KA Sri Tanjung relasi Lempuyangan (Yogya)-Ketapang (Banyuwangi) merupakan juru selamat bagi kaum yang masih dalam fase “perjuangan” hidup, seperti dialami Adit (29). Karyawan yang bekerja di Jember ini harus sering ulang-alik Jember-Solo PP karena keluarganya masih di Solo.
Tidak ada pilihan lain bagi Adit. “Yang penting murah,” ujar Adit beralasan. Ya, harga tiket kereta api Sri Tanjung PSO (subsidi pemerintah) memang sangat terjangkau. Full trip Ketapang-Lempuyangan Rp94.000. Kalau Jember-Purwosari (Solo) cuma Rp88.000.
Bagi Adit, naik KA Sri Tanjung itu cukup nyaman. Yah, meskipun pakai kursi tegak lurus saling berhadapan, serta kaki adu dengkul dengan penumpang lain, nggak masalah. “Paling turun dari kereta, boyok dan kaki terasa sedikit pegal,” ujarnya tersenyum.
Memang, fasilitas kereta ini sudah banyak berubah sejak Pak Jonan membenahi KAI. Dulu, KA Sri Tanjung hanya punya kipas angin, sekarang sudah pakai AC. Zaman dulu, ada penumpang membawa ayam, sangkar burung, atau kelinci, sekarang tidak ada. Kala itu, pedagang asongan berseliweran, sekarang nggak boleh.
KA Sri Tanjung, kereta super lambat
Tapi, tiada gading yang tak retak. Banyak penumpang yang mengeluh soal lamanya perjalanan KA Sri Tanjung. Dari Solo ke Jember, lama perjalanan 9 jam 24 menit. Bandingkan dengan KA komersial dengan rute yang sama. KA Ranggajati waktu tempuhnya 7 jam 42 menit, KA Wijayakusuma 7 jam 56 menit, dan Logawa 8 jam 27 menit.
Mengapa waktu tempuh KA Sri Tanjung bisa lebih lama?
Pertama, KA ini banyak berhenti di stasiun kecil. Dari Solo sampai Jember, total berhenti di 34 stasiun. Bandingkan dengan KA Ranggajati yang hanya berhenti di 16 stasiun.
Kedua, seluruh KA dari Yogyakarta menuju stasiun di Daop IX Jember, harus mengubah letak lokomotif di Surabaya. KA yang lain memindah posisi loko di Stasiun Gubeng, khusus KA Sri Tanjung memutar loko di Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut).
Ketiga, proses yang diperlukan untuk memindah letak lokomotif bagi KA Wijayakusuma di Stasiun Gubeng 30 menit. Sedangkan durasi waktu bagi KA Sri Tanjung untuk mengubah letak loko di Stasiun Surabaya Kota (Semut) sekitar 51 menit.
Pemborosan waktu
“Soal KA Sri Tanjung banyak berhenti di stasiun kecil, sih, nggak masalah,” kata Agus (20) mahasiswa asal Nganjuk yang kuliah di Jember. Agus mengeluhkan lamanya KA Sri Tanjung berhenti di Stasiun Surabaya Kota (Semut) untuk memutar letak lokomotif. Hampir satu jam lho!
“Lagian ngapain harus ngelencer sampai Stasiun Surabaya Kota? Itu kan memboroskan waktu perjalanan sebab harus berlari lebih jauh ke arah utara, untuk kemudian balik lagi ke Stasiun Gubeng,” ujarnya.
Ya seandainya proses putar lokomotif dilakukan di Gubeng, bisa lebih efisien, bisa memangkas waktu tempuh cukup banyak. Karena sejatinya keinginan penumpang KA, entah itu eksekutif, ekonomi komersial, atau ekonomi PSO itu sama, mereka ingin perjalanan yang aman, nyaman, dan cepat.
BACA JUGA: KA Sri Tanjung dan KA Kahuripan, Kereta Api Paling Nanggung dan Melelahkan bagi Penumpang
Aman dan nyaman sudah jelas
Soal kecepatan, KA Sri Tanjung memang lelet. Evaluasi tentang waktu tempuh memang perlu dilakukan, karena kereta ini memiliki peminat yang sangat banyak sepanjang kota yang dilalui.
Penumpang KA Sri Tanjung itu “nrima ing pandum” untuk urusan kemewahan yang tidak mungkin mereka jangkau. Turun dari kereta, mereka tidak protes dengan pinggang dan kaki yang sedikit pegel. Karena bagi mereka, meski sering bikin menderita karena lambat, kereta ini memberi rasa aman dan nyaman.
Penulis: Erdy Priharsono
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh”
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















