Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

Karisma Nur Fitria oleh Karisma Nur Fitria
25 Juli 2025
A A
Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya adalah orang Jawa yang lahir dan besar di Sumatra. Kalau saya bilang asal saya dari Jawa, urusannya jadi panjang. Tetapi kalau saya bilang dari Sumatra, kebanyakan orang nggak percaya. Rumit!

Saat memperkenalkan diri kepada orang baru, ada 2 hal yang jadi sorotan. Apalagi kalau bukan nama dan asal daerah. Ini sudah paket komplet yang tidak terpisahkan. 

ADVERTISEMENT

Coba diingat-ingat lagi. Setiap kali masuk ke lingkungan baru, sekolah misalnya. Di masa orientasi pasti kita disuruh perkenalan dengan format “sebutkan nama, asal, dan tempat tinggal sekarang”. Begitu terus template-nya dari saya SMA sampai masuk S2. 

Dari huru-hara perkenalan ini, bukan cuma soal nama saya yang bikin urusan makin panjang. Asal atau asli saya juga selalu jadi pertanyaan. Heran.  

Dari setiap ajang perkenalan, pokoknya saya sudah harus siap mental. Siap menjawab pertanyaan dari A sampai Z soal asal atau asli saya. Pasti akan selalu diburu hingga tahu asal daerah atau sukunya. 

Masalahnya begini. Ketika memperkenalkan diri “Saya Karisma, asalnya dari Sumatra Selatan”. Pasti orang langsung menimpali, “Kok nggak ada muka-muka Sumatranya?”. Nah, ini yang bikin kesal. Katanya disuruh memperkenalkan “asal”, kok jadi nyimpang ke “asli” begini?

Segitu pentingnya “asal” dan “asli” bagi orang Indonesia

Setahu saya, “asal” itu biasanya merujuk ke tempat tinggal. Sedangkan “asli” lebih mengarah ke suku atau silsilah asli keluarga. Tetapi pengertian ini sepertinya tidak bisa diterima semua orang. Khususnya ketika orang lain melihat saya. Seperti ada bias yang harus ditemukan jawabannya. 

Saya adalah orang dengan suku Jawa yang lahir dan besar di Sumatra. Bapak saya asli Jogja, dan Mamak asli Salatiga. Persoalan yang simpel sih sebenarnya. Tetapi cukup untuk membuat saya mengalami krisis identitas.

Baca Juga:

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

Ketika saya mengaku sebagai orang Jawa, selalu akan ditanyakan “Jawanya mana?”. Sudah ketebak. Pasti ujung-ujungnya akan jadi panjang lagi. Mau mengaku sebagai orang Sumatra, makin diragukan lagi. Soalnya muka saya Jawa banget!

Ditambah lagi pengalaman kurang mengenakkan yang pernah saya alami belum lama ini. Kejadiannya sekitar satu bulan lalu. Saat itu saya baru kembali ke Jogja dari Sumatra. Dari Terminal Jombor ke kos, saya memutuskan untuk memakai jasa GrabCar. 

Selang beberapa saat, drivernya membuka pembicaraan “Dari mana, Mbak?”. Ya, saya jawab dong, dari Sumatra. Kebetulan memang saat itu baru pulang mudik. Saya pikir ini basa-basi biasa. Ternyata nggak!

“Kok nggak ada muka-muka Sumatranya? Kebetulan saya asli Padang. Muka itu nggak bisa bohong, Mbak.” Mendengar kata-kata terakhir si driver bikin saya terjun payung. Ternyata nggak cukup sampai di situ. “Saya lihatin dari tadi, kalau Mbak bilang dari Sumatra, kok warna kulitnya sawo matang. Takutnya ngaku-ngaku, jadi saya tanyain ini tadi.” Pasti kebayang ya situasinya seperti apa. 

Saya bingung jadinya harus jawab apa. Rasanya, ketika di Jawa ataupun Sumatra, saya tidak berhak mengakui keduanya sebagai asal atau asli saya. 

Wajar Indonesia jadi negara paling rasis ke-14 di dunia

Siapa bilang Indonesia bukan negara rasis? Ini bukan cuma berdasarkan pengalaman saya. Berdasarkan data penyelenggara statistik Index Mundi, Indonesia disebut sebagai negara paling rasis ke-14 di dunia setelah Amerika Serikat. Bayangin saja, dunia lho bukan kabupaten!

Saya merasa hidup di Indonesia itu kalau jadi pribumi bisa punya banyak privilese dana lebih “aman”. Ketika orang tahu asal atau asli saya, pasti pandangan orang jadi berbeda. Seperti ada yang salah dari background saya.  

Terkadang saya berpikir. Ini termasuk rasisme bukan, sih? Ternyata setelah saya kumpulkan semua ingatan ini setelah dewasa, iya. Tidak hanya di lingkungan sosial, sekelas lingkungan pendidikan juga sama parahnya. 

Mengaku Jawa sulit, mengaku Sumatra apalagi

Waktu SMA, saya bersekolah di daerah kabupaten kota. Keluar dari daerah pelosok Sumatra. Bahkan ketika sekolah, saya dan teman-teman yang bukan asli Sumatra disebut sebagai wong Jawo atau orang Jawa. 

Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Jogja. Harapannya ya supaya kembali jadi orang Jawa. Seperti keinginan orang-orang. Eh, ternyata tidak bisa begitu juga. Ketika memperkenalkan diri sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di Sumatra, mereka melebeli saya sebagai orang Sumatra. 

Intinya, mau di Jawa, mau di Sumatra, saya merasa tetap ada di perantauan. Tidak bisa mengaku sebagai orang asal atau asli keduanya. Susah, ya. 

Saya jadi merasa serba salah. Bisa nggak sih mengaku jadi “orang Indonesia” saja?

Penulis: Karisma Nur Fitria
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Culture Shock Orang Jawa yang Merantau di Tanah Sunda, Banyak Orang Ngomong Pakai Dialog ala FTV.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2025 oleh

Tags: Jawaorang jawaOrang SumatraSumatra
Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria, dari menulis dia jadi suka jalan-jalan.

ArtikelTerkait

Perbedaan Sapu Jawa dan Sapu Sumatra: Bikin Culture Shock Pengguna

Perbedaan Sapu Jawa dan Sapu Sumatra: Bikin Culture Shock Pengguna

28 Februari 2024
Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang Mojok.co

Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang

8 Desember 2025
11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda Mojok.co

11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda

20 Desember 2023
Arema Adalah Gerbang Perkenalan Saya dengan Bahasa Walikan dan Pisuhan Jawa Timur terminal mojok.co

Lima Filosofi Sederhana Orang Jawa yang Bisa Mendamaikan Hati

28 Agustus 2019
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Bahasa Jawa yang Kaya, "Minum" Bisa Diterjemahkan Jadi 8 Kata Berbeda Mojok.co

Bahasa Jawa yang Kaya, “Minum” Bisa Diterjemahkan Jadi 8 Kata Berbeda

6 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

3 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.