Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jurnalisme Sensasional: Bikin Judul Click Bait, Ngutip Komentar Bukan Ahli, Ngurusin Urusan Orang

Dhima Wahyu Sejati oleh Dhima Wahyu Sejati
25 Maret 2020
A A
jurnalisme sensasional

Jurnalisme Sensasional: Bikin Judul Click Bait, Ngutip Komentar Bukan Ahli, Ngurusin Urusan Orang

Share on FacebookShare on Twitter

Seorang kawan tiba-tiba bertanya apa saya tahu yang dimaksud dengan jurnalisme sensasional yang rumus beritanya 5W + 1H + 1SW. Dia bilang dia familiar dengan 5W+1H tapi tidak pernah mendengar apa itu rumus 1SW.

Hmm saya coba mengingat-ngingat, rasa-rasanya saya memang pernah mendengar rumus itu di kelas. Setelah berpikir agak lama, barulah saya ingat kalau dosen jurnalistik saya di semester awal pernah mengajarkan rumus 5W + 1H + 1SW itu. 5 W adalah What, Who, When, Where, Why + 1 H adalah How, dan SW maksudnya “Sing Wow”.

Sing Wow (SW) di sini adalah nilai wow yang ada pada berita. Ketika sesuatu punya nilai “wow” meskipun tidak penting, dia pasti akan jadi sebuah berita. Dosen saya itu mencontohkan seperti ini: berita manusia makan anjing itu sudah biasa, namun berita anjing makan manusia itu wow luar biasa. Jujur pada waktu itu, saya mengagap penjelasan dosen jurnalistik ini sebagai guyonan belaka. Karena bagi saya, kalau rumus ini serius, artinya redaksi hanya akan bekerja untuk mencari hal-hal yang sensasional saja, dan ini jelas tidak ada ujungnya (dan tidak ada faedahnya).

Tapi yang terjadi sekarang, rumus berita 5W + 1H + 1SW ternyata jadi rumus yang sering kita lihat sehari-hari. Kekhawatiran saya bahwa berita hanya menampilkan sensasi dan menutupi substansi ternyata sudah terjadi.

Mari, langsung masuk ke contoh konkret.

Berita pertama. saya mendapati berita “Dosen IAIN menghalakan Zina”, saya lupa detail judulnya. Yang dimaksud adalah disertasi milik dosen Fakultas Syariah, Abdul Aziz, berjudul “Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital”.

Disertasinya yang tebalnya sekitar 800 halaman dengan metodolgi ilmiah, telaah kasus, refrensi yang lengkap, dan penjelasan yang padat, hanya diberitakan dengan nada bahwa ada Dosen IAIN yang menghalkan zina. TribunNews sebagai media yang menaikan berita tersebut bahkan tidak secara rinci merangkum isi dari disertasinya. Saya paham cara kerja TribunNews yang mungkin seperti dosen saya bilang mengunakan tambahan kaidah ‘SW’, basi dan bulshit.

Apa dampaknya? berita boombasitis itu menjadi viral dan banyak viewernya, trafik melonjak tinggi, untung sponsor bagi si perusahaan media ini juga tinggi. Sungguh cara kerja media yang egois. Masyarakat awam menjuluki Abdul Aziz sebagai titisan dajal di muka bumi, tanpa mereka membaca disertasinya, masyarakat terjebak pada proses pemberitaan yang sesasional, lalu lupa esensi.

Baca Juga:

4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik

Nyesel Kuliah Jurnalistik karena Gaji Wartawan Kecil? Nggak Apa-apa, Wajar

Walau ada berita lanjutan dari TribunNews “Desertasi Halalkan Zina, Ini Penjelasan Promotor Abdul Aziz dan Direktur Pascasarjana UIN Suka”, tapi hanya menyajikan berita bahwa Abdul Aziz sang penulis “Desertasi Halalkan Zina” akan merevisinya. Lagi-lagi Abdul Aziz disini diframing seolah dia yang menghalakan zina. Berita ini membuat gaduh, dan kehilangan substansi.

Berita kedua yang tidak kalah wow adalah berita berenang campur laki-laki perempuan bisa hamil. Ungkapan ini diucapkan oleh komisoner KPAI Sitti Hikmawatty kepada Tribun ketika sesi wawancara. Berita ini membuat Sitti mendapat kritik keras dari banyak pihak. Media asing memberitakan ungkapan Sitti. Media daring detik menyusul dan menaikan berita berjudul “Berita Berenang Sebabkan Kehamilan ‘Bikin Malu’ Warga Indonesia di Luar Negeri”. Isinya berita tersebut hanya cuplikan komentar nitizen di media sosial.

Saya jadi curiga wartawan Tribun memberitakan ucapan Sitti ini hanya karana ada unsur SW tadi. Pertanyaanya kemudain apa kapasitas Sitti Hikmawatty sebagai komesioner KPAI untuk mengatakan bahawa berenang sebabkan hamil?

Dalam cara kerja jurnalistik itu sudah lumrah, jika kapasitas narasumber tidak mumpuni untuk membicarakan topik tertentu, kenapa menjadi berita. Yang ada malah menjadi gaduh dan masyarkat membahas hal bodoh seperti ini. Bagi saya bukan Sitti yang mebuat malu di luar negeri, justru media lah yang membuat indonesia malu.

Berita ketiga. Saya iseng membuka Tribun dan mendapati berita cukup lama, tertulis di sana hari Kamis (12/03/2020). Judulnya sangat clickbait, “Suami Pergoki Istri Mesum dengan Pria Lain di Kamar, Berawal dari Suara Desahan Tangan Malam”. Saya tulis lengkap dengan typonya.

Dari judulnya saja sudah sangat sensasional, mending ini dibuat senetron pasti seru. Apa pentingnya juga bagi masyarkat tahu urusan rumah tangga orang? apakah berita ini menyangkut kepentingan publik? Saya kira tidak.

Dari tiga berita itu saja, cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa cara kerja jurnalisme sensasional tidak sehat. Membuat akal goyah, membuat gaduh tak karuan, dan membuat substansi hilang.

BACA JUGA Sudah Tahu Renang Nggak Bisa Bikin Hamil, tapi kok Masih Diberitakan? atau tulisan Dhima Wahyu Sejati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2020 oleh

Tags: berita click baitjurnalismeJurnalistik
Dhima Wahyu Sejati

Dhima Wahyu Sejati

ArtikelTerkait

pers watchdog

Mahasiswa Jurnalistik Harapan Kembalinya Pers Sebagai “Watchdog”

19 Juni 2019
penelitian tentang diksi yang dipakai jurnalis ketika memberitakan kekerasan seksual di media massa mojok.co

Penelitian: Diksi Berita Kerap Menormalisasi Kekerasan Seksual pada Perempuan

15 Juli 2020
3 rekomendasi film bertema jurnalistik dari kisah nyata mojok

3 Rekomendasi Film Tema Jurnalistik dari Kisah Nyata

9 November 2020
Nyesel Kuliah Jurnalistik karena Gaji Wartawan Kecil? Nggak Apa-apa, Wajar

Nyesel Kuliah Jurnalistik karena Gaji Wartawan Kecil? Nggak Apa-apa, Wajar

1 Desember 2022
jurnalistik

Mahasiswa Jurnalistik yang Kalah dari Akun Media Sosial Bodong

16 Juni 2019
buku pelajaran jurnalistik pelajaran jurnalisme untuk pemula mojok.co

3 Buku Jurnalistik untuk Kamu yang sedang Belajar

20 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan Mojok.co

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

26 Januari 2026
4 Cara Mudah Menikmati Mie Ayam untuk Sarapan ala Warga Lokal Jakarta Mojok.co

Mie Ayam Tengah Malam, Kuliner yang Akan Membuatmu Kecewa Setengah Mati, Berkali-kali

28 Januari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026
Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan Padahal Tarif Mahal, Bukan Bebas Hambatan Malah Jadi Terhambat

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.