Membicarakan KA Feeder Whoosh Padalarang-Bandung adalah membicarakan sebuah anomali transportasi modern di Indonesia. Di satu sisi, menjadi penyelamat bagi penumpang Whoosh yang enggan terjebak kemacetan di Pasteur atau Cimahi. Namun di sisi lain, menyimpan sebuah ironi yang sering kali luput dari kata-kata marketing, sebuah kompetisi fisik yang tak terelakkan bernama berebut kursi.
“Yah namanya juga gratis, pasti kualitasnya menyesuaikan”, ucap kata teman saya.
Padahal adanya KA Feeder Whoosh ini cukup membantu dari sisi kecepatan dan biaya transportasi. Coba bayangin kalau nggak ada KA Feeder, harus naik transportasi umum atau kendaraan online yang harganya lumayan tinggi untuk sampai ke Stasiun Bandung. Harusnya kenyamanan KA Feeder juga diperhatikan.
Gengsi yang terputus di Peron Padalarang
Pengalaman naik Whoosh adalah pengalaman kelas atas. Kita duduk di kursi ergonomis dengan ruang kaki yang luas, melaju 350 km/jam secara perlahan-lahan, dan merasa menjadi bagian dari masa depan. Namun, begitu pintu kereta cepat terbuka di Stasiun Padalarang, suasana seketika berubah.
Kekurangan paling nyata dari sistem ini adalah ketimpangan kapasitas. Satu rangkaian Whoosh sanggup membawa ratusan penumpang dalam sekali angkut. Sementara itu, rangkaian KA Feeder yang menunggu di peron sebelah memiliki kapasitas tempat duduk yang jauh lebih terbatas. Akibatnya jelas, siapa yang kakinya lebih cepat melangkah di peron, dialah yang berhak duduk manis hingga Stasiun Bandung.
Dan saya, selalu kalah cepat atau mengalah dari rombongan ibu-ibu piknik yang nyerobot masuk lebih dahulu.
BACA JUGA: Proyek Kereta Cepat Whoosh Terlalu Eksklusif, Cuman bikin KAI dan Rakyat Menderita
Ironi layanan gratis KA Feeder Whoosh
Secara teknis, layanan KA Feeder ini memang gratis bagi pemegang tiket Whoosh. Namun, sejujurnya label gratis sering kali menjadi pembenaran atas penurunan kualitas kenyamanan. Ada semacam pemakluman bahwa karena tidak bayar lagi, maka berdiri pun tidak apa-apa.
Padahal, penumpang tidak membayar untuk sebuah pengalaman yang terputus. Mereka membayar untuk sebuah perjalanan dari lokasi asal ke lokasi tujuan dengan standar kenyamanan yang seharusnya konsisten. Ketika harus berdiri berdesakan di KA Feeder setelah sebelumnya dimanjakan di Whoosh, ada rasa antiklimaks yang sulit disembunyikan. Nanggung euy!
Logistik yang menguras tenaga
Bagi penumpang yang membawa bagasi besar atau koper kabin, berebut kursi di KA Feeder Whoosh adalah mimpi buruk tersendiri. Di dalam gerbong yang penuh sesak, ruang untuk menaruh barang menjadi sangat terbatas. Belum lagi jika kita melihat akses keluar di Stasiun Bandung yang menuntut langkah kaki cukup jauh menuju area penjemputan.
Kenyamanan dan kecepatan yang ditawarkan KA Feeder seolah-olah harus dibayar dengan keringat dan kewaspadaan tinggi. Kita nggak bisa benar-benar bersantai, karena pikiran sudah terfokus pada strategi bagaimana caranya menjadi orang pertama yang masuk ke pintu kereta penyambung tersebut.
KA Feeder Whoosh memang solusi yang cerdas secara waktu, tetapi masih memiliki rapor merah secara distribusi kenyamanan. Selama rasio antara penumpang Whoosh dan ketersediaan kursi di Feeder belum seimbang, maka predikat nyaman mungkin hanyalah sebuah keberuntungan, bukan sebuah standar layanan yang pasti.
Pada akhirnya, secepat apa pun teknologi yang kita miliki, kita tetap dipaksa kembali ke insting dasar, berebut tempat demi sebuah kenyamanan singkat selama 19 menit.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dari Bogor ke Bandung Naik Whoosh Adalah Hal Terbodoh dalam Hidup yang Pernah Saya Lakukan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.







