Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
18 Februari 2026
A A
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Entah kenapa, belakangan ini ada satu hal kecil yang cukup terasa, terutama di sekitar Yogyakarta: semakin jarang menemukan penjual gudeg, tapi rumah makan Padang justru semakin menjamur. Jalan sedikit, ketemu masakan Padang. Belok gang, masih ada masakan Padang. Sementara warung gudeg jogja, ada, tapi tidak sebanyak dulu dan sering kali harus dicari dengan sengaja.

Padahal, gudeg adalah salah satu identitas kuliner khas Yogyakarta. Dulu rasanya gudeg begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mau sarapan bisa gudeg, makan siang juga bisa gudeg. Sekarang, banyak anak muda justru lebih sering bilang, “makan gudeg nanti saja, lagi pengin yang gurih atau pedas.”

Di sisi lain, masakan dari Padang seperti punya daya tarik yang lebih konsisten. Lauknya banyak, rasanya kuat, dan hampir selalu cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia. Mau nasi rendang, ayam pop, atau telur balado, semua tersedia dalam satu meja. Praktis dan tidak ribet memilih.

Gudeg Jogja terlalu “spesifik”

Menurut saya pribadi, salah satu alasan gudeg mulai kalah pesona adalah soal rasa yang terlalu “spesifik”. Gudeg identik dengan rasa manis, santan, dan tekstur yang lembut. Sementara selera anak muda sekarang cenderung condong ke makanan yang gurih, pedas, dan punya sensasi rasa yang lebih “nendang”. Di era makanan pedas level-levelan dan sambal di mana-mana, gudeg jogja yang kalem sering dianggap kurang menantang.

Belum lagi stigma yang melekat: gudeg itu makanan “berat tapi manis”. Buat sebagian anak muda, kombinasi ini terasa aneh. Makan nasi lengkap dengan lauk, tapi dominan manis. Akhirnya, gudeg lebih sering diposisikan sebagai makanan khas atau sesekali saja, bukan pilihan makan harian.

Faktor kepraktisan juga tidak bisa diabaikan. Rumah makan Padang punya sistem yang sangat cepat: duduk, makanan langsung dihidangkan, tinggal pilih dan makan. Sementara gudeg sering kali dijual dengan konsep yang lebih tradisional dan tidak selalu tersedia di banyak tempat. Dari sisi bisnis, model rumah makan Padang memang lebih mudah berkembang dan diperbanyak di berbagai daerah.

Kalau diperhatikan, jumlah rumah makan Padang hampir merata di seluruh Indonesia, dari kota besar sampai daerah kecil. Sedangkan gudeg masih sangat lekat dengan daerah asalnya dan belum benar-benar “merantau” secara masif seperti masakan Padang. Ini membuat eksposur gudeg jogja secara perlahan kalah di ruang publik kuliner.

BACA JUGA: 5 Gudeg Jogja yang Membuat Wisatawan Kecewa dan Wajib Kamu Hindari

Baca Juga:

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

Terlalu dipengaruhi oleh visual

Ada juga faktor gaya hidup. Anak muda sekarang sangat dipengaruhi tren dan visual. Makanan yang viral, pedas, atau unik lebih mudah menarik perhatian di media sosial. Gudeg jogja, yang tampilannya cenderung sederhana dan tradisional, sering kalah secara “daya tarik visual” dibanding makanan kekinian.

Tapi di sisi lain, saya rasa bukan berarti gudeg ditinggalkan sepenuhnya. Gudeg masih punya tempat yang kuat, terutama bagi orang yang rindu rasa autentik dan suasana klasik. Wisatawan yang datang ke Yogyakarta hampir pasti tetap mencari gudeg sebagai makanan wajib. Artinya, pesonanya masih ada, hanya tidak lagi dominan dalam keseharian.

Justru yang terjadi mungkin adalah pergeseran selera, bukan penolakan. Anak muda tidak membenci gudeg, hanya saja mereka tidak menjadikannya pilihan utama. Gudeg kalah bukan karena rasanya buruk, tapi karena zaman berubah lebih cepat daripada cara gudeg beradaptasi.

Menurut saya, kalau gudeg jogja ingin kembali dekat dengan generasi muda, perlu ada sedikit inovasi tanpa menghilangkan identitasnya. Entah dari segi penyajian, porsi yang lebih praktis, atau branding yang lebih kekinian. Karena bagaimanapun, gudeg bukan sekadar makanan manis dari nangka muda, tapi bagian dari cerita panjang budaya Jawa yang sayang kalau perlahan hanya jadi “makanan nostalgia” di daerahnya sendiri.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2026 oleh

Tags: gudeg jogjarasa gudeg jogjarekomendasi warung gudeg jogjarumah makan padang
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

6 Dosa Penjual Gudeg Jogja yang Sulit Dimaafkan Pembeli Mojok.co

6 Dosa Penjual Gudeg Jogja yang Sulit Dimaafkan Pembeli

25 Agustus 2025
Rumah Makan Padang yang Tidak Otentik Bukan Dosa (Unsplash)

Rumah Makan Padang yang Tidak Otentik Bukan Dosa, Tidak Perlu Dirazia apalagi Dilarang Jualan

30 Oktober 2024
Nasi Padang Menggusur Makanan Tradisional Indonesia (Pinerineks via Wikimedia Commons)

Makanan Tradisional Indonesia Bukan Tergusur Western Food, tapi Nasi Padang

1 Juli 2024
6 Dosa Penjual Gudeg yang Ngaku Asli Jogja

6 Dosa Penjual Gudeg yang Ngaku Asli Jogja

11 Januari 2023
Analisis Rivalitas Warteg VS Rumah Makan Padang dengan Pendekatan Marketing Mix

Analisis Rivalitas Warteg VS Rumah Makan Padang dengan Pendekatan Marketing Mix

22 April 2020
Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
3 Makanan Khas Jawa Timur yang Jangan Pernah Kamu Coba (Wikimedia Commons)

3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali

12 Februari 2026
4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Lumpia Semarang Cerita Cinta yang Dibungkus Kulit Tipis (Wikimedia Commons)

Lumpia Semarang: Cerita Cinta Lelaki Tionghoa dan Perempuan Jawa yang Dibungkus Kulit Tipis

14 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude
  • Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua
  • “Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta
  • Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan
  • Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman
  • Jangan Buka Puasa di Blok M kalau Tidak Mau Lanjut Puasa tanpa Sempat Makan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.