Saat ditanya tentang culture shock pertama kali merantau di Jakarta, kebanyakan orang mungkin menjawab harga kos, macet, hingga biaya makan. Namun, bagi saya, culture shock yang sesungguhnya adalah tarif parkir SCBD Jakarta.
Sebagai orang Gunungkidul yang sempat kuliah dan bekerja di Jogja selama beberapa tahun, saya tumbuh dengan pemahaman parkir itu biaya receh. Memang ada beberapa tempat yang tarifnya lumayan mahal, terutama mal atau rumah sakit besar, tapi tetap saja rasanya masih masuk akal.
Sekitar 2018, saya bekerja di Lippo Plaza Jogja. Saat itu saya cukup familiar dengan tarif parkir di pusat perbelanjaan. Untuk motor, biasanya tarifnya Rp3.000 pada jam pertama, lalu bertambah Rp2.000 per jam berikutnya. Yang penting, ada batas maksimal. Umumnya sekitar Rp5.000 per hari.
Mobil juga kurang lebih sama. Tarif awal sekitar Rp5.000, lalu bertambah beberapa ribu rupiah setiap jam. Namun, tetap ada batas maksimal harian, biasanya Rp10.000 sampai Rp15.000 tergantung lokasi.
Jujur saja, pada masa itu saya sudah menganggap tarif seperti itu mahal. Maklum, saya berasal dari daerah yang terbiasa dengan parkir Rp2.000 seharian. Jadi ketika harus membayar Rp5.000 untuk menitipkan motor selama bekerja, rasanya sudah seperti dipalak secara profesional.
Tarif parkir di SCBD Jakarta lebih “gila”
Tahun 2019 saya diterima bekerja di Jakarta. Status saya waktu itu naik menjadi karyawan tetap setelah sebelumnya bekerja sebagai tenaga outsourcing di Jogja. Kesempatan itu tentu saya syukuri, meski proses perpindahannya penuh drama. Dalam waktu dua minggu saya harus mengurus tiket, mencari kos, dan mempersiapkan hidup baru di kota yang sebelumnya hanya saya lihat di televisi.
Saat pertama kali tinggal di Jakarta, saya belum membawa motor. Saya lebih banyak mengandalkan transportasi umum dan sesekali ojek online. Karena itu, urusan parkir belum terlalu saya pikirkan.
Sampai suatu hari saya melihat seorang teman membayar parkir motor sekitar Rp25.000. Saya ingat betul ekspresi saya waktu itu, “Lho, parkir motor kok segitu?”
Sebagai orang yang terbiasa dengan sistem parkir Jogja, angka itu terasa tidak masuk akal. Dalam pikiran saya saat itu, Rp25.000 bisa dipakai untuk makan. Bahkan, kalau sedang hemat, uang sebanyak itu bisa cukup untuk dua kali makan sederhana di Jogja.
Teman saya hanya tertawa. Katanya, itu hal biasa di Jakarta. Saya masih belum percaya. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian saya merasakannya sendiri.
Syok setelah mengalaminya sendiri
Sekitar 2023, saya bekerja di kawasan SCBD Jakarta. Saat itu saya sudah menggunakan motor untuk mobilitas sehari-hari. Alasannya sederhana saja, mengejar waktu.
Saya sering berpikir naik motor lebih praktis. Tidak perlu menunggu kendaraan umum, tidak perlu transit, dan terasa lebih fleksibel ketika harus berangkat pagi.
Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Sampai suatu sore saya keluar dari area parkir sebuah pusat perbelanjaan di kawasan SCBD Jakarta. Seperti biasa, saya menempelkan kartu Flazz dan menunggu palang terbuka.
Lalu saya melihat layar pembayaran yang menunjukkan angka Rp28.000. Saya sampai menatap layar itu beberapa detik untuk memastikan tidak salah baca. Iya, mata saya benar, dua puluh delapan ribu rupiah, untuk parkir motor!
Saat itu untungnya tidak ada antrean panjang di belakang saya. Jadi saya masih punya waktu untuk mencerna kenyataan hidup tanpa harus malu dilihat orang lain.
Dalam hati saya cuma bisa berpikir, “Ini motor saya dititipkan atau sekalian dikasih makan?” Barulah saya memahami perbedaan mendasar antara sistem parkir yang saya kenal di Jogja dan yang saya temui di banyak tempat di Jakarta.
Sistem parkir SCBD Jakarta agak berbeda
Tarif dasarnya memang mirip. Motor biasanya dikenakan biaya beberapa ribu rupiah pada jam pertama dan bertambah setiap jam berikutnya. Bedanya, banyak tempat di Jakarta tidak menerapkan batas maksimal harian.
Artinya, semakin lama kendaraan terparkir, semakin besar biaya yang harus dibayar. Kalau bekerja delapan sampai sepuluh jam, angkanya bisa membengkak tanpa ampun. Yang membuat saya makin syok adalah ketika mulai menghitungnya dalam skala bulanan.
Misalnya, biaya parkir SCBD rata-rata Rp20.000 per hari kerja. Jika dikalikan sekitar 22 hari kerja dalam sebulan, hasilnya sudah mencapai Rp440.000. Itu hanya untuk parkir, belum bensin, servis motor, dan banyak biaya lain yang mengikuti ketika memutuskan membawa kendaraan pribadi.
Di situlah saya mulai sadar bahwa biaya hidup di Jakarta sering kali datang dari pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak kita perhitungkan sejak awal.
Orang sering membicarakan mahalnya kos di Jakarta. Memang benar. Orang juga sering membicarakan harga makanan, biaya nongkrong, atau cicilan kendaraan. Itu juga benar.
Akan tetapi, ada pengeluaran kecil yang diam-diam ikut menggerogoti dompet tanpa banyak disadari. Salah satunya adalah parkir. Sejak saat itu saya mulai mengubah kebiasaan.
Belajar dari pengalaman
Saya berusaha berangkat lebih awal dan memberi waktu lebih longgar untuk perjalanan. Dengan begitu, saya bisa lebih sering menggunakan kombinasi KRL dan TransJakarta.
Jujur saja, transportasi umum tetap punya kekurangan. Kadang ramai, kadang harus berdiri, kadang harus berjalan kaki cukup jauh dari halte atau stasiun. Namun, setelah membandingkannya dengan biaya parkir yang pernah saya bayar, rasa capek itu terasa lebih mudah diterima.
Toh tarif TransJakarta hanya beberapa ribu rupiah untuk perjalanan yang jauh. KRL juga relatif murah dibandingkan biaya membawa kendaraan pribadi ke pusat kota setiap hari.
Pada akhirnya, pengalaman melihat angka Rp28.000 di layar parkir SCBD Jakarta mengajarkan saya satu hal sederhana yaitu biaya hidup di Jakarta tidak selalu datang dari hal-hal besar.
Dan, bagi seorang perantau dari Gunungkidul yang dulu pernah mengeluh karena harus membayar parkir Rp5.000 di Jogja, tarif parkir motor di Jakarta adalah pelajaran finansial yang tidak akan pernah saya lupakan.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













