Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dear Pemkab Boyolali, Membenahi Diri Bukan Berarti Medianya Full AI, dong!

Muhammad Nur Azza oleh Muhammad Nur Azza
10 November 2025
A A
Dear Pemkab Boyolali, Membenahi Diri Bukan Berarti Medianya Full AI, dong!

Dear Pemkab Boyolali, Membenahi Diri Bukan Berarti Medianya Full AI, dong!

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini saya agak resah bahkan sangat resah melihat arah media komunikasi publik milik Pemerintah Kabupaten Boyolali yang baru. Entah kenapa, hampir semua media resminya, mulai dari banner dan baliho pengumuman acara, postingan di akun sosial resmi Pemkab Boyolali, video promosi daerah, sampai maskot bertema sapi, kini seragam: semuanya bernuansa AI generated.

Saya nggak anti-AI, serius. Teknologi itu keren, dan saya paham kalau hampir semua sektor termasuk dunia desain dan media sekarang memang sudah banyak bergantung pada kecerdasan buatan. Tapi ada satu hal yang saya rasakan hilang dari media resmi Pemkab Boyolali belakangan ini: sentuhan manusianya.

Pemkab Boyolali periode sebelumnya justru lebih baik

Saya justru lebih respect dengan Pemkab Boyolali di bawah bupati sebelumnya yang desain medianya sederhana, bahkan kadang bisa dibilang “jadul” dan cenderung “boomer banget”. Tapi di balik tampilan yang seadanya itu, terasa banget kalau itu hasil karya tangan sendiri. Ada rasa “dibuat dengan tangan manusia”, dengan ciri khas lokal yang mungkin nggak sempurna, tapi hangat dan jujur.

Sekarang, tiap kali saya lihat banner resmi atau video promosi dari Pemkab, yang muncul di kepala saya cuma satu, “Wah, ini pasti pakai AI.” Dari maskot sapi dengan bentuk yang terlalu “halus” yang benar-benar kelihatan kalau itu AI-generated, sampai video yang full AI-generated. Semua serba rapi, tapi dingin. Serba canggih, tapi kehilangan jiwa.

Coba deh, sempetin diri buat buka akun Instagram resmi milik Pemerintah Kabupaten Boyolali. Kamu bakal nemu banyak banget maskot sapi yang “AI banget” dan video-video promosi yang full AI. Gimana caranya mau memberdayakan sumber daya lokal kalau bayar desainer aja ga mau? Anggarannya lari kemana sih?

Nggak ada anggaran atau emang nggak mau?

Padahal, Boyolali punya potensi besar dalam hal kreativitas. Banyak desainer muda lokal yang jago. Tinggal diberi ruang dan kesempatan. Ironis aja, pemerintah yang seharusnya jadi wadah bagi kreativitas warganya malah memilih jalan pintas: menyerahkan semuanya pada mesin. Sekali lagi, anggarannya ke mana pak?

Apakah benar Pemkab Boyolali nggak punya anggaran untuk membayar desainer lokal? Atau mungkin cuma ingin yang cepat, murah, dan instan?

Andai ini bukan Pemkab, katakan saja misal warung kecil atau perusahaan rumahan, pakai AI untuk merender gambar atau video itu wajar karena terbatasnya biaya. Sedangkan ini kan Pemkab. Punya anggaran. Bukan masalah kalau melonggarkan anggaran buat biaya perdesainan media resmi. Bahkan itu bisa jadi simbiosis mutualisme. Pemkab dapat respons positif dari publik karena memiliki media yang bagus dan fresh. Desainer lokal juga bisa dapat kerjaan.

Baca Juga:

Ngemplak, Kecamatan yang Terlalu Solo untuk Boyolali

4 Menu yang Wajib Dicicipi di Spesial Soto Boyolali Hj. Hesti Widodo

AI bukan masalah kalau penggunaannya tepat

Saya sempat membandingkan dengan kabupaten tetangga, Klaten misalnya. Desain medianya bagus, segar, dan sangat terasa buatan manusianya. Ada identitas khasnya. Sementara Boyolali, yang dulu saya harapkan dengan bergantinya bupati, akan membawa kesegaran, malah berakhir seperti ini. Identitas lokalnya terkubur di balik hasil render digital.

Saya nggak bilang penggunaan AI itu salah. Tapi AI seharusnya jadi alat bantu, bukan pengganti. Gunakanlah untuk mencari ide, untuk mempercepat proses, atau memberi inspirasi. Tapi hasil akhirnya tetap perlu sentuhan manusia. Apalagi untuk media resmi pemerintah, yang membawa nama daerah dan wajah warganya sendiri.

Kalau semua serba AI, nanti yang tersisa dari media Boyolali tinggal apa? Keindahan visual tanpa makna? Atau kabupaten yang tampak modern, tapi kehilangan rasa manusianya?

Saya cuma warga biasa, bukan seniman atau desainer profesional. Tapi saya percaya, kehangatan dan karakter lokal jauh lebih berharga daripada sekadar visual yang sempurna. Boyolali itu bukan kota buatan mesin. Ia hidup dari tangan-tangan manusianya sendiri.

Jadi, tolonglah Pemkab Boyolali yang baru. Jangan biarkan kecerdasan buatan menghapus kecerdasan hati.

Penulis: Muhammad Nur Azza
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Boyolali Utara, Bagian Boyolali yang Sama Sekali Nggak Mirip Boyolali, Malah Mirip Sragen

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 November 2025 oleh

Tags: boyolaliinstagram pemkab boyolalipemkab boyolali
Muhammad Nur Azza

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

ArtikelTerkait

Biskuit Hatari, Biskuit Ndeso Penguasa Hajatan Boyolali Mojok.co

Biskuit Hatari, Biskuit Ndeso Penguasa Hajatan Boyolali

30 November 2023
Curahan Hati Orang Sragen yang Sering Mengaku Asli Solo daripada Daerah Aslinya Mojok.co

Curahan Hati Orang Sragen yang Lebih Sering Mengaku Asli Solo daripada Daerah Asalnya

29 September 2025
Loji Papak Boyolali yang Tersembunyi, Indah, Sekaligus Mencekam (Unsplash)

Loji Papak: Rahasia Kekayaan Sejarah Boyolali yang Mampu Memacu Nyali dan Adrenalin Pengunjung karena Aura Mistisnya

11 Februari 2024
Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah Mojok.co

Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah

21 Juli 2024
Gendar Pecel dan Lempok, Kuliner dari Ujung Boyolali yang Tak Setenar Soto Seger Terminal Mojok

Gendar Pecel dan Lempok, Kuliner dari Ujung Boyolali yang Tak Setenar Soto Seger

21 Januari 2021
5 Tempat Wisata Gratis di Boyolali yang Wajib Dikunjungi terminal mojok.co

5 Tempat Wisata Gratis di Boyolali yang Wajib Dikunjungi

27 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan Mojok.co

3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan

29 Januari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal
  • Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.