Semua pasti setuju kalau Vespa matic memang punya aura prestige yang melekat dan menarik perhatian para penggemar otomotif. Namun, di balik pesonanya, ada banyak kritik yang mengemuka.
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Vespa matic itu overprice. Bahkan para mekanik membenci kendaraan ini karena kerumitan perawatannya. Kini, mari kita lanjutkan pembahasan dengan menambahkan poin-poin lain yang membuat Vespa matic kurang oke.
Dari performa mesin hingga kenyamanan sehari-hari, kendaraan tampak jelas masih tertinggal di beberapa aspek krusial, meskipun harganya selangit.
Baca juga: Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!
Mesin Vespa matic itu biasa saja, dengan pendingin udara kuno
Salah satu poin utama yang sering menjadi sorotan adalah performa mesin Vespa matic yang terasa medioker untuk harga selangit. Ambil contoh model seperti Vespa Sprint atau Primavera, dengan banderol sekitar Rp50 sampai Rp60 jutaan rupiah. Di rentang harga itu, Anda mengharapkan mesin yang bertenaga dan andal, tapi kenyataannya?
Mesinnya masih mengandalkan sistem pendingin udara. Ini jelas sudah ketinggalan zaman.
Bayangkan saja. Kompetitor seperti Honda PCX atau Yamaha NMAX sudah menggunakan pendingin cairan (liquid-cooled) untuk menjaga suhu mesin tetap stabil dan performa mesin terjaga. Eh, Vespa matic masih bertahan dengan pendingin udara.
Pendingin cairan membuat mesin lebih adem dan tahan lama. Selain itu, teknologi ini juga mengurangi risiko overheat saat macet-macetan di jalanan kota seperti Jakarta atau Semarang.
Tak jarang yang punya Vespa matic sering mengeluhkan mesin yang cepat panas, terutama saat cuaca panas terik di Indonesia. Ini bukan hanya soal kenyamanan saja, tapi juga umur pakai mesin yang bisa lebih pendek karena fluktuasi suhu yang ekstrem.
Menurut data, mesin Vespa matic 150cc hanya menghasilkan tenaga sekitar 11-12 hp, yang sebanding dengan skuter Jepang di kelas 125cc. Padahal harganya cuma separuhnya. Dengan harga selangit, Anda seharusnya mendapatkan skuter dengan performa lebih baik, seperti akselerasi yang lebih responsif dan efisiensi bahan bakar yang superior.
Ini jelas membuat Vespa matic itu overprice. Yang Anda bayar lebih banyak untuk gaya daripada substansi.
Kenyamanan boncengan yang bikin frustasi
Selanjutnya, mari kita bahas aspek kenyamanan Vespa matic, khususnya saat boncengan. Vespa Matic memang dirancang dengan estetika retro yang menawan, tapi desainnya mengorbankan fungsionalitas.
Betapa tidak enaknya saat Anda bonceng seseorang, penumpang belakang harus dipaksa “ngangkang” lebar karena bentuk jok yang sempit dan footstep yang posisinya kurang ergonomis. Siapa yang tahan duduk seperti itu selama perjalanan panjang?
Sudah begitu, dari sisi keamanan juga mengkhawatirkan karena penumpang bisa mudah tergelincir atau merasa tidak stabil.
Bandingkan dengan Honda BeAT, skuter entry-level yang harganya hanya sekitar Rp18 sampai Rp20 jutaan rupiah. BeAT menawarkan jok yang lebih lebar, footstep yang mudah dijangkau, dan desain yang lebih ramah untuk boncengan.
Bahkan, dengan harga satu Vespa matic, Anda bisa membeli tiga unit BeAT! Bayangkan, daripada bonceng satu orang dengan susah payah, Anda bisa bagi-bagi skuter ke anggota keluarga atau teman.
Sudah banyak yang mengeluhkan nyeri punggung atau kaki setelah boncengan jarak jauh. Desain Vespa matic yang ikonik, dengan roda kecil dan bodi ramping, memang bagus untuk foto Instagram, tapi tidak untuk realitas lalu lintas yang padat. Ini salah satu alasan mengapa Vespa terasa tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari di Indonesia
Bagasi dan kompartemen Vespa matic yang pelit, plus tangki plastik yang kontroversial
Fungsionalitas penyimpanan adalah poin berikutnya yang membuat Vespa matic kalah telak dari kompetitor. Vespa Matic itu pelit dalam hal bagasi dan kompartemen.
Bagasi di bawah jok biasanya hanya muat helm half-face atau jas hujan. Tidak ada ruang ekstra untuk barang belanjaan, tas kerja, atau perlengkapan harian. Cantolan depan juga terbatas, membuatnya susah untuk membawa barang bawaan lebih banyak tanpa resiko jatuh.
Bandingkan saja dengan skuter Jepang seperti Honda Scoopy atau Yamaha Fino, yang meskipun lebih murah, punya bagasi lebih luas dan fitur seperti hook depan yang kuat. Di Vespa matic, Anda sering harus menambah aksesoris aftermarket seperti box belakang. Tentu saja ini menambah biaya.
Ini juga ironis. Harganya premium, tapi Vespa tega menyediakan fitur dasar seperti itu.
Lebih parah lagi, tangki Vespa matic terbuat dari plastik, yang sering disebut mirip “jerigen BBM”. Meskipun ringan dan anti-karat, bahan plastik ini rentan bocor atau rusak jika terbentur, terutama di jalanan berlubang Indonesia. Coba bayangkan bagaimana kalau harus ganti tangki karena retak? Biayanya tidak murah.
Baca juga: Vespa Matic Itu Overrated, Masih Kalah Nyaman dengan Yamaha Mio Generasi Pertama, Jauh!
Suspensi yang kurang empuk dan tidak nyaman
Terakhir, urusan peredaman suspensi juga tak luput dari celaan. Vespa Matic, meskipun mahal, suspensinya nggak enak. Suspensi depan Vespa memang unik dengan desain single-sided swingarm yang ikonik, tapi soal keempukan? Jauh dari harapan.
Saat melewati jalan berlubang atau polisi tidur, getaran terasa keras dan kurang meredam benturan dengan baik. Bandingkan dengan suspensi teleskopik yang sering dipakai pabrikan Jepang seperti Honda atau Yamaha, yang harganya lebih murah tapi lebih empuk dan stabil.
Suspensi teleskopik menyerap guncangan lebih baik dan biaya perbaikannya murah. Ini membuat perjalanan lebih nyaman, terutama di jalanan rusak yang menjadi ciri khas Indonesia.
Para mekanik pun sering bilang bahwa suspensi Vespa matic lebih rumit diganti atau di-upgrade. Inilah alasan tambahan mengapa para mekanik di bengkel membenci Vespa matic.
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa Vespa Matic masih punya banyak kekurangan yang membuatnya terasa overprice. Tentu saja, Vespa masih punya nilai tambah di desain dan ke-prestige-an, tapi untuk penggunaan sehari-hari, apakah worth it? Jelas tidak.
Penulis: Budi
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















