ADVERTISEMENT

7 ketidaktaatan berkendara orang Jogja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain

7 ketidaktaatan berkendara orang Jogja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain Mojok.co

Saya lumayan sering mendengar warga kota lain memuji warga Jogja yang bisa menahan diri untuk nggak main klakson ketika berada di jalan raya. Menurut mereka, jalanan di Jogja jadi lebih tentram berkat nggak adanya suara klakson.

Tapi saya mulai bertanya-tanya, apakah dengan tanpa klakson yang berbunyi di lampu merah di menjamin berkendara aman dan nyaman di Jogja? Apakah warga Jogja yang mampu menahan diri untuk nggak tan-tin-tan-tin juga bisa menahan diri untuk tetap mematuhi aturan berkendara?

ADVERTISEMENT

Sebagai pengguna jalan di Jogja yang berperan sebagai pejalan kaki, pesepeda, pemotor, dan penumpang bus, saya sudah menyaksikan perilaku berkendara orang Jogja yang ngawur dan membahayakan, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Bahkan perilaku-perilaku yang mudah ditemukan di jalanan Jogja ini sukses membuat saya berpikir ketaatan berkendara di Jogja adalah sebuah anomali.

#1 Orang Jogja belok dari gang ke jalan raya tanpa menengok

Fenomena ini bisa kalian temukan di hampir semua titik di Jogja, mengingat Jogja punya banyak sekali gang dan jalan kecil. Banyak banget pengendara di Jogja, yang didominasi oleh motor, berbelok dari gang menuju jalan raya tanpa berhenti, tengok kondisi jalan, lalu melaju. Mereka beranggapan menyalakan lampu sein sudah cukup.

Kita yang melintasi di jalan raya dan kebetulan berada di belakang kendaraan tersebutlah yang seakan-akan harus mengerti dan mengalah. Padahal, beruntung bagi mereka jika kendaraan di belakangnya sesama sepeda motor yang bisa bermanuver secara mendadak. Bayangkan jika kendaraan yang ada di belakangnya adalah bus atau truk yang menyingkir sedikit nggak bisa, ngerem mendadak pun membahayakan kendaraan lain.

#2 Ngebut saat melintasi lampu APILL

Saya punya pengalaman menyebalkan soal hal ini yang terjadi saat masih SMA. Saya paling anti-menerobos lampu merah karena pernah menyaksikan tabrakan seorang pengendara yang nyelonong. Alhasil, tiap lampu kuning sudah menyala, saya akan menurunkan kecepatan motor dan memilih untuk berhenti. Dan saya nggak ngerem secara mendadak pula.

Tapi kejadian pada saat itu, seorang pengendara menabrak saya dari belakang ketika saya berhenti di Pertigaan Jati Kencana. Beliau langsung memaki-maki saya dan mempertanyakan kenapa saya berhenti. Saya langsung kaget dan bingung, bukankah saya korban sekaligus pengendara yang taat di sini?

Dan kejadian semacam ini terjadi berulang-ulang di Jogja, walaupun nggak saya alami secara langsung. Bahkan banyak kok berita yang meliput kecelakaan karena ngebut saat melintasi lampu APILL demi nggak kena lampu merah. Pertanyaannya, kenapa sih pengendara di Jogja buru-buru banget? Jangan cuma waktu yang disayang-sayang. Nyawa kalian juga tuh disayang.

#3 Mobil dan motor mengambil hak pesepeda

Jogja punya julukan Kota Sepeda sejak tahun 1950-an karena masyarakatnya sering menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Lalu pada 2008, muncul gagasan Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (Sego Segawe) dari Pemkot Yogyakarta. Berangkat dari gagasan itu, nggak lama setelahnya mulai dibuat jalur khusus sepeda di berbagai ruas jalan di Jogja.

Tapi apakah jalur sepeda ini benar-benar bisa memfasilitasi pesepeda? Atau tetap membuat pesepeda celaka dan mengalah pada kendaraan yang lebih besar?

ADVERTISEMENT

Sebagai pesepeda sejak tahun 2012, sudah nggak bisa dihitung dengan jari berapa kali saya diklakson kendaraan dari belakang maupun sengaja hampir diserempet saat melintas di jalur sepeda. Padahal, saya sudah melaju semepet mungkin dengan trotoar. Saya masih beruntung nggak terluka.

Tapi coba tebak, apakah ada pesepeda yang tewas karena ditabrak kendaraan bermotor lain di Jogja? BANYAK! Bukan cuma warga sipil, nyawa mantan Kadishub DIY yang naik sepeda untuk mengecek lalu lintas pun tak luput dari ngawurnya perilaku pengendara di Jogja.

#4 Mobil ambil jalur lambat karena nggak mau antre

Mumpung Jogja lagi panas-panasnya, cobalah untuk menguji tingkat kesabaranmu dengan merasakan keegoisan pengendara mobil di ringroad. Di banyak titik di ringroad Jogja, pengemudi mobil yang egois akan mengambil jalur lambat yang diperuntukkan bagi motor dan kendaraan yang mau berbelok. Alasannya karena mereka nggak mau kena antrean panjang di jalur cepat saat lampu sedang menyala merah.

Akibatnya, di titik ini sering banget terjadi kemacetan karena jalur lambat cuma muat satu mobil, sementara kendaraan yang mau berbelok ke kiri itu banyak. Apa ya hukumnya menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, Pak Ustad?

#5 Berhenti di luar garis marka sewaktu menunggu lampu merah

Mungkin saya akan dihujat karena mengungkapkan fakta ini. Saking sudah mengakarnya kebiasaan buruk ini, banyak orang merasa hal ini bukan lagi sebuah pelanggaran.

Saya nggak perlu sebut titik atau nama jalan, ya. Saya yakin kalian pernah menyaksikan pengendara berhenti di luar garis marka saat menunggu lampu merah. Entah itu di atas zebra cross maupun nyempil-nyempil ke jalur yang diperuntukkan bagi kendaraan yang mau belok ke kiri.

Aturan berhenti di dalam garis marka sebenarnya sudah ada dalam undang-undang. Tapi apa sih yang bisa kita harapkan dari negara yang penegakan hukumnya rendah ini. Jadi, seenggaknya coba kita dipikir dengan otak dan hati deh. Kalau berhenti di luar marka seperti itu ngalangin kendaraan lain nggak? Kalau ada ambulans atau mobil pemadam kendaraan mau lewat, menyusahkan mereka nggak? Dan hak penyeberang jalan kalian ambil juga nggak? Nah, kalau jawabannya iya, maka jangan diulangi lagi.

#6 Menyalakan lampu jauh di lalu lintas ramai

Perilaku cuek yang merugikan pengendara lain di Jogja juga tampak dari masih banyaknya kendaraan yang menyalakan lampu jauh padahal berada di lalu lintas yang ramai. Kalian yang masih melakukan ini, tobat sekarang!

Menyalakan lampu jauh itu ada aturannya, bukan bisa dihidup-matikan seenaknya. Kalau lampu jauh dinyalakan di lalu lintas yang ramai, ini akan menyilaukan dan mengganggu pengendara dari arah berlawanan. Bayangin mata kalian disorot pakai senter. Sebal nggak? Bikin bisa melihat ke jalan di depan nggak?

Sesuai aturan, lampu jauh itu dinyalakan hanya di jalan satu arah yang sedang sepi atau hanya digunakan sebagai kode untuk mendahului kendaraan di depan.

#7 Menjadikan rambu dilarang parkir dan berhenti sebagai pajangan

Banyak orang bilang Jogja itu kotanya cantik. Dekorasi khas Jawanya membuat banyak orang jatuh hati. Tapi tahukah kalian, sebagian warga Jogja juga ada yang menjadikan rambu-rambu lalu lintas sebagai pajangan saja?

Satu titik yang paling sering terjadi pelanggaran adalah rambu dilarang parkir di Jalan Kahar Muzakir yang lokasinya berada di samping SMP Negeri 8 Yogyakarta dan di seberang SMA Negeri 6 Yogyakarta. Dari saya masih sekolah di sana sampai sudah lulus bertahun-tahun lamanya, masih ada kendaraan parkir di situ. Padahal di titik itu sering sekali ada penertiban. Tapi kok para pengendara nggak kapok-kapok, ya?

Semua hal yang saya sebutkan di atas termasuk pelanggaran, ya. Jangan membela dengan meromantisasi bahwa perilaku pengendara di Jogja nggak separah di kota lain. Atau yang paling parah, malah menutup mata dengan bilang, “Dari dulu juga sudah begitu.”

Ayolah, orang Jogja itu sudah punya image santun. Jangan sampai kota kita tercinta ini jadi mendapatkan stereotip dan stigma bahwa pengendaranya ugal-ugalan dan nggak taat aturan. Caranya dimulai dari kita. Tetaplah mematuhi aturan meskipun perilaku berkendara orang lain awur-awuran.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 tukang di Jogja yang sebentar lagi punah dan cuma ada di cerita dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki