Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Agus Miftahorrahman oleh Agus Miftahorrahman
25 April 2026
A A
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan (Dokumentasi Penulis)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi saya, nasi bu’uk itu lebih seperti nostalgia masa lalu. Mengingat perjalanan keluarga yang dulunya tidak semakmur hari ini

Sebagai warga Situbondo yang kemudian menikah dan tinggal di Bondowoso, ada banyak sekali penyesuaian  yang perlu saya lakukan. salah satunya adalah menyesuaikan selera makan yang sangat berbeda. Biasa makan dengan menu pesisir dengan cita rasa gurih, asin, dan olahan-olahan ikan, saya mau tidak mau harus mentolerir perbedaan cita rasa di Bondowoso. 

Sebagai wilayah yang berada di dataran tinggi dan tidak punya lautan, cita rasa makanan Bondowoso didominasi oleh rempah beraroma kuat dan bahan segar hasil bumi yang kebanyakan masih dimasak menggunakan tomang (tungku kayu bakar).

Lalu, apakah saya kemudian tidak mau makan karena perbedaan cita rasa itu dan lebih sering beli makan di luar? Tentu saja saya tetap makan di rumah. Selain untuk menghemat pengeluaran pribadi, makanan Bondowoso dengan cita rasa khasnya itu sebenarnya tidak asing-asing banget bagi lidah saya. Di antara berbagai menu khas yang pernah saya coba setelah menikah, ada satu yang cukup menarik perhatian. Nasi Bu’uk namanya.

BACA JUGA: Belajar dari Bondowoso: Tidak Punya Laut, tapi Menjadi Pusat Ikan Pindang Jawa Timur

Nasi Bu’uk, kuliner unik dari bekatul jagung

Kalau dilihat dari cara masaknya, Nasi Bu’uk cenderung lebih layak disebut makanan pokok daripada menu tersendiri. Meskipun ada yang menikmati nasi bu’uk tanpa lauk tambahan, umumnya menu ini tetap disantap dengan tambahan lauk lain untuk melengkapinya. Mau itu sayur, sambal, kuah, apa pun itu sesuai selera. 

Meskipun sama terbuat dari jagung, nasi bu’uk dan nasi jagung sebenarnya berbeda. Nasi jagung itu terbuat dari beras yang dicampur dengan jagung pipil kering yang kemudian dihaluskan. Sementara nasi bu’uk berasal dari beras yang dimasak bersama bekatul—bu’uk adalah istilah lokalnya—dan kemudian dicampur setelah matang. 

Bekatul sendiri adalah produk sampingan hasil penggilingan jagung yang kaya serat dan nutrisi. Bekatul juga sering digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak karena kandungan nutrisinya. Namun, bekatul juga bisa dan sering dijadikan bahan makanan seperti nasi bu’uk.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Sejarah singkat nasi bu’uk

Berbekal rasa penasaran, saya kemudian bertanya tentang sejarah nasi bu’uk pada mbah istri saya yang alhamdulillah masih hidup meskipun sudah tergolong cukup sepuh. Beliau juga masih cukup komunikatif dan seru diajak ngobrol. Alhasil, saya pun berhasil mengetahui beberapa kepingan sejarah singkat tentang nasi bu’uk. 

Berdasarkan penjelasan beliau, nasi bu’uk hadir sebagai variasi dari nasi jagung. Karena kondisi ekonomi yang tidak merata, tidak semua orang bisa menikmati nasi jagung. Hanya mereka yang punya tanah dan ladang saja yang mampu menikmati nasi jagung.

Sementara itu, bekatul atau bu’uk yang menjadi produk sampingan penggilingan jagung seringkali diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Karena diberikan secara cuma-cuma itu, bekatul kemudian dimasak bersama nasi dan menjadi nasi bu’uk yang dikenal hari ini. 

“Kalau orang dulu yang penting dicuci kemudian dimasak sampai matang itu sudah dibilang sehat dan enak. Kadang ada juga yang pakai bekatul padi kalau sedang tidak musim jagung, tapi sekarang sudah banyak yang tidak mau karena bau pakan ternak dan alhamdulillah sudah tidak sesusah dulu hidupnya.” terang mbah istri saya.

Punya cita rasa gurih dan nutty yang khas, tapi baunya belum tentu disukai semua orang

Kalau soal rasa, nasi bu’uk punya hint yang mirip dengan nasi jagung—karena terinspirasi dari nasi jagung—yang punya sedikit rasa manis, gurih, dan nutty seperti kacang. Bedanya, nasi bu’uk terasa lebih ringan karena bentuknya lebih halus dibandingkan nasi jagung. 

Secara kandungan gizi, nasi bu’uk banyak disukai—khususnya oleh generasi sepuh—karena harganya murah, penuh nutrisi dari jagung, dan memberikan rasa unik pada nasi putih.

Kendati demikian, kuliner ini punya aroma yang mungkin tidak disukai oleh semua orang. Karena berbahan dasar bekatul yang sering dijadikan pakan ternak, nasi bu’uk juga memiliki aroma yang serupa. Tetapi, bau itu terasa sedikit samar karena sudah dimasak dan bercampur dengan aroma nasi yang punya aroma harum lembut. 

Bagi saya, nasi bu’uk itu lebih seperti nostalgia masa lalu. Mengingat perjalanan keluarga yang dulunya tidak semakmur hari ini. Pengingat bahwa dulu diri ini pernah berada di titik rendah dan tidak setinggi hari ini. Bahwa sepiring nasi itu adalah hasil dari perjuangan keras dan seharusnya dihabiskan sampai tidak bersisa sebagai bentuk mensyukurinya..

Penulis: Agus Miftahorrahman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nase’ Sodu: Sajian Nasi dengan Kuah Lodeh Khas Situbondo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2026 oleh

Tags: bekatulmakanan khas bondowosomakanan khas situbondonasi bu'uk
Agus Miftahorrahman

Agus Miftahorrahman

Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam. Menaruh perhatian atas isu-isu sosial, lingkungan, dan literasi. Setiap pekan menjaga bara semangat literasi melalui Perpustakaan Jalanan Besuki Membaca.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda
  • Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya
  • Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing
  • Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya
  • Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi
  • Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.