Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Tinggal di Perumahan Nggak Semenyenangkan Itu, Ini Dia 3 Alasannya!

Rachelia Methasary oleh Rachelia Methasary
2 Mei 2025
A A
Tinggal di Perumahan Nggak Semenyenangkan Itu, Ini Dia 3 Alasannya!

Tinggal di Perumahan Nggak Semenyenangkan Itu, Ini Dia 3 Alasannya!

Share on FacebookShare on Twitter

Seru sekali membaca beberapa tulisan rekan-rekan di Terminal yang menceritakan keuntungan dan kerugian punya rumah di daerah masing-masing dengan lingkungan yang berbeda. Ada tinggal di perumahan, ada yang tinggal dekat kuburan, ada pula yang harus bersabar bermukim di pinggir rel kereta api. Apa pun keadaan tempat tinggal kita saat ini, sebaiknya disyukuri saja karena pulang yang sesungguhnya itu ya ke rumah sendiri. Baik buruknya tetap diterima, kan nggak enak kalau menumpang sama orang lain.

Saya jadi terpikir untuk ikutan berbagi hal serupa yang mungkin juga relate sama rumah kamu. Kali ini saya akan bercerita tentang nggak enaknya tinggal di perumahan yang nggak elit-elit amat. Jangan berpikir kalau punya hunian bergaya cluster itu menyenangkan dan berasa sultan.

Nyatanya, tinggal di perumahan nggak melulu nyaman ya karena ada 3 hal yang kurang enak versi saya sebagai penghuni.

Jauh dari minimarket dan warung, nggak bisa sering-sering jajan

Dulu sebelum tinggal di cluster ini, saya dan keluarga memiliki rumah di sebuah komplek sederhana milik negara. Rumahnya nggak besar dan bentuknya beda-beda. Seperti pemukiman pada umumnya, jarak toko kelontong ataupun minimarket nggak terlalu jauh dari rumah. Bisa lah ditempuh dengan berjalan kaki, paling cuma 5 menit. Malah ada beberapa rumah yang punya warung di depannya. Tetangga saya pula.

Saat saya sudah pindah ke perumahan rada bagus dikit, tidak ada warung di dalamnya, ya karena dilarang buka usaha di rumah. Selain itu, minimarket pun cukup sulit dijangkau. Bisa sih ditempuh jalan kaki aja tapi effort banget, sekitar 20 menit lah waktu tempuhnya. Minimal wajib punya motor deh biar bisa sering-sering ke Indomaret atau Alfamart terdekat. Ah kalau gini sih saya nggak bisa jajan melulu dong. Udah gitu, semacam warung madura pun tak ada yang dekat. Ah, repot amat.

Tidak ada tukang jualan keliling

Sewaktu saya tinggal di komplek biasa, tukang jualan keliling masih banyak yang lewat. Mulai dari gerobak bakso, ketoprak, sayuran, sampai ibu-ibu dengan ragam kue pasarnya. Pokoknya lengkap deh dan tinggal panggil saja, mereka pun mendekat. Tapi, kalau di perumahan, nggak usah berharap yang muluk-muluk lah, rombongan itu dilarang masuk berjualan. Padahal penting banget buat keberlangsungan hidup saya sekeluarga.

Memang sih, hal positif yang didapat adalah keamanan. Bukan mau negatif thinking, tapi ya kita nggak tau hari apes kapan tibanya karena nggak ada di kalender. Apalagi perumahan cluster kan biasanya tak berpagar, meski ada security 24 jam. Di samping itu, saya jadi hemat dan nggak dikit-dikit panggil kang bakso, dikit-dikit panggil kang somay. Namun, tetap saja kurang seru kalau nggak mendengar ketukan mangkok yang berarti bakso dan suara-suara menggoda lainnya.

Tinggal di perumahan rasanya terlalu eksklusif, seperti nggak punya tetangga

Sebagai seorang introvert, tinggal di perumahan adalah zona nyaman. Pagi hari pun terasa tenang dan semua orang sibuk dengan kegiatannya tanpa ocehan-ocehan. Tangisan bocil pun jarang terdengar. Malam hari pun lebih sunyi lagi, sudah lelah bekerja dan aktivitas lain, mereka memilih diam di dalam rumah.

Baca Juga:

3 Hal yang Saya Takutkan Saat Isi Bensin di SPBU Self Service sebagai Introvert

Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!

Akan tetapi, keadaan ini membuat saya seperti nggak punya tetangga, kesannya terlalu eksklusif. Rata-rata hanya focus dengan isi rumahnya. Ya sesekali pernah lah menyapa, itupun bisa diitung jari, sisanya ya “lo lo, gue gue”.

Beda banget kalau tinggal di pemukiman biasa, semuanya akrab dah bahkan sering ada arisan. Entah itu kumpulan khusus emak-emak, bapak-bapak, dan anak-anak mudanya. Rasa kekeluargaan kental sekali. Setiap hari kaum lelaki ngeronda di pos sambil main gaplek dan ngopi. Para ibu rumah tangga pagi atau sore hari ngerumpi sambil nungguin anaknya main. Jika lebaran tiba, mereka akan saling mengunjungi satu sama lain. Asik deh pokoknya.

Kalau disuruh memilih, ya sekali lagi karena introvert akut, saya tetap stay di perumahan yang nggak elit-elit amat itu sih.

Ketiga hal di atas belum tentu berlaku di perumahan lain, mungkin tiap developer menerapkan aturan dan sistem yang berbeda ya. Di manapun kamu tinggal, harus tetap dinikmati dan disyukuri ya. Tapi ngeluh dikit boleh lah.

Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Derita Memiliki Rumah di Daerah Perkebunan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2025 oleh

Tags: Introvertperumahan eksklusiftinggal di perumahan
Rachelia Methasary

Rachelia Methasary

Pustakawan di ibu kota yang senang ngopi, traveling, dan baca buku. Lebih memilih tempat yang sepi dan tenang karena introvert.

ArtikelTerkait

Kereta Api Jayakarta, Kereta yang Wajib Dicoba, Cocok bagi Introvert tapi Kebelet Traveling(Moch Febrianto via Wikimedia Commons)

Kereta Api Jayakarta, Kereta yang Wajib Dicoba, Cocok buat Introvert yang Kebelet Traveling

3 Agustus 2023
Purworejo, Tempat Tinggal Terbaik untuk Kaum Introvert

Purworejo, Tempat Tinggal Terbaik untuk Kaum Introvert

7 September 2023
4 Rekomendasi Tempat Menyendiri di Jogja yang Cocok untuk Orang Intovert Terminal Mojok

4 Rekomendasi Tempat Menyendiri di Jogja yang Cocok untuk Orang Introvert

17 Agustus 2022
Nyatanya, Romantisme Jogja itu Diskriminatif

Nyatanya, Romantisme Jogja itu Diskriminatif

31 Mei 2023
Berlomba-lomba Mengaku Introvert, buat Apa sih?

Berlomba-lomba Mengaku Introvert, buat Apa sih?

20 Maret 2022
6 Rekomendasi Lagu yang Cocok Didengarkan Kaum Introvert Terminal Mojok

6 Rekomendasi Lagu yang Cocok Didengarkan Kaum Introvert

23 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.