Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Indra Januar Gunardi oleh Indra Januar Gunardi
25 April 2026
A A
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu terakhir, istilah “outfit kabupaten” sering muncul di berbagai platform media sosial, dibarengi dengan komentar berbentuk candaan atau bahkan ejekan halus. Awalnya, saya kira istilah itu hanyalah kritik ringan terhadap selera fashion. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada masalah yang ternyata perlu dibahas lebih detil.

Istilah ini terasa janggal karena outfit yang sering dilabeli “kabupaten” sebenarnya tidak berbeda jauh dengan trend yang sedang terjadi di kota-kota besar. Bahkan brand yang mereka kenakan sama.

Tapi saat label tersebut ditempelkan, seketika persepsi berubah. Tentu, sebagai orang kabupaten yang juga penikmat fashion, saya merasa risih, seolah yang dinilai bukan lagi soal fashion tapi asal dan identitas pemakainya.

BACA JUGA: Di Gresik, Baju Bandmu Tidak Ada Apa-apanya di Hadapan Sarung BHS, Kalah Telak!

Lingkungan yang tidak estetik untuk berkolaborasi dengan outfit yang sesuai

Padahal mengikuti trend yang sama dan mengenakan baju yang sama juga. Tapi kenapa seolah selalu ada yang kurang dari outfit yang coba diekspresikan oleh para pemuda kabupaten di sosial media?

Saya kira, lingkungan juga punya pengaruh besar terhadap persepsi estetika.

Di kota-kota besar, exposure terhadap visual, fotografi, dan taste making lebih intens. Sehingga anak muda di perkotaan memiliki lebih banyak pilihan latar belakang untuk berfoto sebagus mungkin sesuai dengan outfit yang mereka kenakan. Misalnya, kafe estetik, dinding minimalis, dan tata kota modern akan membuat outfit terlihat “niat”.

Mereka juga terbiasa dengan literasi visual yang membuat lebih banyak dari mereka memahami cara mendapatkan angle terbaik, pose yang keren, serta didukung lebih banyak akses ke tempat dengan latar belakang yang bagus. Berbeda dengan anak muda kabupaten yang sulit mendapatkan akses tersebut. Sehingga lebih banyak memilih latar belakang foto yang apa adanya sehingga membuat outfit mereka terlihat kurang nyambung.

Baca Juga:

Remaja Jogja 2013-2016 Pernah Mengidolakan Gaya Pakaian Gombor-gombor

Terlihat sepele memang, tapi kualitas foto yang kita tampilkan di sosial media adalah hasil dari banyak variabel.

Outfit yang sama bisa terlihat “mahal” di satu foto, dan “biasa saja” di foto lain. Kita bisa melihat contohnya di sosial media, foto yang memenuhi variabel tersebut, cenderung mendapatkan lebih banyak exposure.

Kebebasan berekpresi anak muda kabupaten yang terbatas

Selain tempat, ada satu faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu ruang ekspresi yang tidak selalu aman.

Bagi anak muda perkotaan, memilih pakaian mungkin tampak seperti hal yang personal, semua soal selera, kenyamanan, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri. Tapi bagi banyak pemuda di kabupaten, berpakaian tidak pernah sesederhana itu. Ada satu lapisan lain yang selalu ikut hadir tidak terlihat, tapi terasa, yaitu norma sosial.

Bagi anak muda kabupaten, berpakaian tidak lagi hanya soal diri sendiri. Tapi juga tentang bagaimana masyarakat melihat dan menilainya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang membuat kebebasan dalam mengenakan pakaian tertentu tidak selalu terasa nyaman untuk ditampilkan secara penuh di ruang publik.

Jadi, saat hasil akhirnya terlihat berbeda dari standar tren yang sedang berlangsung, bukan karena mereka kurang mengerti, tapi ruang untuk mengekpresikannya saja yang berbeda.

Standar keren pemuda perkotaan yang tidak netral

Perlu diakui, yang menggunakan istilah outfit kabupaten itu kebanyakan adalah anak muda perkotaan. Mereka terbiasa memberi label “outfit kabupaten” pada gaya berpakaian yang terasa sedikit berbeda dari standar mereka.

Padahal, anak muda di perkotaan memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh anak muda yang hidup di kabupaten. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang visualnya rapi dan terkurasi, penuh referensi gaya yang seragam dan mendukung ekspresi diri di ruang publik.

Mirisnya, karena terlalu lama hidup dalam standar tersebut, mereka jadi menganggapnya bukan privilege, tapi suatu hal yang normal.

Masalahnya, istilah “outfit kabupaten” yang sering dilontarkan, seolah menjadi pembanding dari sesuatu yang bernilai lebih rendah. Seperti simbol kurang modern, kurang estetik, bahkan simbol tidak layak masuk standar keren tanpa melihat lingkungan sosialnya.

Mereka tidak sadar bahwa yang mereka anggap aneh selama ini mungkin hanyalah sesuatu yang tidak pernah mereka pahami dari dekat.

Saya kira, anak muda perkotaan ini perlu menyadari bahwa apa yang mereka anggap standar keren sering kali lahir dari akses dan lingkungan yang tidak dimiliki semua orang. Juga, tidak semua orang tumbuh dalam ruang yang sama bebasnya untuk berekspresi secara otentik.

Penulis: Indra Januar Gunardi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sendal Japit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2026 oleh

Tags: outfit kabupatenoutfit skenatren pakaian
Indra Januar Gunardi

Indra Januar Gunardi

Ingin berdampak meski kecil-kecilan.

ArtikelTerkait

pakaian gombor tren hip hop hardcore jogja 2013-2016 mojok.co

Remaja Jogja 2013-2016 Pernah Mengidolakan Gaya Pakaian Gombor-gombor

12 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Berbeda
  • Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya
  • Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing
  • Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya
  • Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi
  • Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.