Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Arsyindah Farhan oleh Arsyindah Farhan
21 April 2026
A A
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Share on FacebookShare on Twitter

Jauh sebelum Trump banyak tingkah, sebelum harga plastik merangsek, saya sudah mengantisipasi harga plastik naik. Sudah hampir setahun, saya biasa membawa wadah sendiri saat belanja ke pasar tradisional. Saya membawa wadah plastik yang ada tutupnya seperti tempat makan. Tak jarang, wadah-wadah plastik tersebut juga saya dapatkan bekas dari membeli makanan. Bukan murni beli sendiri semuanya.

Nggak semua belanjaan saya wadahi. Yang biasa saya wadahi masih sebatas tahu, ikan, ayam, dan kue jajanan pasar untuk sarapan aja. Selebihnya, saya masih menerima kantong plastik dari pedagang.

Nggak hanya bawa wadah, saya juga bawa tas belanja sendiri. Ada beberapa item belanjaan yang saya tolak untuk pakai kantong plastik. Biasanya bakal saya satukan dengan kantong plastik yang sudah ada, atau tinggal saya masukkan saja di tas belanja yang saya bawa.

Awalnya, pedagang memandang sebelah mata

Harus diakui, nggak semua pedangan langsung paham ketika diminta menaruh barang dagangannya yang saya beli di wadah. Selain itu, belanja pakai wadah memang agak ribet. Nggak sat set kayak pakai plastik. Terlebih kalau lagi banyak yang beli. Ya dulu orang belum tahu dan pasti nggak akan mengira harga plastik naik segila ini.

Makanya kalau sekiranya pakai wadah bakal merepotkan, saya nggak ngotot menolak plastik. Fleksibel aja. Setidaknya, saya sudah ada usaha untuk mengurangi pemakaian plastik. Apalagi, kantong plastik di rumah sudah sangat menumpuk.

Terbiasa bawa wadah, pedagang langganan saya sudah hafal kebiasaan saya. Bahkan, mereka kerap membantu kalau saya agak kerepotan. Tapi perkara nggak mau pakai plastik, kadang pedagang yang merasa nggak enakan. Takut saya kerepotan membawa dengan tangan kosong. Setelah saya tunjukkan kantong belanja bawaan saya, mereka baru mengiyakan.

Lain pedagang, lain reaksi pembeli lainnya

Melihat saya menenteng wadah saat antre belanja, ada yang memuji. “Iya ya, seharusnya pakai wadah begitu biar bisa langsung masuk kulkas”, kurang lebih begitu katanya. Tapi meski beberapa kali dapat respon positif, nggak ada yang saya lihat membawa wadah sendiri seperti saya.

Dapat respon bernada julid juga pernah saya dapat. “Ih rajin amat”, respon seorang ibu-ibu saat saya sedang antre beli ayam sambil pegang wadah. Terdengar menyebalkan sih, tapi biarkan saja. Banyak keuntungan yang saya dapat dengan pakai wadah, apalagi pas beli ayam. Darah ayam nggak rembes ke mana-mana.

Baca Juga:

MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu

Pengendara Sepeda Motor Makhluk Paling Ribet ketika Musim Hujan

Plastik mahal, pedagang ketar-ketir, tapi pembeli santai aja

Pas tahu harga plastik naik, saya bahkan bawa plastik sendiri dari rumah. Plastik bekas-bekas belanja. Meski bawa tas belanja, tapi untuk kasus belanja di pasar tradisional, kadang plastik tetap dibutuhkan karena lebih efisien.

Saya juga kan nggak mungkin bawa wadah banyak-banyak, apalagi saya tipe yang belanja sekaligus untuk seminggu ke depan. Bisa gempor. Nggak dipungkiri, bawa wadah itu makan tempat di tas belanja.

Sejak harga plastik naik, kebiasaan saya membawa wadah dan menolak plastik, terasa lebih diapresiasi. Saya juga rasanya senang banget, meskipun bantuan saya terkesan sepele. Tapi, nggak semua pembeli berpikiran seperti saya.

Saya perhatikan, kebanyakan pembeli nggak peduli dengan kenyataan kalau harga plastik lagi naik 40%-50%. Beli jagung di pedagang A diplastiki, beli bayam di pedagang B diplastiki berbeda. Padahal kalau dijadikan satu semuanya, kantong plastiknya muat.

Bahkan mbak-mbak warung Madura dekat rumah saya cerita, ada pembeli yang cuma beli satu snack tapi minta plastik. Padahal, untung satu snack beda tipis dengan cost sebuah kantong plastik kecil. Kalau nggak diberikan nanti keluar jurus andalan dari pembeli yang berbunyi, “Ah cuma plastik doang kok pelit banget”.

BACA JUGA: Terima Kasih Indomaret, Berkatmu yang Semakin Peduli dengan Lingkungan, Belanjaan Jadi Sering Nyeprol di Jalan Gara-gara Plastik yang Makin Tipis

Curcol pedagang soal naiknya harga plastik

Bukan cuma mbak warung Madura yang mengeluh soal plastik, tapi pedagang kue jajanan pasar langganan saya juga. Kata dia, harga plastik naik 2 kali lipat. Tapi mau bagaimana, namanya juga risiko jualan.

Senada, pedagang ayam dan ikan langganan saya juga mengeluh. Bukan mahal aja, tapi plastik juga mulai langka. Pernyataan tersebut seolah dibenarkan dengan tutupnya toko plastik di pasar tradisional tempat biasa saya belanja.

Meski naiknya harga plastik merugikan pedagang, tapi sebenarnya bisa menjadi momentum untuk mendorong pengurangan pemakaian plastik. Sampah plastik di bumi ini sudah kelewat banyak kan. Sayangnya, banyak orang yang terkesan nggak mau tahu. Apalagi, bagi mereka yang nggak merasakan langsung dampaknya. Nanti giliran isu mikroplastik naik lagi, baru deh pada sok jadi aktivis bahaya plastik.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Plastik Kresek Harus Dijual Mahal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: harga plastik naikkantong belanjakantong plastikpedagang pasar
Arsyindah Farhan

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.

ArtikelTerkait

Pengendara Sepeda Motor Makhluk Paling Ribet ketika Musim Hujan Nojok.co

Pengendara Sepeda Motor Makhluk Paling Ribet ketika Musim Hujan

3 Desember 2023
Kantong Plastik Berbayar, Bukti Alfamart Masih Setengah-setengah Melindungi Lingkungan

Kantong Plastik Berbayar, Bukti Alfamart Masih Setengah-setengah Melindungi Lingkungan

10 Oktober 2023
Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu

7 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
4 Alasan Orang Jogja Malas Kulineran di Warung Bakmi Jawa Pak Pele yang Jadi Favorit Wisatawan Mojok.co bakmi jogja gudeg tegal

Kenapa Bakmi Jogja Susah Bertahan di Tegal, tapi Gudeg Bisa?

15 April 2026
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang
  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.