Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bandung, Ibu Kota Provinsi yang Belum Ramah untuk Pesepeda

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
11 November 2023
A A
Bandung, Ibu Kota Provinsi yang Belum Ramah untuk Pesepeda

Bandung, Ibu Kota Provinsi yang Belum Ramah untuk Pesepeda (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca tulisan Mas Abd. Muhaimin soal susahnya bersepeda di Jogja. Hal tersebut relate banget dengan keadaan di kota tempat saya lahir dan tumbuh besar, yakni Kota Bandung. Pasalnya, di jalanan Kota Bandung, pesepeda bisa saya katakan menempati kasta terendah pengguna jalan setelah kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua.

Infrastruktur khusus sepeda masih sangat sedikit di Bandung

Alasan pertama kenapa saya menuliskan tulisan ini karena infrastruktur khusus sepeda yang sudah susah-susah dibuat oleh Pemerintah Kota Bandung masih sangat sedikit. Hanya kawasan Dago, Jalan Asia Afrika, Jalan Riau, dan sekitarnya saja yang memiliki jalur sepeda khusus di bahu jalannya. Jangankan dibandingkan dengan Amsterdam, dibandingkan dengan Jakarta aja jalur sepeda di Bandung masih sangat sedikit, Gais.

ADVERTISEMENT

Hal ini juga semakin diperparah dengan banyaknya masyarakat Kota Bandung yang sering “mencuri” jalur sepeda yang sudah disediakan pemerintah. Mulai dari sopir angkot yang kerap kali berhenti di jalur sepeda untuk ngetem atau sekadar menaikturunkan penumpang, driver ojek online yang nunggu orderan di jalur sepeda, kendaraan roda dua maupun roda empat yang menggunakan jalur sepeda untuk parkir, hingga pedagang kaki lima yang jualan di jalur sepeda. Hadeuh.

Selain jumlah jalur sepeda yang masih sangat sedikit, lampu PJU yang ada di sisi kanan dan kiri jalan Kota Bandung banyak yang tidak berfungsi. Kalau nggak percaya, tonton saja liputan tim Narasi Newsroom ini. Bersepeda siang-siang di Kota Bandung aja nggak nyaman karena jalur sepedanya sedikit dan “dicuri” seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apalagi bersepeda di malam hari?

Bersepeda pada malam hari di Kota Bandung risikonya tinggi banget! Dengan jalur sepeda dan penerangan yang minim, risiko tertabrak kendaraan bermotor sangatlah tinggi sekalipun pesepeda sudah berupaya menambahkan lampu pada sepedanya maupun menggunakan baju reflektor. Nggak cuma risiko tertabrak, risiko dibegal juga tinggi banget!

Pengendara kendaraan bermotor yang diskriminatif pada pesepeda

Selain masalah infrastruktur, pengendara kendaraan bermotor di Kota Bandung diskriminatif banget pada pesepeda. Nggak jarang, saya diklaksoni pengendara sepeda motor maupun mobil bahkan hingga hampir terserempet ketika bersepeda padahal saya sudah berada pada jalur semestinya, menggunakan helm, dan sepeda saya dilengkapi lampu.

Memang banyak pesepeda yang suka seenaknya di jalan mulai dari bersepeda di tengah jalan, nggak menggunakan helm, nggak melengkapi sepeda dengan lampu, hingga menerebos lampu merah. Tapi kalau sudah patuh pada aturan lalu lintas dan masih diklaksoni sampai hampir terserempet, yang salah itu siapa?

Asal kalian tahu, sekuat-kuatnya dengkul dan paru-paru Lance Armstrong memacu sepeda, kecepatannya tak akan secepat kecepatan sepeda motor atau mobil! Perlu momentum sekian detik agar pesepeda bisa melaju dengan cepat, terutama di Kota Bandung yang banyak jalanan menanjak. Coba dong mengalah sedikit sekian detik untuk sepeda, karena untuk mencapai kecepatan normal bersepeda, perlu momentum, nggak bisa ujug-ujug gancang siga motor atawa mobil! (Nggak bisa tiba-tiba cepat kayak motor atau mobil!)

Baca Juga:

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

Lagian, sabar sedikit kenapa nggak bisa, sih? Aturan perundang-undangannya juga udah jelas kok bahwa pengendara kendaraan bermotor harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Pasal 6 Undang Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan berbunyi: Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda.

Parkiran khusus sepeda yang masih sangat sedikit di Bandung

Selain dua masalah di atas, parkiran khusus sepeda di Kota Bandung masih sangat sedikit. Belum semua kantor pemerintah, sekolah, kampus, hingga mal punya parkiran khusus sepeda yang layak. Dalam artian, terbebas dari terik matahari atau hujan serta dekat dengan pos security sehingga bisa meminimalisir risiko kehilangan.

Sering kali, untuk memarkirkan sepeda, saya terpaksa mengaitkan rantai gembok sepeda saya pada benda-benda seperti tiang listrik maupun pagar. Karena apa? Ya karena belum semua fasilitas publik menyediakan parkiran sepeda yang layak. Itu pun saya waswas takut sepeda saya dicuri atau dipreteli orang yang nggak bertanggung jawab. Kita semua tahu banyak security atau juru parkir yang lebih memprioritaskan kendaraan roda dua maupun roda empat dalam bertugas.

Sebagai penutup, saya menuliskan tulisan ini bukan karena saya benci dengan pemerintah apalagi dengan pengendara kendaraan bermotor di jalanan Bandung. Saya menuliskan ini karena saya telah bersepeda selama lebih dari 10 tahun. Tapi, selama itu nggak ada perubahan signifikan terkait infrastruktur khusus sepeda ataupun pengendara kendaraan bermotor untuk bisa mengutakaman keselamatan pesepeda di jalanan.

Di Indonesia, pesepeda memang nggak ada harga dirinya kayak pesepeda di Jepang atau Belanda. Padahal pesepeda berkontribusi mengurangi kemacetan dan polusi udara, lho. Makanya banyak negara maju yang menyuruh warganya untuk pakai sepeda ke mana-mana. Semakin banyak orang pakai sepeda, kemacetan dan polusi udara ya pasti akan berkurang.

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kota Bandung yang Semakin Terasa Asing.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 November 2023 oleh

Tags: Bandungibu kota jawa baratJawa Baratpesepeda
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi Sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

2 Juli 2024
orang bandung

Alasan Kenapa Warga Cimahi Suka Ngaku-Ngaku Orang Bandung

31 Maret 2020
Jalan Rajawali Timur Bandung, Jalan Satu Arah di Kota Bandung yang Penuh Masalah

Jalan Rajawali Timur, Jalan Satu Arah di Kota Bandung yang Penuh Masalah

21 Maret 2025
Bandung Memang Indah (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Bandung Memang Indah (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

21 Juni 2022
Rahasia Pegawai Mixue di Bandung supaya Cepat Naik Level (Unsplash)

Rahasia Pegawai Mixue di Bandung supaya Cepat Naik Level

13 November 2023
Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-hal Ajaibnya Mojok.co

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-Hal Ajaibnya

28 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau? (Unsplash)

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

15 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.