Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Boleh Saja Menata Ulang Pedestrian, tapi Pemerintah Sleman Jangan Lupakan Jalan Rusak dan Trotoar Tidak Layak yang Membahayakan Warganya

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
3 Desember 2025
A A
Ketika Warga Sleman Dihantui Jalan Rusak dan Trotoar Berbahaya (Unsplash)

Ketika Warga Sleman Dihantui Jalan Rusak dan Trotoar Berbahaya (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah beberapa minggu ini pedestrian di kompleks kantor Pemda Sleman sedang dipercantik. Hasilnya memang pasti akan kinclong, instagramable, dan bakal jadi lokasi favorit remaja tanggung kabupaten yang butuh background foto OOTD tanpa harus jauh-jauh ke Malioboro.

Masalahnya, setiap saya lewat proyek itu, satu pertanyaan muncul. Dan, mungkin terdengar tidak sopan bagi para pemangku kebijakan: “Emang ini yang paling urgent sekarang?”

Karena begitu keluar dari area perkantoran Pemda, menyusuri jalan-jalan Sleman yang lebih “real”, sebuah fakta menghantam. Kita, warga Sleman, selalu ingat bahwa jalan rusak masih ada banyak dan belum diperbaiki. Lalu, trotoar bagi pejalan kaki juga tidak semuanya cantik, apalagi layak.

Pedestrian di kawasan perkantoran pemerintah bakal cantik dan layak. Namun, beberapa meter dari situ, jalanan sudah seperti medan gladiator. Ada ironi yang cukup pedas di situ.

Ketika kesulitan menentukan skala prioritas

Saya adalah warga asli Sleman. Lahir dan besar di sini. Setiap hari, saya berurusan dengan jalanan yang kurang layak. Maka, melihat pemerintah Sleman mempercantik pedestriannya sendiri, saya seperti sedang menonton drama salah fokus. 

Boleh saja mempercantik kawasan perkantoran pemerintah. Namun, menurut saya, lakukan itu kalau pedestrian di titik lain sudah layak. Lakukan semua itu, kalau jalan rusak selesai diperbaiki.

Saya sangat paham bahwa pedestrian itu penting. Begitu juga dengan estetikanya. Namun, ketika hendak memperbaiki kawasan “rumah sendiri”, lakukan itu kalau kebutuhan warga yang lebih luas, sudah terpenuhi. Bukankah itu logika sederhana?

Masalahnya, saya sudah sering mendengar keluhan warga Sleman di sekitar saya. Bahwa proyek mempercantik pedestrian di kawasan perkantoran pemerintah itu cuma buang-buang anggaran. 

Baca Juga:

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

Pengalaman Saya Nyaris Gabung Sindikat Love Scamming Internasional di Sleman. Gajinya Besar, tapi Harus Jadi Cewek Seksi dan Bisa Sexting

Memang, opini ini bisa saja salah. Bisa jadi pedestrian memang punya target tertentu, proyek multi-year, atau bagian dari visi jangka panjang yang warga tidak tahu. Karena warga Sleman tidak tahu, lumrah muncul prasangka. 

Kenapa muncul prasangka? Karena masih banyak pedestrian/trotoar di Sleman yang tidak layak bagi pejalan kaki dan aspak jalan rusak sejak lama tanpa tersentuh perbaikan. Warga tentu hanya akan menilai dari apa yang mereka rasakan dan saksikan sendiri. Bukan dari janji-janji manis yang biasanya pasti akan jadi pahit ketika warga menagihnya di lain waktu.

Sleman itu bisa kalau cuma memperbaiki pedestrian dan jalan rusak

Saya sering bertanya-tanya. Apakah membuat infrastruktur yang tampak rapi di area kantor pemerintahan itu semacam kebutuhan psikologis birokrasi? Semacam statement “Lihat, ini loh tempat kerja yang modern dan tertata.”

Padahal di luar pagar, trotoar, dan jalanan yang berfungsi sebagai urat nadi warga Sleman justru sekarat. Kesan “sia-sia” bukan datang dari kebencian, tapi dari ketimpangan antara apa yang dibangun dan apa yang dibutuhkan. 

Soal jalan/aspal rusak, ada kehidupan sosial-ekonomi yang terganggu. Ada logistik lewat situ, driver ojol mencari penumpang, pedagang membutuhkan akses jalan, hingga emak-emak mengantar anak sekolah juga lewat situ.

Dan jujur saja, saya merasa ironis ketika negara bicara tentang “transportasi berkelanjutan”, “walkability”, “green city”, tapi warganya masih harus waspada jatuh ke lubang tiap lima meter.

Kalau mau bikin kota ramah pejalan kaki, mulai dari yang dasar

Kota-kota dengan pedestrian layak, bukan hanya soal estetika dan mulusnya aspal. Di sini, kita bicara soal solidnya sistem transportasi, penyeberangannya aman, infrastruktur ada, sampai bisa menentukan skala prioritas. Di Sleman? Begitu banyak trotoar tidak layak dan jalan rusak.

Coba susuri saja Jalan Kaliurang hingga Jalan Godean. Perhatikan, apakah trotoar di sana sudah layak dan aman untuk pejalan kaki. 

Untuk jalan rusak, coba amati Jalan Magelang dari Perempatan Denggung sampai Fly Over Jombor. Ini jalur nasional dengan banyak lubang dan bahaya. 

Lalu, ruas Tempel dari Banyurejo sampai Balerante. Kalau ingin merasakan sensasi naik motor seperti ikut reality show “Wipeout” versi Jawa, silakan lewat sini. Truk muatan pasir lewat sepanjang hari, dan jalannya sudah seperti hasil dicakar macan.

Ketiga, Jalan Kabupaten. Ini jalur emas Sleman. Semua entitas lewat sini mulai dari pekerja, ASN, mahasiswa, ojol, pedagang, hingga truk-truk besar. Tapi entah bagaimana, jalan ini seperti sengaja dibiarkan menua tanpa kasih sayang.

Keempat, jalur pinggir Selokan Mataram. Jalur pinggir Selokan Mataram itu digunakan warga untuk akses harian. Ini bukan jalur wisata, tapi jalur hidup. Tapi kalau Anda lihat kondisinya, rasanya seperti pemerintah lupa bahwa masyarakat tidak hanya berkegiatan di dekat kantor Pemda saja.

Saya tidak anti sama pembangunan estetis. Saya cuma minta logikanya lurus bahwa prioritas itu semestinya jatuh ke masalah terbesar yang menyentuh warga paling banyak. Fakta lapangan tidak berbohong. Lubang di jalan selalu lebih jujur daripada pidato peresmian.

Kalau benar-benar ingin mendukung budaya jalan kaki, ayo dong mulai dari pondasinya, dari jalan mulus, marka jelas, saluran air rapi, zebra cross tidak memudar seperti kenangan mantan.

Orang Pemerintah Sleman perlu berjalan kaki keliling kabupaten

Serius deh. Sebelum meresmikan pedestrian baru yang cantik itu, coba sesekali para pejabat Sleman jalan kaki atau naik motor keliling daerah yang jalanannya rusak. Rasakan sensasinya. Rebutan aspal dengan lubang. Ketar-ketir setiap masuk tikungan. 

Kalau perlu, lewatkan seminggu saja berkegiatan tanpa mobil dinas. Gunakan kendaraan yang sama seperti yang warga Sleman pakai. Saya yakin, persepsi soal “prioritas anggaran” bisa berubah drastis. Karena pembangunan yang baik bukan yang cantik difoto, tapi yang menyentuh kehidupan banyak orang.

Saya tidak menolak pedestrian, cuma menuntut logika

Saya, sebagai warga Sleman, hanya ingin hal sederhana. Uang publik dipakai sesuai kebutuhan publik. Pembenahan pedestrian itu bukan dosa politik tapi menomorsatukan estetika di kantor sendiri sementara rakyat berjibaku dengan jalan rusak dan trotoar tidak layak adalah bentuk ketidakpekaan.

Kalau anggaran itu dipakai dulu untuk memperbaiki jalan-jalan Sleman yang sudah kritis, hasilnya mungkin tidak viral dan mendapatkan pujian di Instagram. Tapi ia menyentuh tulang punggung mobilitas warganya. Dan bukankah itu esensi pembangunan?

Pedestrian bagus boleh, tapi jangan lupa bahwa jalan rusak tetap lebih jujur. Ia tidak bisa disulap dengan cat baru. Ia selalu memaksa kita bertanya “Sudah tepatkah prioritas pemerintah kita?”

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Terima Kasih Pemerintah Kabupaten Sleman, Sudah Menciptakan Pencegah Obesitas dan Darah Rendah Berupa Jalan Rusak di Jalan Kabupaten

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2025 oleh

Tags: Jalan Kabupaten Slemanjalan kaliurangjalan magelangjalan rusak di slemanpemda slemanselokan mataramSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Rumah di Sleman, Kuliah di Sleman, Ngapain Kos?

Rumah di Sleman, Kuliah di Sleman, Ngapain Kos?

21 April 2023
Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia gelar sarjana

Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia

12 April 2025
Gamping Sleman, "Pusat" Rumah Sakit di Jogja

Gamping, The Rise of Medical Empire: Kenapa Banyak Banget Rumah Sakit di Gamping?

15 Maret 2025
Jalan Palagan Jogja Tak Terawat dan Membahayakan Wisatawan (Unsplash)

Penuh Lubang dan Gelap, Jalan Palagan Jogja Semakin Berbahaya bagi Pengguna Jalan dan Wisatawan

11 Agustus 2024
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

22 Mei 2025
4 Tipe Mahasiswa yang Cocok Kuliah di Kota Semarang, Nggak Sembarang Orang Sanggup  Mojok.co jogja

Meski Banyak Orang Mencerca Kota Lumpia, Saya Memilih Menetap di Semarang ketimbang Jogja, Kota yang Pernah Saya Tinggali Belasan Tahun

9 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal
  • Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya
  • Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis
  • Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.