Saya seorang fisioterapis. Saya menulis ini seperti menulis catatan harian, setelah pulang kerja, saat badan lelah dan kepala masih penuh. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Hanya catatan kecil tentang profesi yang sudah saya jalani cukup lama.
Saya lulus kuliah D3 fisioterapi lebih dari dua puluh tahun lalu. Waktu itu, kondisi fisioterapi tidak seperti sekarang. Jauh lebih berat. Jauh lebih sering dianggap remeh. Pertanyaan “fisioterapi itu tukang pijat, ya?” hampir selalu muncul setiap kali saya mengenalkan profesiku.
Sekarang, saya harus jujur, kondisinya sudah agak mendingan. Persepsi masyarakat mulai berubah. Banyak yang sudah paham bahwa fisioterapi bukan sekadar pijat. Pasien mulai datang dengan harapan rehabilitasi, bukan hanya ingin “enakan”. Pertanyaan soal tukang pijat juga sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.
Tapi meskipun sudah membaik, anggapan recehnya belum benar-benar hilang.
Stigma fisioterapis dan fisioterapi dulu dan sekarang
Dulu, fisioterapi benar-benar terasa seperti profesi pelengkap. Sekarang, perannya mulai terlihat. Pendidikan juga berkembang. Ilmu makin luas. Praktik makin jelas arahnya. Saya bersyukur dengan perubahan itu.
Namun, sisa-sisa anggapan lama masih ada. Kadang tidak datang dari pasien, tapi justru dari sesama tenaga kesehatan. Ini yang kadang membuatku diam lebih lama dari biasanya.
Misalnya, seperti ini: ada pasien datang, dengan keluhannya, lalu ditangani, semuanya sudah diperbaiki. Tapi pasien masih mengeluh nyeri. Dokter yang mengoperasi sempat berkata, “Ya sudah, jalani fisioterapi aja. Nanti juga nggak sakit.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan terdengar menenangkan. Tapi bagiku, kalimat itu menyimpan masalah. Seolah-olah fisioterapi adalah tempat terakhir. Tempat “kalau masih sakit”. Tempat pelengkap setelah semua layanan kesehatan selesai dilakukan. Padahal saya melihat fisioterapi bukan seperti itu.
BACA JUGA: 9 Jurusan Fisioterapi Terbaik di Indonesia, Pilihan Kuliah Prospek Kerja Tinggi
Fisioterapi bukan layanan sisa
Bagi saya, fisioterapi adalah layanan kesehatan yang paripurna. Ia bukan sisa. Bukan cadangan. Bukan pelengkap yang datang belakangan hanya karena pasien belum sembuh.
Justru sering kali, fisioterapi adalah kunci agar hasil layanan kesehatan sebelumnya benar-benar bermakna. Operasi boleh sukses secara teknis, tapi tanpa rehabilitasi yang tepat, fungsi belum tentu kembali. Obat boleh mengurangi nyeri, tapi tanpa latihan dan edukasi, masalah bisa datang lagi.
Saya sering merasa, fisioterapi ditempatkan di ujung, padahal seharusnya berjalan bersama. Tapi karena persepsi lama masih tertinggal, fisioterapi kadang hanya disebut di akhir kalimat, bukan di awal perencanaan.
Bekerja di tengah sistem yang mulai berubah
Sebagai fisioterapis yang bekerja di instansi Rumah Sakit, selain bekerja dengan pasien, saya juga harus berhadapan dengan sistem layanan kesehatan seperti BPJS Kesehatan, yang tentu saja ada begitu banyak aturan yang harus diikuti. Rujukan harus sesuai. Laporan harus lengkap. Kalau ada yang kurang, prosesnya bisa lama. Hal ini yang mengakibatkan beban kerja cukup tinggi. Belum lagi pasien banyak. Waktu terbatas. Administrasi juga harus dikerjakan.
Di dalam sistem layanan kesehatan seperti BPJS Kesehatan ini, peran fisioterapi juga mulai lebih jelas dibanding dulu. Aksesnya ada. Jalurnya ada. Tapi tantangannya tetap besar.
Rasio tenaga dan pasien juga masih belum ideal. Tapi dibanding dua puluh tahun lalu, setidaknya fisioterapi sudah lebih sering disebut sebagai bagian dari layanan kesehatan, bukan sekadar pilihan tambahan.
Saya menghargai perubahan itu. Meski belum sempurna, tapi arahnya sudah lebih baik.
Receh yang masih tertinggal
Yang tersisa sekarang mungkin bukan lagi pertanyaan “tukang pijat”, tapi nada bicara yang masih meremehkan. Fisioterapi sering dianggap mudah. Seolah bisa diserahkan ke siapa saja. Seolah tidak butuh perencanaan serius.
Padahal, saya tetap harus berpikir setiap kali menangani pasien. Tetap harus hati-hati. Tetap harus bertanggung jawab. Bebannya tidak berubah hanya karena persepsi mulai membaik.
Seperti sebelumnya, saya dan rekan-rekan tetap bertahan dengan cara sederhana. Bercanda sedikit. Mengeluh sebentar. Lalu bekerja lagi. Kami tahu kondisi sekarang lebih baik dari dulu. Tapi kami juga tahu, perjalanan ini belum selesai.
Saya menulis ini bukan untuk nostalgia masa lalu. Saya justru bersyukur karena fisioterapi hari ini sudah lebih dihargai dibanding saat saya pertama lulus. Persepsi masyarakat mulai berubah. Perannya mulai diakui. Namun, anggapan receh itu masih ada. Kadang halus. Kadang tidak disadari. Bahkan kadang datang dari lingkungan sendiri.
Saya berharap suatu hari, fisioterapi tidak lagi disebut sebagai solusi terakhir setelah semuanya gagal, tapi sebagai bagian utuh dari layanan kesehatan sejak awal. Karena bagi saya, fisioterapi bukan tempat “ujung”. Ia adalah bagian dari proses menyembuhkan manusia secara menyeluruh.
Penulis: Ratno Wahyu Saputra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.








