Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Nabila Dila Ardiyanti oleh Nabila Dila Ardiyanti
28 Desember 2025
A A
Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran di Pekalongan. Saya yang duduk di jok belakang sepeda motor kala itu sedang menikmati pemandangan kanan kiri jalan. Hingga satu titik menarik perhatian saya, lebih tepatnya terlalu mengganggu pemandangan sehingga mau tak mau saya menoleh ke arah tersebut. Tumpukan sampah yang teronggok di pinggir jalan.

Rasa-rasanya tadi sepanjang perjalanan dari Stasiun Pekalongan bersih-bersih saja. Kenapa tiba-tiba ada sampah? Apa masalah darurat sampah beberapa bulan lalu itu belum usai juga?

Pekalongan darurat sampah. Mungkin judul itu sudah beberapa bulan ini bergema di media massa dan dalam sekejap mengubah citra kota. Meredup sudah citra anggun Pekalongan sebagai Kota Batik dan kota Santri. Jika dibandingkan dengan setengah tahun yang lalu, memang masalah sampah ini sudah lebih baik.

Dikutip dari laman resmi Pemkot Pekalongan, sejak TPA Degayu tidak lagi beroperasi karena overload, kini telah tersedia 29 TPS-3R yang tersebar di berbagai titik kota. Membaca itu saya sempat merasa lega sekaligus heran. Kalau sudah ada banyak TPS, mengapa masih ada saja sampah yang menghiasi pinggir jalan?

Kurang kesadaran atau kurang imbauan?

Sekitar 29 TPS-3R tersebar di seluruh kota, dan 2 TPS-3R di antaranya berkapasitas besar yang diproyeksikan mampu mengolah sampah hingga 4 ton per jam. Namun mengapa masih ada tumpukan sampah di pinggir jalan Pekalongan?

Dari titik sampah yang saya lihat hari itu, saya mulai menduga ada dua kemungkinan. Bisa jadi tempat tersebut memang sudah lama dijadikan lokasi pembuangan oleh warga sekitar. Namun jika demikian, mengapa harus di pinggir jalan, tanpa penanda dan tanpa tempat sampah? Nah, pasti dugaan pertama saya keliru.

Beralih ke dugaan kedua, mengapa tidak terdapat petugas kebersihan atau semacamnya yang bertugas? Atau barangkali itu sudah menjadi kebiasaan yang berakar dari beberapa bulan lalu, sehingga warga masih melanjutkan pembuangan sampah di titik tersebut sampai sekarang?

Keberadaan TPS-3R dalam jumlah cukup di Pekalongan seharusnya mampu menekan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Setidaknya, itu yang saya bayangkan. Namun kenyataannya, persoalan sampah di Pekalongan ternyata tidak sesederhana menyediakan tempat. Hal tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan dan kesadaran bersama.

Baca Juga:

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

Bisa jadi masih ada warga yang tidak tahu di mana letak TPS terdekat, kapan sampah diangkut, atau bagaimana sistem pengelolaannya. Jika itu yang terjadi, TPS-3R hanya akan menjadi fasilitas yang berdiri tanpa fungsi maksimal.

Di sisi lain, saya juga merasa minimnya imbauan yang berkelanjutan mengenai sampah. Setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap ketika masih ada tumpukan sampah di pinggir jalan. Saat status Pekalongan darurat sampah ramai diberitakan, perhatian publik begitu besar. Namun setelah kondisi dianggap membaik, sosialisasi tampak meredup.

Akibatnya, kesadaran warga tidak terbentuk secara utuh, melainkan hanya bersifat sementara karena situasi darurat. Kebiasaan lama pun kembali muncul, termasuk menjadikan pinggir jalan sebagai tempat pembuangan yang dianggap praktis.

Jalan keluar yang bisa dicoba untuk benar-benar lepas dari masalah sampah Pekalongan

Dari apa yang saya lihat dan rasakan, persoalan sampah di Pekalongan ini sepertinya tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan fasilitas. Sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan masih terasa penting agar warga benar-benar tahu ke mana sampah seharusnya dibuang.

Penunjuk arah menuju TPS, papan informasi, atau himbauan tertulis di titik-titik rawan pembuangan sampah dapat menjadi langkah awal yang sederhana, tetapi cukup membantu warga. Keterlibatan perangkat kelurahan serta RT/RW juga menjadi penting. Sebab merekalah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari warga dan paling memahami kondisi lingkungannya.

Di saat yang sama, perlu pengaktifan petugas kebersihan setempat yang bertugas secara spesifik di wilayah rawan penumpukan sampah. Kehadiran petugas ini tidak hanya sebagai pengangkut sampah, tetapi juga sebagai pengawas sekaligus penghubung antara warga dan TPS-3R terdekat, sehingga alur pembuangan sampah menjadi lebih jelas dan terorganisir.

Meski demikian, saya menyadari persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya diletakkan di pundak pemerintah daerah Pekalongan. Sebagai masyarakat, kita juga perlu mengubah cara pandang bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama.

Tanpa kesadaran kolektif, sebaik apa pun fasilitas yang disediakan akan selalu menyisakan celah masalah. Kota yang bersih tidak lahir dari situasi krisis, melainkan dari kebiasaan warganya yang terjaga.

Penulis: Nabila Dila Ardiyanti
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jalan Imam Bonjol Pekalongan Memaksa Saya Ganti Motor: Baru Ganti Motor Sebulan Udah Masuk Bengkel.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Desember 2025 oleh

Tags: buang sampahbuang sampah sembaranganKabupaten PekalonganKota Pekalonganmasalah sampahpekalonganpekalongan darurat sampahsampah pekalongan
Nabila Dila Ardiyanti

Nabila Dila Ardiyanti

Penulis dari Pekalongan, tinggal di Semarang.

ArtikelTerkait

Sauto dan Lengko, Kuliner yang Jadi Sengketa Antara Tegal dan Daerah Tetangga

Sauto dan Lengko, Kuliner yang Jadi Sengketa Antara Tegal dan Daerah Tetangga

17 Februari 2023
Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

6 April 2025
nyampah

Mari Menyudahi Nyampah dari Dalam Mobil: Itu Sama Sekali Tidak Etis, Lur

11 Juli 2019
Kebijakan Pemkot Pekalongan yang Sebaiknya Nggak Usah Terlalu Dipercaya

Kebijakan Pemkot Pekalongan yang Sebaiknya Nggak Usah Terlalu Dipercaya

1 Juli 2023
Kota Bandung Mengulangi Dosa Pekalongan Terkait Gaji UMR (Unsplash)

Dosa Pekalongan, yang Juga Terjadi di Kota Bandung: Gaji UMR kok Dianggap Tinggi dan Mapan!

11 Agustus 2023
Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

18 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali pantai gunungkidul

4 Culture Shock yang Saya Rasakan sebagai Orang Demak Saat Pertama Kali Main ke Pantai Gunungkidul

12 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

Tidak Semua Anak PNS Hidup Sejahtera Bergelimang Harta, Banyak yang Justru Hidup Sengsara

14 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu
  • Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan
  • Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan
  • Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil
  • Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi
  • Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.