Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Guru Adalah Profesi yang dari Dulu Nyatanya Tidak Pernah Mulia karena Sejak Dulu Hanya Memberi Luka

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
8 September 2025
A A
Nyatanya Guru Tak Pernah Mulia, Sejak Dulu Isinya Hanya Luka MOJOK.CO

Nyatanya Guru Tak Pernah Mulia, Sejak Dulu Isinya Hanya Luka MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, profesi guru itu rebutan. Ada gengsi, wibawa, dan rasa bangga. Orang tua dengan penuh kebanggaan bisa berkata, “Anakku jadi guru.” Itu status sosial yang tinggi. Murid menghormati, tetangga segan, keluarga merasa terhormat. Gaji tidak seberapa, tapi ada imbalan lain: martabat. Profesi ini bukan hanya pekerjaan, tapi juga panggilan jiwa.

Sekarang? Coba tanya anak-anak muda. Siapa yang masih bercita-cita memeluk profesi ini? Jawaban paling sering: “Ah, males.” Profesi ini sudah bukan lagi simbol kehormatan, tapi semacam beban. Profesi ini bukan impian, malah jadi kutukan. Bukan lagi jalan mulia, tapi lorong sempit penuh tekanan.

Beban administrasi guru yang absurd

Guru sekarang seperti korban sistem. Beban kerja menumpuk, gaji pas-pasan, dan penghargaan semakin tipis. Profesi yang dulu penuh wibawa kini berubah jadi sekadar mesin administrasi. Yang dicatat bukan lagi kualitas mengajar, tapi setumpuk berkas. Rapor kinerja. Laporan daring. Dokumen-dokumen absurd yang sering lebih banyak daripada jam tatap muka dengan murid.

Profesi ini akhirnya lebih sering menatap layar laptop daripada menatap mata muridnya. Lebih sibuk mengisi kolom nilai di aplikasi daripada memberi nilai hidup di kelas. Dulu pencerah, sekarang operator sistem.

Soal gaji? Dari dulu memang kecil, tapi dulu ada penghormatan. Sekarang penghormatan itu luntur. Murid makin berani, orang tua makin cerewet, birokrasi makin kejam. Guru berdiri di persimpangan yaitu gaji tetap kecil, tapi tekanan makin besar. Sakit hati dapat, kantong tetap bolong.

Hilangnya wibawa guru

Dulu murid takut sama guru. Bukan karena galak, tapi karena ada aura wibawa. Sekarang? Murid bisa seenaknya. Menghina, menyepelekan, bahkan melawan. Kalau pengajar menegur, orang tua siap pasang badan. Melapor polisi. Viralkan di medsos. Guru diseret jadi pelaku, murid jadi korban. Dunia terbalik.

Mereka dianggap harus sempurna. Kalau murid bodoh, guru salah. Ada yang nakal, gurunya gagal. Jika murid pintar? Itu karena bimbel, bukan gurunya. Guru jadi kambing hitam abadi.

Profesi guru itu tanpa gengsi

Anak-anak pintar sekarang bercita-cita jadi dokter, pengusaha, influencer, content creator. Jarang ada yang bilang, “Aku mau jadi guru.” Itu dianggap pilihan terakhir, jalan buntu. Profesi yang dulunya rebutan kini sepi peminat.

Baca Juga:

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Dulu guru sumber ilmu. Sekarang ilmu ada di internet. Murid merasa lebih pintar karena bisa googling. Guru dianggap ketinggalan zaman. Padahal justru guru yang harus beradaptasi tanpa henti, mengejar teknologi, meski gaji tak pernah mengejar kebutuhan.

Racun kata “ikhlas”

Guru dituntut ikhlas, rela, sabar. Kata-kata manis yang terdengar mulia, tapi sebenarnya racun. Artinya: jangan banyak menuntut. Jangan protes. Jangan minta lebih. Jalani saja dengan wajah pasrah, meski hati menangis.

Siklus tanpa akhir. Bangun pagi, berangkat dengan semangat yang dipaksa. Mengajar murid yang tak peduli. Menghadapi orang tua yang rewel. Mengisi berkas tak berujung. Pulang lelah. Besok diulang lagi. Siklus tanpa akhir.

Janji manis sering diulang, realitasnya pahit. Sertifikasi yang katanya menyejahterakan, ujungnya sekadar formalitas melelahkan. Mereka harus ikut pelatihan ini, seminar itu, tes sana, tes sini. Tapi kondisi hidup tetap sama: serba kekurangan. Pendidikan yang katanya prioritas bangsa justru dibebankan ke pundak mereka dengan cara paling brutal.

Retorika “pahlawan tanpa tanda jasa”

Kalimat itu seolah penghormatan, tapi sebenarnya penghinaan. Apa artinya pahlawan kalau tidak diberi jasa yang layak? Apa artinya gelar pahlawan kalau hanya jadi dekorasi retorika?

Dulu guru kebanggaan keluarga. Sekarang banyak keluarga justru melarang anaknya jadi guru. “Nanti hidupmu susah.” Profesi yang dulu dianggap jalan mulia, kini dihindari seperti penyakit.

Beban psikologis guru

Setiap hari diminta mencetak generasi berkualitas, sementara hidupnya sendiri digilas. Diminta mengajarkan kesuksesan, sementara dirinya gagal menikmati hasil. Diminta memberi teladan, sementara sistem memperlakukan tanpa teladan. Mereka dipaksa kuat, meski rapuh. Dipaksa sabar, meski marah. Dipaksa loyal, meski dikhianati.

Profesi jadi penjara, itulah guru. Menjadi guru kini bukan sekadar pekerjaan, tapi penjara. Penjara dengan seragam rapi, senyum terpaksa, dan idealisme yang terkikis pelan-pelan. Kutukan yang diwarisi dari sistem, masyarakat, dan semua pihak yang pura-pura peduli.

Ironi yang menyakitkan

Yang paling menyakitkan: guru tahu semua ini. Mereka sadar sedang diperas. Mereka sadar sedang ditindas. Tapi mereka tetap bertahan. Karena terlanjur terikat, tak ada pilihan lain, dan masih ada sedikit harapan: di antara murid yang acuh, masih ada satu-dua yang menghargai.

Dulu, profesi ini adalah impian. Sekarang, profesi ini adalah kutukan. Dulu profesi ini diperebutkan. Sekarang profesi ini dihindari. Sejarah berbalik dengan cara paling ironis. Dan di balik semua drama ini, yang tetap kalah adalah guru itu sendiri.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2025 oleh

Tags: gaji guruguruPahlawan Tanpa Tanda Jasaprofesi guru
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah Mojok.co

Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah

8 Februari 2024
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Orang Pintar Kuliah Jurusan Pendidikan Dianggap Menyia-nyiakan Potensi, Cara Kerja Otakmu Itu Bagaimana?

12 Agustus 2024
Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

23 Mei 2026
Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang sekolah swasta

Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang

1 Agustus 2024
anak guru pernyataan guru di kelas bikin kaget deg-degan siswa guru jail mojok.co

Nostalgia 3 Pernyataan Guru di Kelas yang Paling Bikin Deg-degan

21 Mei 2020
Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

24 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026
Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah  Mojok.co

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

7 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.