Setelah hiatus untuk tidak melakukan aktivitas ngopi pagi di angkringan, akhirnya saya kembali lagi. Dan ternyata itu menyenangkan.
Terhitung seminggu dua kali saya datang ke angkringan dekat rumah tiap pukul 08:30. Dan benar kata beberapa teman yang menjadi jurnalis, angkringan menjadi salah satu sumber informasi terkini.
Angkringan yang saya kunjungi memiliki panganan yang cukup lengkap. Mulai dari nasi bandeng, nasi teri, nasi pindang, bakmi, hingga capcay. Untuk camilan berupa gorengan, tidak sekadar tempe dan tahu goreng melainkan juga ubi, tempe gembus, hingga tape goreng. Camilan terakhir itulah menjadi alasan mengapa saya kembali ke angkringan ini.
Selain itu, ada pula berbagai aneka kerupuk, dari kerupuk yang sudah dimasukkan plastik hingga kerupuk kaleng. Sayangnya, kalau pagi datang ke angkringan ini, belum tersedia sate-satean seperti usus, ampela ati, dan puyuh. Sate-sate tersebut baru tersedia siang hari.
Urusan minuman, cukup lengkap khususnya kopi. Dari merek Good Day hingga yang paling umum, Kapal Api. Saya biasa memesan Good Day Coffee yang Coolin. Mendinginkan tenggorokan sebelum menjalani hari-hari yang panas di Jogja adalah sebuah pilihan tepat.
Ngopi 30 menit di angkringan, informasi penting saya kumpulkan
Kalimat terakhir di paragraf pertama adalah berkah bagi jurnalis. Cukup menyesal kopi hangat dan nguntal gorengan, kamu bisa mendapatkan beragam informasi. Salah satu informasi adalah kebahagiaan penjual angkringan.
Sejak ruas jalan sekitar Krapyak, Wedomartani, Sleman semakin bagus, omzetnya merangkak naik. Sebab, sebagian besar pekerja pasti memulai pagi dan memanfaatkan waktu istirahat di angkringan tersebut. Alhasil, bapak penjual perlu menyediakan tikar ketika kursi-kursi tidak lagi cukup.
Akan tetapi, hal kurang disukai oleh masyarakat yang melewati jalan tersebut. Sebab, perjalanan sedikit terhambat dan debu ada di mana-mana. Yaah, namanya kebijakan pemerintah, pasti ada yang untung dan ada yang rugi.
Informasi yang lain soal kriminal. Kebetulan ada salah satu warga yang ngopi di situ bercerita bahwa salah satu kantor dekat angkringan, dirampok. Barang-barang berantakan. Meja dan kursi dibalik, tetapi anehnya laptop dan komputer aman. Bahkan, setelah pemiliknya datang dan mengecek barang-barang, tidak ada satu pun yang hilang.
Usut punya usut, warga yang lain menganalisis bahwa si perampok tersebut mengincar uang tunai. Sayangnya, menurut pemilik kantor, uang tunai selalu dia bawa pulang saat jam kantor usai.
“Yang penting dapat uang cepat. Itu pastinya perampoknya butuh uang banget,” ujar salah seorang warga lainnya.
Belajar hal baru
Informasi lainnya adalah isu Gunung Merapi meletus. Konon, siklus 8 tahun akan terjadi pada 2026 ini. Pada 2010 terjadi letusan Gunung Merapi yang membuat masyarakat bahu membahu untuk membersihkan abu di Jogja, Jawa Tengah (Magelang dan Boyolali). Tahun 2018, peristiwa serupa hadir meskipun tidak sebesar 2010.
Nah, menurut beberapa warga yang ndilalah sopir truk pasir, ada kemungkinan Gunung Merapi meletus. Dan saat itu terjadi, berkah luar biasa hadir ke rekening mulai dari sopir truk, penambang, hingga warga yang berjualan di sekitar daerah tersebut. Lava panas dan disertai banjir memang bikin warga “kaya mendadak”.
Si sopir truk pasir mengatakan bahwa omzet sehari kantornya bisa sampai Rp50 juta/hari. Angka yang belum tentu terjadi andai Gunung Merapi tidak meletus. Maka, untuk mengelola aliran lava, pada bulan Agustus-September di sekitar sungai sudah ada aktivitas pengerukan. Bukan untuk mengambil pasir, melainkan sebagai jalan aliran lava.
Menurutnya, sejak peristiwa 2010, aliran lava perlu dapat lintasan yang benar agar tidak meluber ke jalan. Sehingga, andai hujan deras pun, aliran lava akan menuju ke hilir tanpa ada halangan. Dari situlah saya belajar ternyata peristiwa alam memberi makna kepada manusia sehingga manusia paham cara memanfaatkan “musibah” dengan bijak.
Dari angkringan saya menulis
Saya selalu percaya angkringan menjadi ruang publik tanpa sekat. Tidak akan ada yang peduli gelarmu, jabatanmu, atau kisah hidupmu. Selama orang masih suka nguntal gorengan, sate telur puyuh, dan nasi teri, semuanya akan duduk di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa.
Akan tetapi, dari situlah berjuta informasi. Kadang ada informasi bawah tanah sehingga ketika informasi itu diucapkan, respons kaki-kaki kami langsung melayang. Ada pula informasi yang katanya A1 beredar di sela-sela isapan sebatang kretek sehingga yang cukup tahu adalah orang-orang di sana saja.
Dan begitulah orang-orang yang berjumpa di angkringan. Barangkali akan ada banyak intel yang berwujud sopir, pedagang asongan, atau olahragawan nongkrong di angkringan. Namun, saya tidak peduli. Toh karena ngopi di angkringan pula, saya bisa menulis lagi di sini.
Penulis: Moddie Alvianto Wicaksono
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Menu Angkringan Jogja yang Membahayakan Pembeli, Jangan Lengah meski Murah!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














