Al Waqiah sedang menunjukkan sesuatu yang pahit, sekaligus menggandeng kita untuk melaluinya. Rasanya bikin lega banget.
Ada banyak sekali surah dalam Al-Qur.’an. Tiga puluh juz, ratusan surah, ribuan ayat. Ajaibnya, banyak umat muslim yang mampu menghafalnya. Tentu saja orang itu bukan saya. Kalau bicara pengin, jelas saya kepengin bisa hafal Al-Qur.’an. Tapi, yah, begitulah. Jangankan menghafal keseluruhan isi Al-Qur.’an. Juz 30 saja saya masih kepontal-pontal.
Meski kepontal-pontal menghafal juz 30, saya punya surah favorit di luar juz 30 yang nyaris saya hafal. Kenapa nyaris? Karena kadang masih kebalik-balik. Tapi kalau dipancing dikit bagian awalnya, kayaknya sih bisa. Kayaknya, loh ya. Hahaha…
Salah satu surah favorit yang saya maksud adalah surah Al Waqiah. Bukan tanpa alasan kenapa Al Waqiah jadi salah satu surah favorit saya. Tapi sebelum itu, saya akan cerita dulu sedikit tentang isi surah Al Waqiah. Siapa tahu ada yang masih awam dengan surah yang satu ini.
Baca juga: Pakai GPS, Sering Baca Al-Quran, Literasi Bagus tapi Masih Tersesat
Al Waqiah itu tentang apa?
Secara garis besar, surah Al Waqiah ini bercerita tentang hari kiamat. Tentang peristiwa besar yang pasti terjadi. Tentang hari ketika manusia dibagi menjadi tiga golongan. Yaitu, As-Sabiqun (yang terdahulu beriman), Ashabul Yamin (golongan kanan), dan Ashabul Syimal (golongan kiri), beserta balasannya masing-masing di akhirat.
Surah yang berisikan 96 ayat ini juga menggambarkan penciptaan diri, tanaman yang tumbuh, air yang diminum, dan api yang dinyalakan sebagai bukti kekuasaan-Nya. Ditegaskan pula tentang kepastian kematian. Bahwa, ajal adalah ketetapan yang tidak bisa dihindari.
Kok kedengarannya mengerikan, ya?
Yah, mungkin saja. Tapi sejatinya, semua itu adalah pengingat.
Lantas, kenapa saya suka Al Waqiah?
Jujur saja, awal saya menyukai surah ini hingga membacanya berulang-ulang, alasannya sederhana. Bahkan, cenderung duniawi. Jadi ceritanya, saya pernah baca entah di mana gitu saya lupa, katanya rutin membaca Al Waqiah bisa melancarkan rezeki. Nah, namanya juga manusia, langsung tertarik dong saya. Siapa sih di dunia ini yang nggak mau rezekinya lancar? Saya mau lah. Mau banget.
Akhirnya, jadilah. Saya mulai rutin membaca surah Al Waqiah. Eh, setelah sering-sering dibaca, lha kok enak, ya? Bukan, bukan tiba-tiba duit turun dari langit, ya. Nggak gitu. Maksud saya “enak” di sini adalah, surah Al Waqiah ini ketika dibaca, terasa ringan dilafalkan. Alias, nggak bikin lidah keriting. Selain itu, ayatnya juga cenderung pendek-pendek. Bernada pula. Jadi candu, deh.
Makin candu lagi ketika membaca arti tiap ayatnya. Definisi semakin kita membacanya, makin jatuh cinta. Rasanya, Al Waqiah sedang menunjukkan sesuatu yang pahit, sekaligus menggandeng kita untuk melaluinya. Gimana ya jelasinnya? Kayak gitu lah pokoknya.
Lalu, tentang rezeki
Wallahualam bishawab. Saya tidak berani memastikan rezeki, ya. Tapi ada satu hal yang jelas. Yaitu, setelah rutin membaca Al Waqiah, hati saya jauhhhhh lebih tenang. Ini sengaja loh saya nulis huruf ‘h’-nya agak banyak. Karena memang nyatanya, sejauh itu.
Hati ini jadi tidak grusak-grusuk soal duniawi. Tidak panik berlebihan kalau ada kebutuhan mendadak atau terlalu cemas kalau pemasukan sedang seret.
Dan kalian tau? Ketika diri ini tidak grusak-grusuk, rezeki malah datang dari arah yang tidak saya sangka. Kadang lewat pekerjaan kecil, bantuan tak terduga, atau berbagai kemudahan lainnya. Ada saja jalannya. Seolah, ketika hati tenang, pintu-pintu itu terbuka sendiri. Ajaib? Entahlah. Tapi saya merasakannya. Sungguh.
Pernah kehilangan duit
Saya jadi ingat. Beberapa bulan lalu, saya kehilangan amplop berisi duit Rp300 ribu. Duit itu, uang muka pekerjaan saya. Bagi kalian mungkin uang segitu nggak banyak, ya. Tapi bagi saya? Si bukan binti Hartono ini? Jelas Rp300 ribu adalah angka yang cukup lumayan.
Nah, kalaulah kejadian duit ilang itu menimpa saya sebelum akrab dengan surah Al Waqiah, pasti saya mewek. Pasti juga saya akan bad mood seharian, uring-uringan dan sudah jelas bakal minta ganti rugi ke suami. Hahaha…
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Saya legowo sekali. Nggak rungsang, malah tetap tenang. Hati kecil saya meyakini bahwa kalau hilang, berarti itu bukan rejeki saya. Toh, yang hilang “hanya” duit dan duniawi. Jadi, kenapa harus resah? Nggak dibawa mati ini.
Bayangkan. Bisa-bisanya saya bilang “hanya” di hadapan duit. Ck ck ck.
Ajaibnya, beberapa hari kemudian, salah satu teman saya menemukan amplop tersebut. Alhamdulillah, alhamdulillah. Al Waqiah, rasanya, menegaskan gini: “Lihat, kan? Tenang saja. Rezeki nggak akan ke mana. Apa yang sudah digariskan untukmu, maka akan selalu kembali padamu, dengan berbagai caranya!”
Meski demikian, semuanya kembali ke Gusti Allah
Saya meyakini ketenangan hati dan kelapangan rezeki selama ini bukan semata karena surah Al Waqiah, favorit saya itu. Saya yakin bukan. Sejatinya, semua itu balik lagi ke kersane Gusti Allah. Rahmat-Nya. Kuasa-Nya. Kehendak-Nya.
Al Waqiah mungkin hanyalah perantara. Jalan kecil yang membuat saya lebih sering mengingat-Nya. Dan mungkin, ketika hati lebih sering mengingat-Nya, di situlah rahmat itu turun.
Kalau kamu, apa surah favorit kamu di Al-Qur.’an?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Perintah Alquran Ihwal Membaca dan Menulis
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

















