Setiap kali saya bilang mau liburan ke Kebumen, reaksi orang-orang selalu sama: ngapain? Dan saya selalu kesulitan menjawabnya, bukan karena nggak ada alasan, tapi karena alasannya terlalu manusiawi untuk dijelaskan ke orang yang otaknya sudah telanjur terisi oleh konten travel influencer.
Oke, Kebumen mungkin bukan destinasi yang selama ini selalu jadi pilihan orang-orang. Bahkan saya sendiri jarang dengar orang secara sengaja berlibur ke Kebumen. Maksudnya, merencanakan liburan ke sana dengan sengaja itu jarang banget. Jadi ya, misalkan ada yang heran, ya wajar.
Tapi, biarlah saya coba saya jelaskan pelan-pelan, kenapa ada orang liburan ke Kebumen.
Lelah liburan itu nyata, dan ini serius
Saya pernah liburan ke Jogja pas long weekend. Berangkat dengan semangat, pulang dengan punggung pegal, dompet sekarat, dan mental yang entah kenapa justru lebih butuh istirahat dari sebelum berangkat. Macet di Jalan Malioboro. Antre foto di depan Tugu. Semua itu saya lakoni dengan penuh kesadaran karena saya pikir itulah yang namanya “liburan yang sah.”
Sekarang saya nggak lagi berpikir seperti itu. Liburan yang bagus bukan liburan yang paling ramai, paling viral, atau paling banyak fotonya. Liburan yang bagus adalah yang bikin kamu pulang dengan kepala lebih ringan. Dan untuk itu, saya menemukan jawabannya di Kebumen.
Kebumen punya Pantai Menganti, Pantai Wedi Putih, Pantai Laguna Puring, Pantai Suwuk, dan beberapa pantai lain yang namanya belum sempat saya hafalkan semua. Semuanya cantik. Tebing karstnya dramatis, airnya biru, anginnya segar sampai bikin rambut berantakan dengan cara yang tidak menyebalkan.
Yang bikin saya begitu suka adalah nggak ada antrean foto.
Kamu bisa duduk di mana saja. Bisa bengong menatap laut tanpa ada orang yang minta geser karena “ganggu backgroundnya.” Bisa rebahan di pasir tanpa khawatir diinjak orang lewat. Anak-anak bisa lari-larian tanpa harus dipelototin karena menghalangi momen foto siapa pun.
Di pantai Kebumen, kamu bukan pengunjung yang harus antre. Kamu tamu yang disambut.
BACA JUGA: Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget
Perjalanannya punya rasa
Salah satu hal yang diam-diam saya nikmati dari liburan ke Kebumen adalah perjalanannya sendiri. Di Kebumen, perjalanannya masih terasa seperti perjalanan. Bukan siksaan.
Jalannya berkelok. Sesekali naik turun. Pemandangannya sawah, perbukitan, desa-desa kecil yang tenang. Di beberapa titik ada penjual kelapa muda yang mangkal di pinggir jalan, dan berhenti beli satu-dua biji itu rasanya sudah seperti bagian dari wisatanya sendiri.
Ini beda jauh dengan pengalaman menuju pantai di tempat lain yang saya pernah alami. dua jam terjebak macet, keluar di jalan sempit yang kanan kirinya penuh warung makan bermenu “instagramable,” lalu parkir di tempat yang tarifnya sudah ditetapkan semahal mungkin karena tahu kamu nggak punya pilihan lain.
Makanannya murah dan nggak pura-pura
Ini bagian favorit saya. Di Kebumen, warung sederhana masih jadi raja. Nggak ada konsep “harga naik karena view laut.” Nggak ada menu dengan nama Inggris yang ujung-ujungnya ya cuma nasi goreng juga. Kamu bisa makan ikan goreng, sambal, sama es teh dengan harga yang nggak bikin kamu hitung-hitungan sisa uang di dompet.
Lanthing, camilan khas Kebumen berbentuk angka delapan yang gurih dan renyah yang dijual di mana-mana dengan harga yang masuk akal. Nggak perlu embel-embel “artisanal” atau “small batch” supaya terlihat worth it.
Kebumen sepi bukan berarti nggak ada apa-apa
Saya tahu ada yang langsung ciut begitu dengar kata “sepi.” Tapi sepi di sini bukan berarti membosankan. Sepi di sini artinya kamu punya ruang untuk benar-benar hadir. Duduk lebih lama, ngobrol lebih panjang dengan orang yang kamu ajak pergi, perhatikan hal-hal kecil yang biasanya terlewat karena kamu terlalu sibuk memotret atau mengikuti itinerary yang sudah dirancang seminggu sebelumnya.
Di kota-kota wisata besar, semua hal terasa cepat. Jadwal padat, lokasi banyak, dan kamu terus bergerak sampai akhirnya nggak jelas ini lagi menikmati liburan atau lagi menyelesaikan tugas. Untunglah di Kebumen ritmenya lebih pelan, dan ini justru yang kita semua butuhkan. Ketergesa-gesaan membunuh apa-apa yang menyenangkan di dunia ini.
Jadi kalau kamu sedang merencanakan liburan dan bingung mau ke mana, dan kamu sudah agak bosan dengan jawaban yang itu-itu saja, coba pertimbangkan Kebumen. Nggak usah bikin itinerary terlalu detail. Tak perlu khawatir ketinggalan spot viral. Paling penting, nggak usah siapkan budget besar-besaran.
Cukup datang, duduk di pantai, makan lanthing, niscaya akan pulang dengan kepala yang lebih ringan. Dan ya memang sesederhana itu, sebab liburan memang seharusnya tak bikin pusing.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















