Jujur, menatap kursor yang berkedip di layar laptop saat membuka file skripsi itu saja sudah cukup bikin mual. Apalagi kalau yang dihadapi adalah deretan angka yang nggak kunjung signifikan. Rasanya, hidup sebagai mahasiswa tingkat akhir yang menempuh jalur penelitian kuantitatif itu ibarat sedang terjebak hubungan toxic dengan perangkat lunak statistik.
Tapi, tenang dulu. Soalnya, skripsi kuantitatif itu nggak lahir khusus buat manusia-manusia jenius saja. Malah, kalau tahu cara berdamai dengan angka, mahasiswa bisa dengan mulus menuntaskan penelitian kuantitatif tanpa perlu mengorbankan banyak waktu.
Kamu nggak lagi isi bensin, jadi jangan mulai bikin skripsi kuantitatif dari nol
Di level sarjana, sebenarnya mahasiswa nggak perlu menciptakan model penelitian yang revolusioner buat meraih gelar. Gampangnya, gunakan saja penelitian terdahulu sebagai fondasi. Tentunya, pilih tema besar yang diminati. Skripsi kuantitatif tidak harus rumit, kok
Misalnya saja suka mengamati kepuasan pelanggan terhadap produk fashion, ambil saja topik fashion. Jangan sok ngide pakai kepuasan pelanggan di rumah sakit kalau nggak penasaran tentang seluk beluk jasa kesehatan. Meski sepele, faktor ini sangat krusial buat jadi bahan bakar merampungkan skripsi.
Lalu, artikel jurnal utama yang dijadikan acuan wajib punya variabel yang jelas. Lebih bagus lagi kalau contoh kuesioner yang dipakai sebagai alat ukur juga terlampir. Kemudian, kamu tinggal modifikasi sedikit variabelnya atau ganti objek penelitiannya. Ingat, skripsi yang bagus adalah skripsi yang selesai, bukan yang harus memenangkan Nobel.
Face validity dengan beberapa ahli
Jangan mentang-mentang menemukan kuesioner lengkap di artikel jurnal bereputasi, kamu bisa langsung main copy-paste. Sebab, artikel jurnal bereputasi biasanya pakai Bahasa Inggris dan dibuat di negara dengan kultur yang jauh berbeda dari kita. Jadi, tugas mahasiswa itu mengadopsi dan mengadaptasi, bukan menyontek mentah-mentah.
Menerjemahkan bahasa itu wajib. Tapi memastikan kalimatnya tetap nyambung di mata responden adalah taktik. Jangan cuma mengandalkan dosen pembimbing. Cobalah ajak beberapa calon respondenmu buat membaca kuesioner tersebut. Tanyakan, apakah ada kalimat yang bikin mereka mengerutkan dahi.
Kalau perlu, libatkan orang yang jago mengedit kalimat supaya bahasanya lebih membumi. Intinya, jangan sampai kuesioner akhir dipenuhi istilah teknis yang bikin responden garuk-garuk kepala. Kalimat yang sederhana dan lugas justru jauh lebih berharga dan bikin data yang didapatkan jadi lebih akurat.
BACA JUGA: 30 Istilah dalam Dunia Riset yang Wajib Diketahui oleh Mahasiswa Tingkat Akhir
Pilih responden yang waras dan gampang dikontak
Syarat ini biasanya sering diabaikan lantaran mahasiswa umumnya hanya fokus pada tema dan judul skripsi. Padahal, memastikan akses ke responden sejak awal itu adalah strategi yang pantang dilewati. Percuma saja kalau model penelitian sudah canggih dan kuesioner rapi tersusun, tapi jalan buat menghubungi responden tertutup rapat.
Selain kemudahan berkomunikasi, menyeleksi responden yang bersedia mengisi kuesioner dengan serius itu juga penting. Jangan besar kepala dulu kalau sukses menjaring banyak responden. Boleh jadi, pengisiannya ngawur alias asal klik. Akibatnya, data yang dikumpulkan bakal jadi sampah. Kalau memungkinkan, gunakan metode purposive sampling sehingga peneliti bisa leluasa menentukan target responden.
Data cleaning itu harga mati, jangan dilompati
Walau sudah pakai cara purposive sampling, kemungkinan menemukan responden yang serampangan ketika mengisi kuesioner itu nggak bisa terelakkan. Makanya, langkah selanjutnya adalah melakukan pembersihan data dengan teliti.
Meski tahapannya banyak dan ribet, data yang lebih sedikit tapi bersih dari jawaban ngaco justru memudahkan saat pengolahan data sesungguhnya dan menyimpulkan hipotesis.
Pakai software statistik yang paling dikuasai untuk mengerjakan skripsi kuantitatif
Percayalah, jangan gaya-gayaan pakai tools canggih demi terlihat pintar kalau ujung-ujungnya mumet sendiri. Perangkat lunak statistik itu banyak opsinya. Ada SPSS, PLS, AMOS, atau EViews yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pun, sensitivitas setiap software juga berbeda. Semakin sensitif, semakin sulit pula dioperasikan lantaran perlu banyak langkah untuk menampilkan hasil pengolahan data.
Alih-alih berkeras hati menggunakan software yang rumit, pakai saja yang dirasa mudah ketimbang boros waktu cuma karena lama berkutat memahami cara menjalankan alat bantu hitung tersebut. Jangan buang energi buat hal teknis yang sebenarnya nggak krusial buat inti skripsi. Kalau memang pahamnya pakai SPSS atau PLS, gunakan saja itu selama dosen pembimbing menyetujui.
Sebagai penutup, kalau hasil penelitianmu nggak signifikan, it’s okay. Dunia nggak lantas kiamat. Jangan dipaksa-paksa mengubah data yang justru haram secara akademik.
Malah, mahasiswa jadi punya modal bagus buat menulis pembahasan mengapa variabel tersebut nggak signifikan saat diuji di lokasi dan populasi yang berbeda. Di sinilah pemikiran kritis mahasiswa dipertaruhkan. Yakinlah, dosen penguji lebih suka mahasiswa yang bisa pakai nalar ketimbang ahli memanipulasi data.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













