Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Syahru Banu Salma Nadira oleh Syahru Banu Salma Nadira
14 Januari 2026
A A
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jurusan Keperawatan awalnya terasa seperti luka bagi saya. Tapi lama-lama jadi realita yang harus saya kunyah pelan-pelan…

Menjadi tenaga medis di Indonesia adalah mimpi hampir semua anak kecil yang pernah ditanya guru TK-nya. Di kepala saya dulu, sukses itu berarti pakai jas putih dan stetoskop yang menggantung gagah di leher. Namun, semesta ternyata punya cara yang lucu untuk menjatuhkan saya ke bumi. Jalur masuk jurusan Kedokteran menutup pintu rapat-rapat, dan di situlah saya berdiri di persimpangan antara tetap memaksakan diri atau sadar diri.

Akhirnya, saya memilih jalan yang banyak orang bilang sebagai “Plan B” abadi yaitu jurusan Keperawatan. Sebuah pilihan yang awalnya terasa seperti luka, tapi lama-lama jadi realita yang harus saya kunyah pelan-pelan.

Senyum kecut tetangga dan standar ganda prospek kerja

Momen paling menguji setelah dinyatakan masuk jurusan Keperawatan bukanlah saat ospek, melainkan saat harus menjawab pertanyaan tetangga di depan rumah. Ketika mereka tanya kuliah di mana dan saya jawab “Keperawatan”, responsnya selalu seragam.

“Oh, perawat… ya nggak apa-apa, Nak. Prospek kerjanya gede, kok!”

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang mirip seperti orang sedang menghibur anak kecil yang baru kehilangan balon. Ada sedikit rasa kasihan, sedikit merendahkan, dan banyak sekali nada “puk-puk”. Saya tahu di balik kalimat “prospek kerjanya gede”, terselip pikiran bahwa saya adalah pejuang jurusan Kedokteran yang kalah sebelum berperang.

Iya, saya tahu prospek kerjanya gede karena rumah sakit di Indonesia tumbuh lebih cepat daripada jamur di musim hujan. Tapi ya nggak perlu juga mukanya dibuat seolah-olah saya baru saja kena musibah.

Baca juga: 7 Istilah yang Perlu Diketahui Mahasiswa Keperawatan Sebelum Praktik Klinik di Rumah Sakit.

Baca Juga:

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

Dosen jurusan Keperawatan hobi menabur garam di atas luka

Ternyata ujian mental nggak cuma datang dari tetangga, tapi juga dari dalam kelas sendiri. Ada momen legendaris yang hampir selalu terjadi di semester awal mahasiswa jurusan Keperawatan. Momen dosen yang mencoba memberikan motivasi tapi malah bikin kita teringat trauma masa lalu.

“Nggak apa-apa ya kuliah di sini. Diterima saja takdirnya. Saya tahu, kok, sebagian besar dari kalian sebenarnya penginnya duduk di gedung sebelah (Kedokteran),” kata si dosen dengan wajah penuh simpati.

Duar! Rasanya seperti sedang berusaha melupakan mantan, eh, malah disebut-sebut namanya sama wali kelas. Kalimat “gedung sebelah” itu semacam hantu yang terus membayangi. Mahasiswa jurusan Keperawatan dipaksa menerima kenyataan bahwa kami adalah “alumni penolakan” yang berkumpul di satu ruangan. Kami disuruh ikhlas, padahal hati masih sedikit perih tiap kali lewat di depan gedung Kedokteran dan melihat mahasiswa di sana pakai jas lab dengan muka (yang terlihat) lebih cerah.

Kuliah Kedokteran itu mahal, Bos!

Mari kita bicara jujur soal isi dompet tanpa perlu pakai bumbu motivasi. Kuliah Kedokteran itu mahal. Titik. Jika Anda tidak jenius-jenius amat untuk tembus jalur reguler, biaya kuliah jalur mandiri bisa seharga rumah subsidi di pinggir kota atau mobil mewah keluaran terbaru.

Saya tidak ingin orang tua saya harus menjual ginjal hanya agar saya bisa belajar cara mengobati ginjal orang lain. Jurusan Keperawatan hadir sebagai solusi finansial yang lebih manusiawi bagi keluarga kelas menengah. Saya memilih realistis daripada idealis tapi bikin keluarga jatuh miskin. Ternyata, menerima takdir bahwa ekonomi keluarga tidak sanggup membiayai gelar “dokter” adalah bentuk kedewasaan yang menyakitkan sekaligus melegakan.

Materi jurusan Keperawatan yang bikin encok dan drama Askep yang tiada akhir

Ada sebuah mitos menyesatkan yang bilang kalau kuliah jurusan Keperawatan itu cuma “belajar nyuntik dan ganti perban”. Saya ingin tertawa kencang di depan muka orang yang bilang begitu. Di jurusan Keperawatan, kami belajar Anatomi dan Farmakologi dengan detail yang bikin kepala ingin meledak. Bedanya, perawat dibebani dengan tugas tambahan yang namanya Asuhan Keperawatan atau Askep.

Jika mahasiswa Kedokteran pusing dengan diagnosis penyakit, kami mahasiswa Keperawatan pusing dengan dokumentasi berlembar-lembar yang harus dikerjakan sambil menahan kantuk di stase malam. Kami belajar bagaimana cara memanusiakan manusia, yang ironisnya, kadang membuat kami sendiri lupa caranya beristirahat seperti manusia normal.

Baca juga: Kawanku, Tak Harus Kuliah Kedokteran untuk Jadi Mulia.

Gaji “uang lelah” dan pengakuan keluarga

Ini adalah bagian paling pahit dari menjadi realistis, yaitu perkara gaji. Kita semua tahu gaji perawat, terutama yang baru lulus, sering kali hanya cukup untuk bayar cicilan motor dan beli paket data. Kami dituntut punya sertifikat kompetensi ini-itu, tapi apresiasi finansialnya kadang bikin elus dada.

Namun, di tengah semua kerumitan gaji yang “uang lelah” banget itu, ada satu hal yang bikin saya tetap bertahan, yaitu pengakuan keluarga. Di mata keluarga besar, terutama saat lebaran atau arisan, tidak peduli gelar kamu “S.Kep., Ners” atau “dr.”, yang penting kamu adalah “orang rumah sakit”.

Begitu mereka tahu saya kuliah jurusan Keperawatan, mendadak saya jadi pusat puskesmas berjalan. “Nak, ini lutut om kenapa ya kalau malam linu?” atau “Coba tensiin bude, kemarin kebanyakan makan gulai kambing.” Di titik itu, saya merasa benar-benar “dianggap”.

Ada rasa bangga yang terselip saat saya bisa menjelaskan secara medis kenapa kepala tante pusing. Meskipun saya tahu mereka cuma mau mendengar kalau, “Itu cuma masuk angin, kok, Tante.”

Jurusan Keperawatan bukan pelarian, tapi panggilan ninja

Pada akhirnya, saya tidak lagi menyesal gagal jadi dokter. Menjadi perawat mengajarkan saya satu hal yang mungkin tidak didapat di bangku jurusan Kedokteran, yaitu kedekatan yang paling intim dengan pasien. Dokter datang untuk mendiagnosis lalu pergi, tapi perawatlah yang menemani setiap tarikan napas dan keluhan pasien selama 24 jam.

Bagi saya, jurusan Keperawatan bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah pilihan sadar untuk tetap berguna tanpa harus menghancurkan ekonomi keluarga. Sebuah jalan ninja yang mungkin tidak terlihat mentereng di atas kertas atau di mata tetangga tukang sayur, tapi sangat nyata saat kaki ini mulai melangkah di lorong-lorong rumah sakit.

Jadi, buat kamu yang masih merasa malu karena “tercebur” di jurusan Keperawatan sebab gagal masuk kedokteran, tenang saja. Kita tidak sedang gagal, kita hanya sedang menjadi manusia paling realistis yang berani menghadapi dunia dengan seragam putih-putih ini.

Penulis: Syahru Banu Salma Nadira
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2026 oleh

Tags: fakultas kedokteranjurusan keperawatankedokteranKuliahMahasiswamahasiswa kedokteranmahasiswa keperawatanPerawat
Syahru Banu Salma Nadira

Syahru Banu Salma Nadira

Mahasiswa Keperawatan di Universitas Diponegoro. seorang pengajar sekaligus penulis aktif yang memiliki minat besar pada literasi.

ArtikelTerkait

Ada yang Salah dengan Anggapan Lulus SMA Harus Kuliah, Lalu Kerja

Ada yang Salah dengan Anggapan Lulus SMA Harus Kuliah atau Kerja

6 Mei 2022
Membayangkan Seandainya Saya Jadi Mahasiswanya Dian Sastrowardoyo

Seandainya Saya Jadi Mahasiswanya Dian Sastrowardoyo

13 Mei 2023
tukang pangkas rambut

Tukang Pangkas Rambut Berpenghasilan 45 Juta Tiap Bulan: Makanya Jangan Suka Menyepelekan Pekerjaan Orang

8 Agustus 2019
Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker Mojok.co

Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker

8 Oktober 2025
Warjok, Warung Makan Dekat Kuburan yang Selalu Ramai Mahasiswa Untidar Magelang Mojok.co

Warjok, Warung Makan Dekat Kuburan yang Selalu Ramai Mahasiswa Untidar Magelang

20 Agustus 2024
mahasiswa indonesia di mesir universitas al azhar kairo mojok.co

5 Fakta ‘Nggak-nggak’ tentang Mahasiswa Indonesia di Mesir

12 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim
  • Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan
  • Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa
  • Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua
  • Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga
  • Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.