Informasi
ADVERTISEMENT

Selain kota parkir, Purwokerto layak mendapatkan julukan kota 1001 lampu merah

7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu Terminal

Belakangan ini, saya mulai sadar bahwa Purwokerto sudah tidak lagi dipandang sebagai kota kecil yang sepi, adem, dan hidupnya slow living. Kotanya berkembang, kendaraan semakin banyak, tempat nongkrong semakin ramai, dan ya tentu saja masalah perkotaan ikut tumbuh bersama semuanya.

Salah satu yang belakangan cukup sering dibicarakan adalah urusan parkir. Mau makan kena parkir, beli jajan kena parkir, mampir warung sebentar kena parkir. Kadang rasanya belum sempat menikmati barang yang dibeli, sudah lebih dulu memikirkan uang parkir.

Persoalan parkir ini tidak sesederhana berbagi rezeki ke tukang parkir. Kepala Seksi Perparkiran Dishub Kabupaten Banyumas, Fadhil Jamaluddin Nur Rozaq, pernah mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan evaluasi dan penertiban juru parkir secara berkala. Dari kegiatan tersebut ditemukan bahwa jumlah petugas parkir di lapangan ternyata jauh lebih banyak dibandingkan data yang tercatat.

Maka kalau ada orang yang iseng menjuluki Purwokerto sebagai kota parkir, ya memang benar adanya. Namun, saya merasa kota ini sebenarnya layak mendapatkan satu julukan tambahan, Purwokerto sepertinya juga pantas disebut sebagai Kota 1001 Lampu Merah.

Keburu tua di jalan Purwokerto

Entah kenapa belakangan saya merasa perjalanan di Purwokerto semakin akrab dengan kegiatan berhenti. Baru saja lampu hijau, tarik gas, jalan sebentar, eh ketemu lampu merah lagi. Berhenti. Hijau lagi, tarik gas lagi. Belum sempat menikmati angin Purwokerto, dari kejauhan sudah kelihatan tiang lampu merah yang seolah memberi kode untuk siap-siap menginjak rem lagi. Begitu terus sampai tujuan.

Saking banyaknya lampu merah, saya sampai mengibaratkan jalanan di Purwokerto itu seperti nonton YouTube yang banyak iklannya. Apakah kita nonton Iklan bonus video YouTube atau nonton YouTube yang banyak iklannya. Kalo iklan di YouTube kan masih bisa di skip, lah kalo lampu merah? Yang ada kita ditegur polisi dan kena surat tilang.

Saya kadang berpikir setengah usia saya mungkin dihabiskan untuk berhenti di lampu merah. Soalnya baru beberapa menit berkendara, sudah beberapa kali berhenti. Apalagi kalau rutenya melewati jalan-jalan utama yang punya banyak persimpangan.

Masalahnya, berhenti sekali mungkin tidak terasa. Dua kali masih bisa diterima. Tapi kalau perjalanan pendek harus berkali-kali berhenti, lama-lama waktu tempuhnya jadi ikut molor. Perjalanan yang kalau dibayangkan cuma sekitar 10 menit bisa berubah menjadi 20 menit, bahkan lebih kalau sedang ramai. Niat awal cuma mau pergi sebentar, pas pulang rasanya kaya habis mudik.

Belum lagi kalau sedang berangkat pada jam sibuk. Lampu hijau ternyata tidak selalu berarti langsung bisa jalan. Kendaraan di depan masih antre, beberapa motor baru mulai bergerak, mobil pelan-pelan maju, dan ketika akhirnya saya berhasil melewati persimpangan, tantangan berikutnya sudah menunggu beberapa ratus meter di depan. Benar sekali, lampu merah lagi.

Kalau sudah begini, estimasi waktu perjalanan di Purwokerto rasanya perlu ditambah satu variabel baru. Bukan cuma menghitung jarak dan kemacetan, tapi juga menghitung seberapa beruntung kita mendapatkan lampu hijau sepanjang perjalanan. Kalau sedang hoki, perjalanan terasa lancar. Kalau sedang apes dan dapat merah terus, ya sudah, nikmati saja.

Padahal ya salah saya juga

Tentu saya paham lampu lalu lintas dipasang bukan untuk menguji kesabaran warga Purwokerto. Keberadaannya jelas penting untuk mengatur arus kendaraan, apalagi sekarang jumlah kendaraan di Purwokerto juga semakin ramai. Saya juga tidak sedang mengusulkan agar semua lampu merah dicabut lalu setiap pengendara dipersilakan menentukan nasibnya sendiri. Bukannya perjalanan semakin cepat, yang ada malah semakin dekat dengan rumah sakit.

Tulisan ini sebenarnya cuma keluhan kecil dari saya yang lahir, besar, dan sampai sekarang masih wira-wiri di Purwokerto. Mungkin karena terlalu sering melewati jalan yang sama, saya jadi hafal betul rasanya berhenti dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya. Kadang menggerutu, kadang melihat jam berkali-kali, kadang juga menyalahkan lampu merah karena merasa perjalanan jadi lebih lama.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, lampu merah juga tidak pernah menyuruh saya berangkat mepet. Kalau kuliah masuk pukul 08.00 lalu saya baru keluar rumah pukul 07.50, rasanya agak kurang ajar kalau kemudian yang disalahkan justru lampu merah. Apalagi kalau sepanjang perjalanan malah berharap semua lampu mendadak hijau hanya karena saya sedang buru-buru. Lampu lalu lintas tidak tahu saya ada kelas, tidak kenal dosen saya, dan jelas tidak punya kewajiban membantu saya mengisi presensi tepat waktu.

Jadi ngerti makna “alon-alon asal kelakon”

Mungkin dari banyaknya lampu merah di Purwokerto ini saya justru perlu belajar memaknai ungkapan alon-alon asal kelakon. Kalau tahu perjalanan bakal banyak berhentinya, ya berangkat lebih awal. Kalau tahu jam tertentu jalanan ramai, ya bersiap lebih cepat. Tidak perlu kebut-kebutan hanya karena lima belas menit sebelumnya masih rebahan sambil merasa punya banyak waktu. Toh sampai tujuan dengan selamat jauh lebih penting daripada berhasil memangkas perjalanan beberapa menit dengan cara ngebut-ngebutan.

Jadi, meskipun saya tetap merasa Purwokerto layak mendapatkan julukan Kota 1001 Lampu Merah, mungkin keberadaan lampu-lampu itu sekaligus menjadi pengingat sederhana untuk saya sendiri. Jalanan tidak harus menyesuaikan dengan jadwal kita. Kadang justru kita yang perlu belajar mengatur waktu, mengurangi buru-buru, dan sedikit lebih sabar di perjalanan. Kalau besok saya telat lagi gara-gara kena lima lampu merah berturut-turut, ya mungkin saya akan tetap mengumpat sedikit. Namanya juga manusia.

Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Azzhafir Nayottama Abdillah

Mahasiswa Ilmu Politik yang memiliki pengalaman menulis selama 5 tahun. Memiliki minat riset dan pendidikan.