Saya termasuk orang yang baru bisa menyetir mobil manual. Setelah berkali-kali latihan, saya akhirnya berani membawa mobil dari Mojokerto ke Lamongan. Sebuah prestasi yang lumayan untuk seorang pemula.
Namun, ketika bercerita ke beberapa orang yang sudah “veteran” dalam hal mengendalikan kendaraan baja, entah kenapa ada satu nasihat yang sering keluar untuk seseorang yang baru belajar nyetir mobil, yakni: pakai insting saja.
Saya selalu tertawa mendengar nasihat itu. Terkesan “sok jago”. Seolah-olah menyetir adalah kemampuan alami yang dimiliki manusia, dan akan muncul sendiri kalau kita memaksimalkan insting di balik kemudi.
Maksud saya, belajar menyetir mobil itu bukan seperti burung yang belajar terbang. Kita tentu saja perlu teori. Dan insting itu sesuatu yang diasah. Yakali baru belajar langsung disuruh pakai insting. Kek nggak mashok akal blas bagi saya.
Insting bukan muncul tiba-tiba
Sekali lagi perlu saya tegaskan, banyak orang yang sudah mahir menyetir mobil lupa kalau “insting” mereka hari ini bukan muncul tiba-tiba dari langit. Insting itu terbentuk karena mereka sudah ratusan kali menghadapi jalan sempit, tanjakan, motor nyelip mendadak, sampai momen hampir nyenggol tembok parkiran.
Semua itu terekam di kepala. Jadi ketika sekarang mereka bilang “rasain aja mobilnya”, sebenarnya yang bekerja bukan insting. Tapi akumulasi pengalaman yang sudah terlalu lama mereka jalani sampai terasa otomatis.
Nah, pemula belum punya itu. Orang baru belajar biasanya masih sibuk memikirkan hal-hal paling dasar. Kaki kiri harus nginjak apa, kapan lepas kopling, seberapa jauh mutar setir, sampai bingung membedakan mana suara mesin normal dan mana yang bermasalah.
Di fase seperti itu, menyuruh orang “pakai insting” justru terasa absurd. Karena insting tanpa pengalaman itu ya jatuhnya nebak asal. Dan nebak sambil membawa mobil jelas bukan ide bagus.
BACA JUGA: 3 Skill Mengemudi yang Harus Dikuasai agar Makin Mahir Berkendara
Teori lebih cocok diajarkan untuk pemula
Menurut saya, pemula justru lebih butuh teori menyetir mobil di awal. Mereka perlu tahu kenapa mobil harus menjaga jarak. Kenapa setir diputar dengan sudut tertentu ketika parkir. Kenapa kaki tidak boleh mendadak menginjak gas saat panik.
Hal-hal seperti itu penting supaya mereka memahami apa yang sedang dilakukan. Karena kalau dari awal cuma disuruh mengandalkan rasa, mereka akan kesulitan ketika menghadapi situasi darurat.
Ibaratnya seperti belajar berenang. Orang yang baru masuk kolam tentu lebih tenang kalau diajari teori untuk berenang ketimbang langsung dilempar ke tengah sambil diteriaki, “Udah santai aja, nanti juga bisa sendiri!”
Lucunya lagi, saran “pakai insting” biasanya paling mudah keluar dari mulut orang yang sudah sangat lancar menyetir mobil. Mereka lupa kalau dirinya dulu juga belajar pelan-pelan. Pernah mati mesin berkali-kali. Pernah bingung membedakan rem dan kopling. Dan tentu saja, pernah deg-degan ketika harus berhenti di tanjakan.
Namun setelah bertahun-tahun terbiasa nyetir, semua proses itu terasa hilang dari ingatan. Akhirnya mereka menganggap kemampuan menyetir seperti sesuatu yang otomatis saja. Padahal bagi pemula, nyetir itu melelahkan sekali. Otak harus bekerja terus. Mata harus fokus awas. Dan tangan harus selalu sigap.
Abaikan insting, Jam terbang menyetir mobil adalah koentji
Orang bisa percaya diri dalam satu hari. Tapi refleks membaca situasi jalan tetap butuh waktu panjang. Butuh repetisi, salah berkali-kali. Dan butuh pengalaman kecil yang terus menumpuk.
Dan menurut saya, ini penting dipahami karena konteks belajar mobil berbeda dengan belajar hal lain. Sebab, taruhannya keselamatan. Bukan cuma diri sendiri, melainkan juga orang lain.
Makanya saya kadang agak heran ketika ada orang yang terlalu meremehkan proses belajar menyetir mobil. Baru grogi sedikit sudah dibilang kurang berani. Baru takut belok sempit sudah disuruh “feeling aja”. Padahal kehati-hatian pemula itu wajar.
Justru kehati-hatian itu adalah indikator kalau mereka memperhatikan dan memperhitungkan. Orang yang terlalu percaya diri kadang malah sembrono. Dan itu tentu saja perlu dihindari.
Yah, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa target belajar nyetir memang sampai pada fase “insting”. Nanti tubuh akan otomatis tahu kapan mengerem, kapan menghindar, dan kapan harus pelan. Tapi semua itu datang belakangan. Fondasinya tetap teori, latihan, dan jam terbang.
Jadi tolong, berhenti menyuruh orang baru belajar mobil untuk langsung “pakai insting”. Mereka lebih butuh dipahami, diberi penjelasan yang masuk akal, dan ditemani melewati proses gugupnya secara pelan-pelan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.










