Jujur aja Indomie Nyemek Jogja enak, tapi kok kurang “nekat”, ya?
Setiap melihat bungkus Indomie rasa Rendang, saya harus menahan diri untuk tidak nyinyir. Kenapa rendang jadi warna ungu? Dari mana sejarahnya rendang bersekutu dengan warna penantian dan sendu? Mau berargumen perkara semiotika kemewahan dan premium, tetap saja bikin risih. Ungu, Cok! Rendang warna ungu!
Warna ini masih saja dipakai di seri Hype Abis, temuan unik Indomie yang terinspirasi mie nyemek. Tapi kali ini saya tidak hanya mengutuk soal warna. Sudah warnanya ungu, rasanya juga nanggung!
Indomie Nyemek Jogja yang pastinya untuk menemani Indomie Nyemek Banglahdes’e ini malah melempem. Rasa rendang jadi tone-down, rasa nyemeknya juga nggak nendang. Indomie fumble parah ketika seri sebelumnya berhasil merebut hati banyak pemuja.
Jogja kok rendang?
Sebentar… Tidak perlu berdebat perkara rendang dan Jogja dulu. Meskipun untuk mata telanjang, menyatukan Jogja dan rendang itu seperti menyatukan Aidit dan Suharto. Tetapi kawin silang ini bukan untuk mencuri budaya dan sejarah. Semua berawal dari inovasi di warmindo, tepatnya milik Bu Siti di Jogja.
Sebenarnya urusan inovasi Indomie sudah umum di Jogja. Dari omelet mie yang gurih menggoda sampai Indomie kuah susu bertabur kornet yang bikin enek. Dan mie nyemek Warmindo Bu Siti mendapat kehormatan untuk diabadikan sebagai lini baru produk Indomie.
Akan tetapi kenapa harus rendang? Dengan seabrek pilihan rasa, Indomie Rendang memang paling
cocok dijadikan mie nyemek. Basis bumbu yang aromatik kuat tidak pudar ketika ditambah bumbu oseng dan kuah. Harus kita akui, Indomie Rendang memang jahat karena aromanya yang kuat dan menggoda. Jika kamu membuat mie ini di Condongcatur, temanmu yang tinggal di Sragen pasti ngiler karena aroma gurih pekat dan lezat ini.
Sayang seribu sayang, kedigdayaan aroma rendang ini malah kena nerf parah di seri Indomie Hype Abis Nyemek Jogja. Harusnya Indomie ini jadi makin lezat, tapi jatuhnya malah nanggung kiri kanan.
Indomie Nyemek Jogja: aroma meyakinkan, rasa semenjana
Ketika memasak Indomie Hype Abis Nyemek Jogja untuk pertama kali, saya sudah optimis dengan cita rasanya. Apalagi saat membuka bungkus bumbu yang lebih besar daripada Indomie biasa. Aroma bumbu rendang yang kuat juga memeluk hidung yang memohon ampun. Lidah langsung sibuk menelan ludah.
Terbayang mie nyemek yang selesai dalam 3 menit. Bukan bermenit-menit antre di warmindo, terutama di Warmindo Bu Siti.
Saya terpaksa melanggar aturan yang dititahkan Indomie: tambahkan 12 sendok makan air rebusan mie ke dalam bumbu. Pengalaman dengan Indomie Hype Abis Nyemek Banglahdes’e membuat saya yakin kalau anjuran ini berlebihan. 4-6 sendok saja sudah cukup untuk tidak mengubah mie nyemek jadi mie kuah encer. Meskipun saya harus siap dengan konsekuensi mie bakal terlalu asin.
Tapi setelah mie tersaji, saya sama sekali tidak merasakan asin berlebih. Tidak ada umami yang overpower menyiksa lidah. Rasa rempah khas Indomie Rendang juga tidak mencubit. Bahkan untuk seseorang yang benci makanan pedas seperti saya, rasa Indomie Nyemek Jogja ini kelewat nanggung.
Saya sudah membayangkan rasa rempah dan bawang yang nendang seperti Indomie Nyemek Banglahdes’e. Tapi yang ada malah rasa nanggung yang entah mau ke mana. Enak? Tentu saja masih boleh saya sebut enak. Tapi nanggung!
Rendang yang kurang nendang
Hal yang paling bikin kecewa adalah cita rasa rendang yang sudah terbayang saat melihat bungkus warna ungu itu. Kelewat tipis! Rasa rendangnya hanya seperti sentuhan ringan di indra pencium dan pengecap.
Aroma yang bisa membuat tongkrongan bubar saat puasa malah direduksi parah. Jelas ini bukan karena saya kebanyakan kuah. Tak terbayang betapa nanggung rasa Indomie Nyemek Jogja ini jika mengikuti anjuran 12 sendok.
Saya coba untuk membuat Indomie ini lagi. Tapi tanpa kuah sama sekali. Toh air yang terperangkap di mie juga membuatnya lembap. Dan sekarang baru terasa nendangnya. Seperti Indomie Rendang biasa, tapi dengan sentuhan aroma bawang dan rempah lain yang lebih kuat.
Masalah, Indomie Hype Abis Nyemek Jogja ini dijanjikan sebagai mie nyemek khas warmindo Jogja. Bukan seri reguler yang lebih kompleks. Jadi saya harus mengakui hal getir: Indomie fumble dalam seri yang harusnya jadi favorit baru anak kos.
Belajar dari Indomie Nyemek Jogja, Indomie harus berani nekat
Apakah Indomie Nyemek Jogja enak? Tentu tetap enak dan bisa dimakan. Bukan seperti Indomie Salted Egg yang entah ditujukan pada manusia atau alien. Tapi semua serba nanggung untuk seri yang bikin orang penasaran. Entah karena berusaha memuaskan semua kalangan, atau murni fumble. Kalaupun memang mencari zona aman, kali ini zona tersebut malah jadi kesalahan fatal.
Indomie pernah berani membuat seri yang garang seperti Indomie Goreng Aceh dan Ayam Pop. Jadi, bukan waktunya main aman di seri fenomenal ini. Indomie harus berani nekat. Bukan untuk eksperimen gila, tapi menyempurnakan Indomie Nyemek Jogja ini.
Kalau rasa rendang dan rempahnya lebih kuat, saya yakin Indomie Hype Abis ini bisa menyingkirkan kompetitor yang pastinya segera ikut-ikutan membuat seri “mie nyemek”.
Sembari menunggu Indomie berani nekat sedikit, saya ingin bertanya sekali lagi: KENAPA MIE RENDANG BERWARNA UNGU?! Indomie Iga Penyet punya warna merah yang seksi. Indomie Cakalang kuah punya warna biru yang sangat nautical. Bahkan Indomie Mie Kocok Bandung punya warna kuning-jingga yang seksi. Kenapa mie yang harusnya jadi flagship Indomie berwarna ungu?! Rendang kok ungu?!
Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 5 Mi Instan yang Cocok Dibikin Mi Nyemek, Lebih Enak daripada Indomie Goreng!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















