opsi untuk berlari lebih kencang.
Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa Tasikmalaya memang sukses membuat saya merasa betah dan berhati lembut. Namun, mari jujur pada diri sendiri. Kelembutan hati itu bukanlah sebuah pencapaian moral yang patut disombongkan. Ia hanyalah pembuktian yang menyedihkan bahwa selama ini, di kota asal yang katanya menenangkan itu, kewarasan kita sebenarnya sedang dihancurkan pelan-pelan oleh tata kota kita sendiri.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Berkat Pengalaman Tinggal di Jogja, Saya Selalu Bersyukur Setiap Pulang ke Tasikmalaya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.