Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Renaissance Coutinho dan Luis Alberto, Ketika Kebahagiaan Itu Nomor Satu

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
23 Maret 2020
A A
Renaissance Coutinho dan Luis Alberto, Ketika Kebahagiaan Itu Nomor Satu

Renaissance Coutinho dan Luis Alberto, Ketika Kebahagiaan Itu Nomor Satu

Share on FacebookShare on Twitter

Sejauh yang saya tahu, Philippe Coutinho jarang mendapatkan apresiasi yang layak. Kariernya bersama Barcelona sukses menjadi tabir bagi kualitas yang dia bawa. Padahal, dulu, bersama Liverpool, pemain asal Brasil itu adalah salah satu playmaker modern terbaik.

Di Italia, nama Luis Alberto mulai dikenal. Performanya bersama Lazio musim ini memaksa atensi dunia berpaling kepadanya. Sebelum Serie A ditunda karena pandemi virus corona, Luis Alberto sudah membuat 12 asis. Sebuah catatan yang membuat namanya masuk ke dalam daftar gelandang serang paling efektif di Eropa.

Kesamaan seperti apa yang bisa dibaca dari kisah Coutinho dan Luis Alberto? Jawabannya adalah kondisi mental dan kebahagiaan.

Karier Coutinho adalah sebuah misteri. Ketika dijual Inter Milan ke Liverpool, gelandang yang kini berusia 27 tahun itu dianggap sebagai wonderkid yang gagal. Atau, jika sedikit menghaluskan: pemain muda yang potensinya biasa-biasa saja. Namun, kita tahu sejarah yang akhirnya tertulis, Coutinho menjadi bagian penting dari apiknya performa skuat Liverpool ketika dilatih Brendan Rodgers.

Sayangnya, cita-citanya bergabung dengan Barcelona mengubur potensi yang sebetulnya mulai mekar itu. Perbedaan cara bermain dan “ego besar” yang terasa dari tanah Catalan menghentikan rentetan performa apik Coutinho. Dia yang dibeli dengan mahar lebih dari 100 juta euro berakhir jalan buntu.

Manajemen dan pelatih Barcelona tidak bisa menarik keluar potensi Coutinho. Manajemen yang sama ini konon katanya siap melego Antoinne Griezmann dengan harga 100 juta euro setelah bermain untuk satu musim saja. Sungguh, manajemen yang seperti tidak mengamalkan kata “manajemen” itu sendiri.

Kini, bersama Bayern Munchen, pemain kelahiran Rio de Janeiro itu menemukan “renaissance kedua”. Kini, saya lebih sering melihat senyum di bibir Coutinho. Sebuah senyum yang sangat langka terkembang ketika berseragam Barcelona. Di Catalan, satu performa buruk berujung hujatan, bukannya dorongan. Bahkan Lionel Messi pun gagal “mendiamkan” kritik kepada Coutinho yang dirasa tidak masuk akal itu.

Mental dan kebahagiaan Coutinho berdampak besar kepada performanya di lapangan. Pesepak bola juga manusia, hatinya bisa sangat rentan. Tidak semua pesepak bola punya hati sekeras baja. Banyak pemain kelas elite yang hatinya rentan dan perlu dipeluk oleh lingkungan yang hangat.

Baca Juga:

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Kebahagiaan itu pula yang memicu perkembangan Luis Alberto. Gelandang serang yang bisa bermain di sisi lapangan ini seperti di-“ping-pong” di masa mudanya.

Something a bit different:

I worked with the incredibly talented @ARTomGriffiths to tell the story of Luis Alberto’s rise to prominence for @Copa90.

From Liverpool wantaway to Lazio star ? pic.twitter.com/qO6menUJcx

— Charlie Carmichael (@CharlieJC93) March 22, 2020

Luis Alberto adalah lulusan akademi Sevilla. Dirasa tidak berkembang, dia dipinjamkan ke Barcelona B. Bersama Gerard Deulofeu, pemain yang seusia Coutinho ini menemukan awal renaissance kariernya. Dia mengakhiri musim bersama Barcelona B dengan catatan 11 gol. Hanya kalah dari Deulofeu yang menjadi pencetak gol terbanyak.

Ketika kariernya nampak seperti bakal berkembang dengan cepat, Sevilla malah menjual Luis Alberto ke Liverpool. Saat itu, tawaran Barcelona kalah dari proposal Liverpool. Berapa hatga Luis Alberto saat itu? Cuma 6,8 juta euro saja. Masalah mulai terasa ketika nama Luis Alberto sebetulnya tidak pernah diinginkan oleh Brendan Rodgers. Luis sendiri “dibeli” oleh komite transfer Liverpool saat itu.

Ketika Coutinho dan Brendan Rodgers merasakan “bulan madu”, Luis Alberto hanya bisa menyaksikan kebahagiaan itu dari jarak jauh. Akhirnya, pemain kelahiran San Jose del Valle, Spanyol, ini dipinjam ke Malaga, lalu Deportivo La Coruna. Peminjaman ke Deportivo berjalan manis. Berduet dengan lucas Perez, karier Luis seperti terselamatkan.

Saat itu, berita kalau Luis Alberto akan dipermanenkan Deportivo sempat lahir. Pun si pemain Nampak cocok dengan cara bermain dan lingkungan klub. Dia sudah bahagia. Namun, Liverpool justru melepasnya ke Lazio dengan mahar 4 juta paun saja pada 2016. Lazio memproyeksikan Luis Alberto sebagai pengganti Candreva yang cabut ke Inter Milan.

Apa yang terjadi ketika kebahagiaanmu dicabut begitu saja? Dalam hidup, kamu harus siap dengan kemungkinan seperti itu. Tidak terkecuali pesepak bola. Sebuah situasi yang membuat proses adaptasi menjadi begitu menyiksa. Tidak kecuali Luis Alberto, yang sampai mengalami depresi karena proses adaptasi dengan Lazio.

Butuh kira-kira dua setengah tahun bagi Luis Alberto untuk menemukan kestabilan. Simone Inzaghi berperan sangat besar kepada perkembangan Luis Alberto kini. Keduanya menjadi dua titik vital dari cemerlangnya performa Lazio. Sebelum Serie A libur, Lazio berada di posisi kedua, cuma tertinggal satu poin saja dari Juventus.

Coutinho sudah bahagia di Bayern, sedangkan Luis Alberto di Lazio. Dua pemain yang pernah berseragam Liverpool di momen yang sama ini menemukan renaissance kariernya. Akan sangat bijak kalau keduanya bertahan saja. Karena kebahagiaan, terkadang tidak bisa ditukar dengan gelimang gaji dan kemudahan lainnya.

BACA JUGA Liverpool yang Malang: tentang Kegagalan Paling Puitis Abad Ini atau tulisan Yamadipati Seno lainnya. Follow Twitter Yamadipati Seno.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: coutinhokebahagiaan pemain sepakbolalazioLiverpoolluis alberto
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Sulitnya Jadi Fans Liverpool, Menang atau Kalah Tetap Jadi Bahan Olokan

Sulitnya Jadi Fans Liverpool, Menang atau Kalah Tetap Jadi Bahan Olokan

13 Maret 2020
buruh pabrik kuli bangunan ideologi kiri buruh mojok

3 Klub Sepak Bola Penganut Ideologi Kiri yang Masih Eksis Hingga Kini

22 Juli 2020
Buang Sial, Sebaiknya Manchester United Ganti Logo Saja

Buang Sial, Sebaiknya Manchester United Ganti Logo Saja

9 Mei 2022
Manchester United Cuma Lelucon, Hobi Nyalahin Orang Lain (Pixabay)

Manchester United Adalah Lelucon Dimulai dari Internal, tapi Selalu Bodoh lalu Menyalahkan Pelatih dan Pemainnya

20 September 2025
Ketika Jersey Liverpool Dijadikan Lap Air Kencing demi Naikkan Rating

Ketika Jersey Liverpool Dijadikan Lap Air Kencing demi Naikkan Rating

10 Maret 2020
ole pemain underrated fans bola fans Manchester United MU jesse lingard manchester united liverpool Real Madrid #GlazersOut Gini doang nih grup neraka? MOJOK.CO

Balasan Fans Manchester United untuk Fans Real Madrid yang Pansos dan Nampaknya Buta Aksara Itu

11 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

11 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.