Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

Aprilia Ani Fatimah oleh Aprilia Ani Fatimah
4 April 2026
A A
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Nama Purwokerto akhir-akhir ini sering sekali muncul dalam berbagai pembahasan. Selain laku menjadi bahan tulisan seperti di Mojok ini, Purwokerto juga menjadi bahan yang laris untuk konten visual, seperti video pendek di platform TikTok maupun YouTube. 

Seringnya, para influencer yang pernah singgah ke tempat ini akan dengan senang hati berbagi pengalaman mereka. Kunjungan dua sampai tiga hari itu mereka abadikan, menyimpannya dalam satu video, lalu mengunggahnya menjadi satu konten media sosial.

Sebenarnya tidak ada yang salah sampai sini. Semua orang berhak untuk membagikan pengalamannya ketika berlibur. Namun, akhir-akhir ini, narasi tentang Purwokerto sepertinya terlalu diromantisasi. 

Sebagai manusia yang bisa dibilang lebih akrab dengan Purwokerto ketimbang para influencer itu, saya menilai konten mereka tidak mewakili Purwokerto yang sebenar-benarnya.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya pada sederet nama yang sering mempopulerkan Purwokerto, saya merasa perlu untuk meluruskan hal-hal yang barangkali, penting untuk menjadi pertimbangan. Inilah beberapa keadaan nyata di Purwokerto yang jarang diberitahu oleh para influencer.

BACA JUGA: 7 Panduan Menjadi Pendatang yang Cepat Betah di Purwokerto

Purwokerto bukan kota seribu curug

Purwokerto mulai akrab dengan julukan barunya sebagai kota seribu curug. Kabar baiknya, julukkan ini membuat daerah saya semakin terkenal. Kabar buruknya, Purwokerto tidak cocok menyandang gelar tersebut.

Mungkin sudah teramat banyak tulisan, khususnya di Mojok yang membahas ini. Namun, barangkali ada pembaca yang lupa atau baru mengetahui fakta ini. Pertama, Purwokerto bukan kota. 

Baca Juga:

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

Terlepas dari bagaimanapun sejarahnya, fakta saat ini menunjukkan bahwa Purwokerto hanyalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas. Jadi, menyebutnya sebagai “kota” sudah keliru.

Ketika kita mengesampingkan fakta bukan kota, fakta berikutnya juga tidak bisa menyelamatkan klaim sebagai “kota seribu curug”. Nyatanya, curug-curug yang sering masuk daftar itu berada di luar kecamatan. 

Curug Telu, Jenggala, atau Tirta Sela, itu adanya di Baturraden. Lalu, Curug Gomblang letaknya di Kecamatan Kedungbanteng. Terakhir, Curug Cipendok yang konon menjadi curug tertinggi di Banyumas, ada di Kecamatan Cilongok. Meskipun masih tetanggaan, bukan berarti kita bisa mengklaim semuanya atas nama Purwokerto, kan?

Purwokerto tidak semurah itu

Narasi yang beredar sering mengatakan bahwa di Purwokerto semuanya terjangkau. Saking terjangkaunya, kecamatan tidak pernah absen masuk daftar sebagai kota yang cocok untuk menjalani slow living. 

Itu semua bohong. Kalau membandingkannya dengan kota besar seperti Jakarta, biaya hidup di sini memang lebih rendah. Tapi, jangan lupakan fakta lainnya bawa UMR keduanya juga jelas jauh berbeda.

Pendapatan dengan UMR Banyumas ini hanya pas untuk hidup secukupnya. Selain perlu menyiapkan perencanaan keuangan yang ekstra agar bisa bertahan hidup satu bulan, hidup di Purwokerto juga perlu menyiapkan mental agar tidak tergoda oleh keberadaan coffee shop overpriced yang kian menjamur.

Klaim kalau Purwokerto itu murah rasa-rasanya terlalu mengeneralisir pendapatan setiap orang. Kalau duitmu setara Pandji Pragiwaksono atau Bernadya, sih, mungkin hidup di Purwokerto akan terjangkau. Kalau masih UMR, ya tetep mengkis-mengkis. Hanya orang kaya yang bisa menikmati slow living di sini.

BACA JUGA: Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

Kota seribu parkir

Ketimbang memberinya julukan “seribu curug”, Purwokerto lebih cocok menyandang gelar kota seribu parkir. Tukang parkir dan kecamatan ini adalah dua entitas yang sudah saling melekat. Kamu tidak akan bisa memisahkan keduanya, bahkan oleh Pemkab sendiri. 

Jangan kira bisa bebas dari parkir meskipun belanja di pedagang kaki lima, ya. Tukang parkir di sini sudah lebih dulu mendiami banyak spot, termasuk di sebelah pedagang gerobakan.

Saran saya, kalau berkunjung ke sini dan berniat membawa kendaraan sendiri atau menyewa, siapkan budget lebih untuk wisata seribu parkir ini. Niscaya itu akan menjadi pengalaman yang baru selama berlibur.

Tulisan ini tidak bermaksud menjelekkan Purwokerto, tidak. Saya juga masih bergantung hidup di tempat ini. Anggap saja ini panduan lain sebelum mengunjungi Purwokerto dari kacamata warga lokal.

Penulis: Aprilia Ani Fatimah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2026 oleh

Tags: banyumascurug di purwokertokota seribu curugpurwokertoslow living purwokertoTukang Parkir
Aprilia Ani Fatimah

Aprilia Ani Fatimah

Mbak-mbak yang lidahnya Jawa banget, tapi jiwanya kadang keminggris.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Sisi Gelap Purwokerto, Kota Seribu Curug yang Membuat Wisatawan Tidak Mau Kembali

3 Maret 2026
4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain purwasera uin saizu

4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain

11 September 2023
Menyebut Tempe Goreng Tepung sebagai Tempe Mendoan, Seburuk-buruknya Penghinaan! terminal mojok.co

Mendoan Daerah Mana sih yang Paling Enak?

16 November 2020
Katanya Banyumas Makmur, tapi kok Warganya pada Minggat?

Katanya Banyumas Makmur, tapi kok Warganya pada Minggat?

28 Juli 2023
ngapak umpatan misuh jogja solo banyumas mojok

Dalam Menyederhanakan dan Meningkatkan Kadar Umpatan, Orang Ngapak Lebih Orisinal

28 Oktober 2020
Soto Kriyik Purbalingga Nggak Kalah Enak dari Sroto Banyumas yang Legendaris Mojok.co

Soto Kriyik Purbalingga Nggak Kalah Enak dari Sroto Banyumas yang Legendaris

24 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

1 Juni 2026
Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus Mojok.co

Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus

31 Mei 2026
Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total Mojok.co

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

3 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Membayangkan Semua Gerai Indomaret Tutup: Ibu-Ibu Merana Kehilangan Promo Minyak Goreng, Orang Dewasa Stres Makin Depresi Kehilangan Kursi Besi Andalan

1 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.