Padahal Jakarta punya Pulau Seribu, lho, tapi warganya malah lebih memilih liburan ke Bogor saja.
Orang Jakarta nggak selalu gila kerja, kami sesekali butuh tamasya. Kalau mumet ndase, kota metropolitan ini sebenarnya memiliki berbagai opsi selain mall yang siap menyegarkan pikiranmu. Ada taman kota, museum, perpustakaan estetik, pusat kuliner, dan laut (misalnya PIK dan Ancol). Namun destinasi yang disediakan Kota Jakarta kadang tidak menjadi pilihan warganya. Jujur saja, saya lebih suka liburan ke destinasi alam hijau dan dingin, ya ujung-ujungnya ke kawasan Bogor yang mudah dijangkau.
Padahal Jakarta memiliki wisata alam yang cakep dan natural, yaitu Pulau Seribu. Destinasi ini definisi healing yang sebenarnya, jauh dari hiruk pikuk ibu kota dan menenangkan. Sayangnya, orang Jakarta lebih sering melepas penat ke Bogor daripada ke gugusan Pulau Seribu ini. Saya pun demikian, mending macet-macetan ke Puncak atau Bogor ketimbang nyebrang pulau. Atau kalau sekedar mau menikmati laut, tinggal otw ke PIK aja di Jakarta Utara sana.
Kenapa sih sebenarnya penduduk ibu kota lebih senang liburan ke Bogor daripada ke Pulau Seribu yang cantik itu? Saya coba beberkan alasannya berdasarkan pengalaman pribadi.
#1 Perjalanan ke Bogor masih terjangkau, tidak perlu effort menyeberang laut
Pertama, untuk menuju Bogor lebih mudah daripada ke Pulau Seribu. Kamu cukup sediakan kendaraan pribadi atau naik transportasi umum saja. Tidak perlu repot menyeberang laut berjam-jam dengan segala drama ombak pasang atau mual.
Rute ke Kota Hujan ini pun gampang dan pastinya sudah familier, bisa ikuti Google Maps kalau baru pertama kali. Atau bagi kamu yang malas bawa kendaraan, bisa pilih transportasi umum.
Kalau waktu liburmu terbatas, jalan ke Bogor bisa jadi alternatif paling pas. Rasanya seharian pun kamu bisa keliling cari coffee shop estetik atau bahkan main ke curug. Jika ingin menjauh dari area kota, kamu bisa geser ke Puncak atau Sentul yang masih bagian dari Bogor.
Kalau ke Pulau Seribu, orang Jakarta perlu waktu minimal 2 hari untuk menikmati keindahannya. Belum lagi perjalanan pulau butuh waktu 2-3 jam.
#2 Di Bogor banyak pilihan kuliner dan kafe bernuansa alam ketimbang Pulau Seribu
Kedua, Bogor pun lebih unggul dari segi kuliner dan kafe instagramable dengan nuansa alam. Mulai dari warkop sederhana sampai restoran mewah pun tersedia, kamu tinggal pilih sesuai budget. Meskipun selalu ramai, saya kalau mau healing tipis-tipis pasti ke Bogor untuk menikmati lanskap hijau plus udaranya yang sejuk. Tidak hanya tempat makan, Bogor juga memiliki beragam wisata alam, seperti curug (air terjun), spot trekking, Kebun Raya, taman wisata keluarga, dan masih banyak lagi.
Saya nggak bermaksud untuk mengesampingkan Pulau Seribu karena tiap destinasi memiliki keunggulan masing-masing. Jika kamu suka jalan-jalan ke alam hijau dengan udara khas pegunungan, pergilah ke Bogor. Apalagi kamu lagi cari coffee shop kekinian, biar bisa nongkrong dengan caption “ngopi with a view”. Tapi kalau kamu ingin tenang sambil memandangi air laut biru dan hijau tosca, Pulau Seribu bisa jadi opsi.
Setelah menjelajahi kedua destinasi yang dekat dari Jakarta ini, saya sih lebih prefer ke Bogor. Ya meskipun saya nggak bisa nolak juga misalnya ada yang ajak nyebrang ke Pulau Seribu.
#3 Ramah transportasi umum dengan berbagai pilihan
Ketiga, ini yang paling esensial (menurut saya), Bogor lebih ramah transportasi umum dengan berbagai pilihan. Sebagai pengguna transum sejati, saya sangat terbantu dengan kemudahan akses ini. Saat ini terdapat berbagai moda yang dapat mengantarmu sampai Bogor dengan selamat, seperti KRL dan Transjakarta. Untuk ongkosnya pun terjangkau, tidak sampai menguras kantongmu.
Lain halnya dengan Pulau Seribu, transportasinya hanya kapal. Ada dua pilihan: mau naik kapal kayu yang murah tapi lambat atau kapal cepat dengan tarif sedikit pricey. Selain itu, untuk menuju dermaga pun agak effort karena terletak di ujung Jakarta, saya pernah berangkat dari Kamal Muara (Jakarta Utara). Perjalanan ke sana pun tak terjangkau angkutan umum, paling naik kendaraan pribadi atau ojol.
Akan tetapi kalau kamu sudah niat liburan, mau menyebrangi samudera atau membelah hutan belantara sekalipun pasti akan tetap gaskan. Hehehe…
#4 Tidak perlu open trip, jalan sendiri juga aman
Keempat, plesiran ke Bogor nggak ribet karena bisa terlaksana tanpa open trip. Kamu bebas mengatur waktu tanpa harus otw pagi buta kayak ke Pulau Seribu. Mau jalan sendiri sekedar me time atau bareng bestie atau with ayang ya bebas aja. Disamping itu, kamu bisa bikin itinerary sesuai keinginan tanpa dibatasi waktu. Kalau mau lebih lama menikmati sejuknya Bogor, boleh staycation dengan banyak pilihan penginapan.
Sementara ke Pulau Seribu, kamu justru disarankan ikut open trip. Saya beberapa kali main ke Pulau Seribu pakai jasa open trip ini, pernah sekali berangkat mandiri eh malah bingung. Sebenarnya praktis sih karena mereka sudah menyediakan jadwal dengan berbagai aktivitas dan destinasi.
Untuk harga sekitar Rp350 ribu menurut saya affordable, sudah termasuk kapal, homestay, makan, snorkeling, jelajah pantai, dan lain-lain. Meskipun demikian, saya lebih memilih liburan fleksibel yang nyaman dan nggak perlu banyak aturan.
Terlepas dari 4 hal di atas, warga Jakarta tetap memiliki preferensi masing-masing. Ada yang hobi ke Pulau Seribu untuk mencari suasana pantai berpasir putih, ada juga yang cuma ingin refreshing tipis-tipis sambil menghirup udara segar khas Bogor. Tapi jika disuruh memilih, saya tetap akan ke Bogor karena mager nyebrang laut.
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 4 Hal yang Wajar di Bogor, tapi Tidak Lumrah di Jakarta
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















