Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Toleransi Terhadap Perbedaan Kadar Kebahagiaan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
5 Juni 2019
A A
toleransi kebahagiaan

toleransi kebahagiaan

Share on FacebookShare on Twitter

Saya meyakini bahwa setiap individu hidup dalam frekuensinya masing-masing dengan perjuangan dan pengorbanan yang berbeda pada tiap pengambilan keputusan. Seringkali di antara kita lebih memilih menghakimi dibanding berdiskusi terhadap perbedaan dasar pemikiran. Padahal berbeda sudut pandang bukan berarti bermusuhan.

Suatu ketika dua orang teman saya sedang berdiskusi dan dihadapkan pada pendapat yang berbeda soal di usia berapa mereka akan menikah. Teman saya yang pertama, dia lebih memilih untuk menikah sebelum usia 30 tahun, sedangkan pendapat kedua, memilih setelah 30 tahun bahkan sebelum 40 tahun pun bukan masalah baginya.

Bagi saya yang hanya menjadi penengah dan pendengar, pendapat mereka berdua tidak ada yang salah, toh itu pilihan masing-masing. Bahkan, poin yang mereka utarakan melalui dua sudut pandang pun menarik.

Pertama, menurut teman saya yang ingin menikah sebelum usia 30 tahun, pada usia itu kondisi psikologis sudah cukup matang untuk mengemban tanggung jawab sebagai orang yang membina rumah tangga. Jika memiliki anak pun rentang perbedaan antara usia orang tua dan anak tidak terpaut jauh.

Selain itu, dalam mengurus anak, mengerjakan pekerjaan rumah, jika tidak ada asisten rumah tangga pun tidak menjadi masalah karena masih ada cukup tenaga untuk mengurus ini-itu. Baginya, di usia sebelum 30 tahun adalah soal produktif dalam bekerja juga dari berbagai aspek.

Dengan yakin teman saya menambahkan kembali bahwa menikah itu menambah berkah dan rezeki sekaligus pelengkap ibadah kepada Tuhan. Jika memang niatnya adalah baik sudah tentu disegerakan menikah menjadi opsi utama.

Teman saya yang satu lagi punya pendapat lain terkait ingin menikah di usia maksimal 40 tahun—bahkan dia sempat mengoreksi jika memang belum bertemu jodohnya ya nikmati saja hidup selagi masih single. Toh, itu bukan suatu permasalahan dan dosa besar—begitu menurutnya.

Lanjutnya, masih banyak yang bisa dilakukan meski menyandang status single. Berkumpul dengan teman, misalnya. Jika sudah menikah, belum tentu bisa mendaki gunung, travelling, nongkrong sampai tengah malam dan melakukan kegiatan lainnya sesuka hati. Sebab sudah ada istri yang selalu menanyakan kabar dan menunggu di rumah.

Baca Juga:

Salatiga, Kota Paling Toleran se-Indonesia. Ah, Biasa Saja kata Warganya karena Toleransi Sudah Menjadi DNA di Salatiga!

Kata Siapa Orang Desa Lebih Toleran dan Nggak Egois kayak Orang Perumahan? Hoax Itu. Lihat Aja Saat Mereka Ngadain Hajatan

Fokus kepada karir pun bisa dilakukan jika memang belum juga menemukan jodoh. Selain sambil berusaha menemukan pasangan yang dirasa cukup ideal, mengumpulkan rezeki pun bisa dilakukan untuk modal di masa depan. Lagi, menurut teman saya, saat masih single adalah waktu di mana bisa menghabiskan waktu bersama orangtua, sekaligus membalas kebaikan yang sudah diberi.

Pendapat yang mereka jabarkan memiliki landasan yang kuat—karena itu bagi saya tidak ada yang salah di antara keduanya. Rasanya, mereka pun bisa menjawab dengan baik jika di hari raya bertemu dengan saudara lalu ditanya, “kapan nikah?” Ya, walaupun pertanyaan itu tidak perlu dianggap serius, karena buat saya itu hanya basa-basi tanpa menghiraukan kondisi. Lagipula kalau ingin menikah di hari lebaran dan saat itu juga—memangnya ada staf KUA yang masuk?

Dari apa yang mereka perbincangkan, saya menyadari bahwa kadar kebahagiaan seseorang itu berbeda—ada yang bahagia dengan pasangannya, lain juga kebahagiaan yang dirasa oleh mereka yang masih nyaman sendiri.

Lain halnya dengan contoh permasalahan tadi, teman saya yang lain bercerita bagaimana dia merasa bahagia dengan kesibukan yang dijalani, bekerja, berolahraga, merawat hewan peliharaan yang tidak jarang dianggap sebagai sahabat dan menemani kegiatan sehari-hari di rumah.

Lalu, ada juga teman saya yang merasa bisa melepas penat dengan menulis di blog pribadi dan bercerita tentang kesehariannya atau apa pun yang sedang dipikirkannya. Hal seperti ini bisa dijadikan hobi atau paling tidak menghasilkan uang—atau mungkin saya harus segera menginfokan untuk menjadi kontributor di Terminal Mojok?

Ada pula teman saya yang sangat nyaman bekerja sebagai freelancer. Apapun dia lakukan—menjual baju secara online, menjadi distributor, dan segala macam aktivitas lainnya yang dapat menghasilkan keuntungan selama halal dan tidak merugikan orang lain.

Pada akhirnya, perbedaan sudut pandang tidak perlu dibesar-besarkan atau dikategorikan sebagai suatu masalah, layaknya bhinneka tunggal ika, perbedaan kadar kebahagiaan membutuhkan toleransi. Jika itu memang bisa membuat bahagia selama tidak menyakiti orang lain, lakukanlah.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Kadar KebahagiaanKritik SosialToleransi
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

akh deddy

Akh Deddy Corbuzier Masuk Islam, Emang Ukh Lucinta Luna Nggak Boleh Bersyukur Juga?

24 Juni 2019
sinetron anak jalanan

Masyarakat Kampung Saya Susah Move On Gegara Tamatnya Sinetron Anak Jalanan

28 Juli 2019
sandal

Akhirnya Saya Menemukan Sandal yang Aman dari Tertukar ataupun Hilang

25 Juni 2019
twitter

Twitter adalah Rumah dari Media Sosial

22 Juni 2019
Balasan untuk Tulisan tentang Film The Social Dilemma yang Katanya Nihil Solusi terminal mojok.co

Balasan untuk Artikel Film ‘The Social Dilemma’ yang Katanya Nihil Solusi

22 September 2020
pacaran

Pas Kecil Lihat Orang Dewasa Pacaran, Pas Dewasa Lihat Anak Kecil Pacaran

8 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.