ADVERTISEMENT

Hidup orang Jateng di Planet Bekasi: dimanjakan transportasi murah, dibuat rindu masakan kampung dan bahasa Jawa

Hidup orang Jateng di Planet Bekasi: dimanjakan transportasi murah, dibuat rindu masakan kampung dan bahasa Jawa

Sebelum berangkat merantau dari Jawa Tengah ke Bekasi, isi kepala saya sudah dipenuhi dengan berbagai warning dari internet. Mulai dari meme “Planet Bekasi”, cerita lalu lintas yang keras, sampai isu cuaca panas yang katanya sanggup menguji iman.

Sebagai orang Jateng, jujur saya sudah bersiap mental buat menghadapi skenario terburuk. Tapi begitu benar-benar menetap di sini, kenyataannya malah bikin tersenyum tipis. Ternyata nggak se-horor yang sering dibercandain orang-orang di sosmed. Soal cuaca? Ah, Jateng juga banyak daerah yang panasnya mirip-mirip kok. Warganya? Justru ramah-ramah dan to the point.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, yang namanya hidup di perantauan pasti ada plus-minusnya sendiri. Ada hal-hal di Bekasi yang bikin saya bersyukur banget tinggal di sini, tapi di sisi lain, ada juga beberapa momen kocak dan penyesuaian yang bikin saya kangen kampung halaman.

Keunggulan Bekasi: transportasinya murah dan serba ada!

Satu hal yang paling bikin saya kagum dan bersyukur tinggal di Bekasi adalah sistem transportasinya. Buat perantau yang irit kayak saya, Bekasi itu benar-benar juara!

Mau ke mana-mana gampang dan sangat ramah di kantong. Ada KRL Commuter Line yang siap mengantar sampai pelosok Jakarta dengan tarif cuma beberapa ribu rupiah. Belum lagi deretan angkot, bus kota, hingga feeder yang gampang diakses di mana-mana. Di kampung halaman, kalau nggak punya kendaraan pribadi, kita sering bingung mau mobilitas ke mana-mana.

Sementara di Bekasi, asal tahu rutenya dan mau mempelajari jalurnya, modal ongkos ekonomis sudah bisa membawa kita keliling kota dengan tenang tanpa perlu pusing mikirin bensin.

Kangen makanan kampung halaman

Nah, masuk ke fase ujian paling berat bagi seorang perantau: soal lidah dan selera makan.

Walaupun warganya ramah-ramah dan tempat makan melimpah di setiap sudut jalan, lidah Jawa Tengah saya tidak bisa dibohongi. Saya kangen banget sama cita rasa masakan rumah dan kuliner Jateng yang punya perpaduan manis, gurih, dan lekoh yang pas.

Di Bekasi memang banyak warung makan, soto, bahkan gudeg. Namun, rasanya kurang otentik atau kurang ‘nendang’ di lidah. Kadang pas lagi makan malam sendirian di kosan, tiba-tiba pikiran melayang membayangkan soto lokal langganan, bakso urat, atau angkringan di Jateng dengan harga murah meriah dan rasa yang bikin hangat di dada.

Drama refleks ngomong Jawa dan momen blunder di Bekasi

Ini nih bagian yang paling kocak sekaligus kerap bikin canggung dalam kehidupan sehari-hari. Di Jateng, ngomong bahasa Jawa itu kan sudah kayak default setting di pikiran. Begitu pindah ke Bekasi, otak saya kadang terlambat melakukan “transfusi bahasa” dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia atau gaya bahasa lokal.

ADVERTISEMENT

Hasilnya? Tentu saja blunder.

Sering banget pas lagi asyik ngobrol sama teman atau bapak-ibu penjual warung di Bekasi, refleks bahasa Jawa saya keluar tanpa permisi. Maksud hati mau bilang “Nggih”, “Amit?”, atau celetukan “Piye?”, eh yang diajak ngobrol cuma bisanya ketawa bingung atau mengerutkan dahi karena tidak paham. Di momen-momen canggung kayak gitu, saya cuma bisa cengengesan sambil membatin: “Duh, lupa kalau ini Bekasi, bukan Solo atau Semarang!”

Rumah baru yang tetap bikin kangen rumah lama

Merantau dari Jateng ke Bekasi memberikan pengalaman hidup yang sangat unik. Bekasi punya kenyamanan tersendiri lewat keramahan warga lokalnya dan kemudahan akses transportasinya yang terjangkau. Kota ini sangat layak dijadikan tempat untuk berjuang dan mengadu nasib bagi anak muda.

Tapi di sisi lain, merantau juga menegaskan satu hal penting: sejauh apa pun kita melangkah dan senyaman apa pun kota baru yang kita singgahi, aroma masakan kampung dan kehangatan bahasa daerah sendiri akan selalu punya tempat khusus yang tak tertandingi di dalam dada.

Penulis: Geget Fauziati Imani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2026 oleh .

Geget Fauziati Imani

Penulis pemula yang suka mengamati kejadian sehari-hari, terutama hal-hal yang terlihat biasa tetapi menyimpan cerita menarik. Percaya bahwa terkadang realitas lebih lucu daripada komedi.