Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Pertanyaan yang Bikin Warga Wadaslintang Wonosobo Kesal

Arzha Ali Rahmat oleh Arzha Ali Rahmat
28 Oktober 2024
A A
4 Pertanyaan yang Bikin Warga Wadaslintang Wonosobo Kesal Mojok.co

4 Pertanyaan yang Bikin Warga Wadaslintang Wonosobo Kesal (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kata orang-orang Wonosobo itu Negeri di Atas Awan. Pegunungannya indah, hawanya sejuk, dan wisatanya luar biasa. Itu memang tidak salah, hanya saja nggak berlaku di semua wilayah. Salah satunya Kecamatan Wadaslintang yang berada di sisi timur Wonosobo.

Saya adalah salah satu warga asli Kecamatan Wadaslintang. Tempat tinggal saya berada di dekat Waduk Wadaslintang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen. Orang-orang yang tidak tahu pemetaan dan geografis Wonosobo dengan baik sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bikin saya mengelus dada. 

Sebenarnya wajar sih bertanya, toh mereka memang tidak tahu. Tapi, lama kelamaan, bosan juga mendapat pertanyaan itu. Salah satu yang paling saya jumpai, “Rumah kamu deket sama Dieng ya?” Di saat itulah saya harus menjelaskan lagi soal kondisi geografis dan peta Wonosobo. Kalau sedang ingin ringkas dan cepat, saya hanya menjawab singkat, “Nggak, rumahku jauh dari Dieng.”

#1 Stop bertanya “Wadaslintang dekat dengan Dieng?”

Asal kalian tahu, Wadaslintang Wonosobo itu jauh dari Dieng. Jaraknya 79 kilometer alias butuh waktu 2-3 jam perjalanan darat. Kalau boleh mengambil perbandingan, rumah saya ke Dieng sama dengan Semarang ke Dieng. 

Jadi, tolong jangan tanya soal Dieng ke saya. Sebagai penduduk Kecamatan Wadaslintang saya justru lebih akrab ke Kota Kebumen daripada ke Dieng.

#2 “Pasti sering naik gunung ya?”

Katanya, kabar dari mulut ke mulut, orang Wonosobo itu beruntung karena mudah kalau mau naik gunung. Tidak perlu jauh-jauh ke luar kota, di sekitar daerahnya sendiri ada banyak gunung bisa dipanjat. Sebenarnya pernyataan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Pasalnya, orang-orang Wadaslintang seperti saya juga sulit untuk mengakses gunung-gunung di Wonosobo dan sekitarnya. Sekali lagi, tempat tinggal saya lebih dekat ke Kebumen. 

Sebagai gambaran, Saya butuh berjam-jam naik motor dari rumah ke beberapa gunung macam Gunung Sindoro, Sumbing, Prau, atau Kembang. Sebenarnya di daerah saya juga ada beberapa gunung. Saya juga masih tinggal di daerah pegunungan, tepatnya wilayah Pegunungan Serayu Selatan. Namun, gunungnya sangat berbeda dengan di Wonosobo atas. Gunungnya nggak seberapa tinggi, hawanya nggak seberapa dingin, bahkan sebenarnya nggak ada jalur pendakian resminya. Jadi kalau mau naik gunung atau bukit di tempat saya kalian harus siap melewati hutan dan kebun warga. Siap-siap aja dikira maling durian.

#3 “Kok kamu ngapak?”

Pertanyaan macam ini cukup sering saya terima. Biasanya saya jawab dengan singkat saja, “Iya ngapak. Bahasa orang Wadaslintang Wonosobo lebih mirip sama orang Kebumen.” Serius. Bahkan penduduk Wonosobo daerah lain banyak yang nggak paham dengan bahasa yang saya gunakan.

Baca Juga:

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

Hal ini unik dan sebenarnya masuk akal. Pasalnya, daerah saya dikelilingi oleh Kecamatan Kebumen yang mayoritas merupakan penutur bahasa Jawa ngapak. Alhasil, walau saya termasuk penduduk Wonosobo tapi bahasa yang saya gunakan justru lebih mirip dengan bahasa yang digunakan di Kebumen.

Kadang perbedaan bahasa ini juga bikin salah paham. Apalagi kalau pergi ke kecamatan lain di Wonosobo. Soalnya penduduk daerah lain nggak paham sama omongan saya. Akhirnya apa? Ya banyak terjadi miskomunikasi.

#4 “Wadaslintang itu di Kebumen apa Wonosobo, sih?”

Pertanyaan terakhir ini jadi pertanyaan yang paling menyebalkan untuk saya. Sebenarnya jawabannya sederhana. Kalau ditanya begini, saya cukup jawab, “Di Wonosobo” kalau penanya nggak percaya sekalian saya kasih lihat KTP.

Kenapa menyebalkan? Soalnya banyak yang menganggap kalau Kecamatan Wadaslintang itu bagian dari Kabupaten Kebumen. Hal ini didasari dari eksistensi Waduk Wadaslintang atau Bendungan Wadaslintang yang lebih akrab dipromosikan oleh pemerintah Kabupaten Kebumen. Memang nggak salah, mengingat beberapa wilayah waduk dan bendungan memang ada di Kabupaten Kebumen.

Tapi akhirnya malah menimbulkan kesalahpahaman yang besar. Dari hal ini saya juga nggak habis pikir. Padahal kebanyakan wilayah Waduk Wadaslintang itu ada di Kabupaten Wonosobo. Tapi pemerintah kabupaten seakan-seakan nggak peduli. Waduk seperti dianaktirikan. Kalau begini lama-lama saya mengaku sebagai orang Kebumen saja!

Wonosobo itu luas, luas banget malah. Jadi sangat wajar kalau beberapa daerah punya perbedaan yang signifikan dengan daerah lain. Itu mengapa, walau saya tinggal di Wonosobo bukan berarti rumah saya dekat dengan Dieng atau saya sering naik gunung. Kehidupan saya justru kebalikannya. 

Penulis: Arzha Ali Rahmat
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Hal yang Wajar di Wonosobo, tapi Nggak Lumrah di Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2024 oleh

Tags: bahasa WonosoboKebumenWadaslintangWadaslintang Wonosobowonosobo
Arzha Ali Rahmat

Arzha Ali Rahmat

Lulusan Sastra Indonesia yang lebih suka mengikuti intuisi daripada sekadar teori. Menulis baginya adalah sebuah kebebasan

ArtikelTerkait

Saya Bangga Setengah Mati Lahir dan Besar di Kebumen (Unsplash)

Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget

10 Desember 2025
Kabupaten Purworejo, Kabupaten Tak Dianggap padahal Jasanya Besar dan Surganya para Introvert

Purworejo, Kabupaten Penuh Potensi, tapi Ditinggal Kabur Pemudanya, Berpotensi Jadi Kota (yang Terpaksa) Tua!

20 Juni 2025

Saran Pikir Dua Kali Sebelum ke Kebumen Itu Benar tapi Itu Dulu karena Sekarang Nggak Lagi Mengenaskan, Sejajar sama Jogja dan Purwokerto

27 Oktober 2025
Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran 'Keras' terminal mojok.co

Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran ‘Keras’

1 Maret 2021
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Wonosobo Butuh Sosok seperti Pidi Baiq atau Joko Pinurbo agar Romantisnya Abadi terminal mojok.co

Wonosobo Butuh Sosok kayak Joko Pinurbo atau Pidi Baiq agar Romantisnya Abadi

8 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.