Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bukan karena Gengsi, Orang Jakarta Memang “Dipaksa” Nggak Suka Naik Transportasi Umum 

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
10 Mei 2025
A A
Bukannya Malas, Orang Jakarta Memang “Dipaksa” Nggak Suka Naik Transportasi Umum Mojok.co

Bukannya Malas, Orang Jakarta Memang “Dipaksa” Nggak Suka Naik Transportasi Umum  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel di Terminal Mojok dengan judul berjudul 5 Alasan Punya Mobil Pribadi di Jakarta Itu Sekarang Sudah Nggak Worth It. Ada banyak tanggapan terhadap tulisan tersebut. Saya jadi mempertanyakan, kalau punya mobil sebegitu merepotkan, kenapa masih banyak orang Jakarta tetap pakai kendaraan pribadi daripada kendaraan umum untuk mobilitasnya? Apakah transportasi umum Jakarta jauh lebih merepotkan daripada mobil atau kendaraan pribadi lain? 

Rasa penasaran itu mendorong saya melakukan riset kecil-kecilan. Saya ngobrol dengan beberapa teman-teman dan kenalan yang tinggal dan beraktivitas di Jakarta. Pertanyaan saya simpel saja, kenapa sih kamu nggak naik transportasi umum aja? Jawabannya tentu macam-macam, tapi benang merahnya cukup jelas: kendaraan pribadi mungkin ribet, tapi bagi sebagian orang, transportasi umum masih lebih ribet lagi. 

Nah, tulisan ini akan membahas alasan-alasan itu—bukan buat menyalahkan, tapi buat memahami kenapa keputusan naik kendaraan pribadi kadang bukan soal gengsi, tapi soal bertahan hidup.

Kendaraan pribadi itu lebih fleksibel

Salah satu alasan paling sering muncul dari obrolan saya dengan teman-teman adalah “Naik kendaraan pribadi lebih fleksibel.” Dan kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Di Jakarta, waktu adalah mata uang. Selisih lima menit bisa berarti selisih dua jam kalau kamu salah langkah—atau salah moda transportasi.

Dengan naik motor atau mobil sendiri, orang bisa mengatur waktu dan rute sesuka hati. Mau berangkat agak siangan? Bisa. Mau mampir dulu beli kopi atau anter anak sekolah sebelum ke kantor? Gas. Nggak perlu menyesuaikan jadwal bus atau kereta, apalagi nunggu lama di halte sambil mikir, “Ini TransJakarta-nya beneran jalan atau cuma mitos?”

Seorang teman pernah bilang begini: “Gue udah coba naik MRT. Tapi, dari rumah ke stasiun kudu naik ojek dulu. Terus pindah MRT, nyambung lagi jalan kaki. Belum kalo ujan. Ujung-ujungnya malah capek duluan sebelum kerja.” Di sinilah kendaraan pribadi jadi seperti remote control buat hidup di Jakarta. Memang nggak sempurna, tapi setidaknya kitalah yang pegang kendali.

Transportasi umum itu ramai, kadang terlalu ramai

Alasan lain yang sering saya dengar—dan saya yakin ini juga sering dirasakan banyak orang—adalah soal keramaian. Transportasi umum di Jakarta itu ibarat lautan manusia. Pada jam-jam tertentu, terutama pagi dan sore hari, jumlah orang yang naik bisa bikin stasiun atau halte terasa seperti konser tanpa musik. Ada dorong-dorongan, ada desak-desakan, dan ada juga momen pasrah saat kamu nggak perlu lagi jalan, cukup ikut arus dorongan orang lain.

Buat sebagian orang, ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal energi mental. Berdesakan dalam kerumunan sambil menjaga tas, menjaga napas, dan menjaga emosi itu butuh stamina tersendiri. Apalagi kalau kamu harus berdiri hampir sepanjang perjalanan, sambil berusaha nggak nginjek kaki orang atau ketiban tas punggung sebelah. Naik kendaraan pribadi memang nggak bebas macet, tapi setidaknya kamu bisa duduk, mengatur suhu AC, dan putar playlist tanpa harus rebutan tempat duduk.

Baca Juga:

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

Seorang kenalan bahkan bilang, “Kalau habis naik transportasi umum, gue udah habis duluan tenaganya sebelum mulai kerja.” Dan itu masuk akal. Nggak semua orang tahan dengan interaksi sosial yang begitu intens pada pagi hari. Ada yang butuh ruang sendiri, ada yang lebih nyaman berangkat sambil merenung atau dengerin podcast tanpa diganggu aroma ketiak orang tak dikenal. Dalam hal ini, kendaraan pribadi bukan cuma alat transportasi, tapi juga ruang aman buat tetap waras di tengah kerasnya kehidupan kota.

Transportasi umum Jakarta belum terintegrasi sepenuhnya

Di atas kertas, sistem transportasi umum di Jakarta kelihatan keren: ada MRT, ada LRT, ada TransJakarta, ada KRL, ada angkot bertransformasi jadi JakLingko. Tapi kenyataannya, jaringan ini belum sepenuhnya terhubung mulus. Masih banyak titik-titik yang kosong, rute yang harus dipotong sambung, atau moda yang nggak saling kenal satu sama lain. Ibarat keluarga besar yang tinggal serumah, tapi semua diam-diaman.

Banyak yang cerita kalau mau naik transportasi umum itu harus siap naik-turun tiga sampai empat kali, belum termasuk jalan kaki antar titik atau naik ojek buat nyambungin celah rute. Kalau udah gitu, waktu tempuh jadi lebih lama, tenaga lebih terkuras, dan ongkos pun kadang nggak jauh beda dengan naik motor sendiri sambil ngopi di lampu merah.

Teman saya bahkan pernah nyeletuk, “Transportasi umum kita tuh kayak puzzle yang belum lengkap, jadi capek duluan nyusunnya.” Dan, dari situ saya sadar, niat baik infrastruktur memang ada, tapi sampai semuanya benar-benar nyambung dan efisien, banyak warga Jakarta yang akan tetap memilih nyetir sendiri, meskipun harus berjibaku dengan kemacetan dan pengeluaran ekstra.

Kendaraan pribadi lebih privat jadinya lebih damai

Poin ini mungkin terdengar sepele, tapi buat sebagian orang justru jadi alasan utama: kendaraan pribadi memberikan ruang privasi. Di tengah kota yang bising, padat, dan serba buru-buru, duduk sendirian di dalam mobil atau motor bisa jadi momen meditasi kecil. Kamu bisa ngerengek bareng lagu galau, ngobrol sendiri ala podcast, atau cuma diam sambil ngelamun tanpa takut ada yang ngeliatin aneh.

Berbeda dengan transportasi umum, yang mana kamu harus berbagi ruang dengan puluhan, bahkan ratusan manusia lainnya. Setiap sudut jadi ruang sosial. Ada yang ngobrol keras-keras lewat telepon, ada yang nonton video tanpa earphone, dan ada juga yang tidur sambil ngorok tanpa dosa. Buat sebagian orang, ini mengganggu. Bukan karena anti-sosial, tapi karena nggak semua orang siap menerima dunia luar sebelum jam 9 pagi.

Motor dan mobil pribadi juga memberi kendali penuh atas suasana. Mau nyetel musik EDM volume 100? Monggo. Mau naik motor sambil nyanyi tanpa takut dilihatin? Gas. Nggak ada drama rebutan tempat duduk, nggak ada pemandangan random yang memancing insting bertahan hidup. Dalam kendaraan pribadi, kamu jadi penguasa kecil atas waktu, ruang, dan ketenanganmu sendiri. Dan buat banyak orang Jakarta, damai yang seperti itu nilainya lebih mahal dari sekadar hemat ongkos.

Transportasi umum Jakarta masih terlalu bergantung pada “keberuntungan”

Meski sudah banyak perbaikan di sana-sini, naik transportasi umum di Jakarta masih sering terasa seperti ujian kesabaran dan kadang ujian iman. Jadwal yang suka molor, armada yang penuh tanpa ampun, AC yang kadang nyala kadang ngambek, hingga pengemudi yang mood-nya bisa mempengaruhi kenyamanan satu gerbong. Dalam kondisi begitu, penumpang seringkali cuma bisa pasrah dan berharap semesta sedang baik hati hari itu.

Seorang teman pernah bilang, “Naik transportasi umum tuh kayak buka mystery box. Kadang dapet yang adem, kosong, dan lancar. Tapi lebih sering dapet yang panas, desek-desekan, dan berhenti tengah jalan.” Kalimat itu mungkin terdengar lebay, tapi buat yang sudah cukup sering mengalami kejadian seperti bus ngetem kelamaan atau kereta mendadak delay tanpa penjelasan, kalimat itu justru terdengar jujur.

Ketika perjalanan ke suatu tempat jadi tergantung pada keberuntungan, wajar kalau banyak orang akhirnya kembali pada kendaraan pribadi. Setidaknya, meski harus bermacet-macet ria, mereka tahu apa yang akan dihadapi. Nggak perlu cemas ditinggal bus yang lewat tanpa berhenti, atau harus sprint maraton di stasiun karena kereta datang mendadak. Kendaraan pribadi mungkin nggak sempurna, tapi dia setidaknya lebih bisa ditebak dan buat banyak orang Jakarta, sesuatu yang bisa ditebak adalah bentuk kenyamanan yang paling dasar.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kasta Stasiun KRL “Neraka” yang Wajib Diketahui Orang Luar Jabodetabek

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2025 oleh

Tags: Jakartakendaraan pribaditransportasi umumtransportasi umum jakartawarga Jakarta
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Kuliah di Jakarta Adalah Keputusan Terbaik dalam Hidup Saya

Jakarta Tak Segelap yang Ada di Pikiran Kalian, dan Jakarta Adalah Tempat Terbaik untuk Kuliah

10 November 2023
Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi MOJOK.CO

Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi

10 Agustus 2020
Posisi Duduk di Angkot yang Paling Keren di Tingkat Kecamatan terminal mojok.co

Posisi Duduk di Angkot yang Paling Keren di Tingkat Kecamatan

24 November 2020
Perbedaan Warung Madura di Jakarta dan Surabaya yang Nggak Banyak Orang Menyadarinya Mojok.co

Perbedaan Warung Madura di Jakarta dan Surabaya yang Nggak Banyak Orang Menyadarinya

5 Mei 2025
Jakarta Nggak Ada Keras-kerasnya Buat Orang Cikarang (Unsplash)

Buat Orang Cikarang, Jakarta Itu Nggak ada Keras-kerasnya karena Gaya Hidup Pekerjanya Saja yang Bikin Ogah Kerja di Sana

27 November 2023
Panduan Memilih Apartemen Jakarta buat Kalian yang Memutuskan untuk Menetap di Kota Metropolitan

Panduan Memilih Apartemen di Jakarta buat Kalian yang Memutuskan untuk Menetap di Kota Metropolitan

9 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.