Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mahasiswa Unesa Ketintang Nggak Perlu Cemburu ke Unesa Lidah Wetan, Sesama UNESA Nggak Usah Saling Iri

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
19 Oktober 2023
A A
Fasilitas di UNESA Lidah Wetan Bikin Mahasiswa UNESA Ketintang Cemburu

Fasilitas di UNESA Lidah Wetan Bikin Mahasiswa UNESA Ketintang Cemburu (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa minggu lalu saya baca tulisan Mbak Naimatul di Terminal Mojok soal betapa cemburunya mahasiswa Unesa Ketintang dengan fasilitas yang ada di Unesa Lidah Wetan. Memang sangat benar, kalau ngomongin soal fasilitas, perbedaan kampus tersebut ibarat langit dan bumi. 

Awalnya saya agak setuju dengan itu. Unesa Ketintang sangat bisa dianggap sebagai anak tiri yang jauh perhatian orang tua. Padahal, Unesa Ketintang sebenarnya adalah akar dari Unesa itu sendiri. Pada 2013, gedung rektorat yang awalnya ada di Ketintang, memang diboyong ke Lidah Wetan. Tak tanggung-tanggung, gedung rektorat dari kampus yang punya julukan kampus calon guru itu akan dibangun gedung setinggi 12 lantai dengan anggaran sekitar Rp66 Miliar.

Hal ini tentu menambah jauh kecemburuan mahasiswa Unesa Ketintang yang sama sekali nggak memiliki gedung setinggi itu. Paling pol, hanya memiliki gedung setinggi tiga atau empat lantai saja. Itu pun tentu belum menggunakan lift sebagai medianya.

Melihat semua kejomplangan itu, saya sebagai mahasiswa Unesa Ketintang pun sangat cemburu. Sama seperti apa yang Mbak Naimatul utarakan beberapa waktu lalu. Akan tetapi, cemburu pun saya rasa nggak akan memperbaiki semua. Dari situ saya mencoba menerapkan rasa syukur. Sebab, cemburu ternyata sama sekali bukanlah sifat yang baik. Satu-satunya sifat yang baik adalah qanaah, atau bahasa Jawanya disebut “nrimo ing pandum”.

Ketintang punya jasa fotokopi lebih banyak ketimbang Lidah Wetan

Patut kita setujui, bahwa di Unesa Ketintang ruang untuk diskusi sangat terbatas. Nggak seperti di Unesa Lidah Wetan yang ramah tempat diskusi. Ketika saya berkunjung ke kampus Lidah Wetan, memang banyak teman-teman mahasiswa yang duduk, entah itu sambil mengobrol, membuka laptop, membuka buku, dan nggak jarang juga mahasiswa yang sedang melakukan kelas daring di tempat-tempat diskusi yang memang sudah siap digunakan.

Akan tetapi, meskipun Unesa Lidah Wetan merupakan kampus yang ramah diskusi, ada satu hal yang jauh dari perkiraan saya. Yaitu, Unesa Lidah Wetan ternyata nggak ramah soal toko ATK dan jasa fotokopi-an. Padahal, bukan mahasiswa namanya jika setiap hari mereka nggak harus ngantre dan mangkal di jasa fotokopi.

Pengalaman saya ngampus di Unesa Lidah Wetan satu semester memang cukup untuk mewakili mahasiswa Unesa Ketintang yang sama sekali nggak pernah ngampus di sana. Kebetulan pada semester 5, saya mengambil satu mata kuliah tentang Penulisan Karya Ilmiah di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa Lidah Wetan.

Kalian bisa membayangkan bagaimana mahasiswa yang ikut ngambil matkul itu setiap hari harus print dan fotokopi semua tugasnya. Ada makalah, jurnal, proposal penelitian, dsb. Di Unesa Lidah Wetan, saya pikir, fasilitas di sana sudah begitu oke, tapi untuk menyediakan satu jasa fotokopi saja angelnya minta ampun, jauuuh. Kita yang ada di Lidah Wetan sangat bersusah payah mencari tempat fotokopi. Ada pun yang dekat, tapi nggak sekomplet jasa fotokopi biasanya.

Baca Juga:

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Nggak seperti di Unesa Ketintang yang setiap pinggir jalan akan selalu ada, mulai Jl. Ketintang Barat, Jl. Ketintang, Jl. Jetis Kulon, Gang PTT Ketintang, bahkan pinggir gerbang masuk di Unesa Ketintang sudah ada tiga sampai lima jasa fotokopi. Mahasiswa Unesa Ketintang nggak perlu susah payah untuk nyari, mereka tinggal milih. Inilah yang perlu kita syukuri.

Mahasiswa Unesa Ketintang harus sangat bersyukur karena dekat dengan pusat transportasi

Mahasiswa Unesa tentu bukan dari Surabaya saja. Banyak mahasiswa perantauan dari seluruh pelosok Indonesia yang memutuskan untuk ngampus di sini. Otomatis, mereka di Surabaya hanya tinggal dan ngampus saja. Jarang dari mahasiswa Unesa perantauan yang punya saudara di sini.

Termasuk saya, saya adalah mahasiswa perantauan yang niat dan sadar untuk kuliah ke kampus ini. Hampir setiap bulan sekali saya harus mudik untuk nambah sangu atau hanya sekadar njenguk orang tua. Moda transportasi yang saya gunakan pun beragam, tergantung semendesak apa untuk harus pulang kampung.

Salah satu hal yang harus disyukuri ketika ngampus di Unesa Ketintang adalah posisi geografis yang dekat dengan pusat transportasi apa pun. Kampus Ketintang sangat dekat dengan tiga pusat transportasi, yaitu Stasiun Kereta Wonokromo, Terminal Purabaya (Bungurasih), dan Bandara Juanda.

Pengalaman saya ngampus di Ketintang selama 3,5 tahun sangat terbantu dengan karunia ini. Jika saya ingin pulang naik kereta, saya cukup datang ke stasiun Wonokromo yang hanya 5 menitan dari Unesa Ketintang. Begitu juga kalau saya ingin nge-bus, saya cukup membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke Terminal terbesar di Jawa Timur itu. Begitu juga dengan Bandara Juanda yang setidaknya aksesnya lebih dekat dari Unesa Ketintang.

Akses Lidah Wetan agak ribet

Sekarang coba kita bayangkan. Jarak Unesa Ketintang ke Unesa Lidah Wetan bisa 20 hingga 30 menitan. Apalagi saat ini jalan menuju Lidah Wetan (Jl. Menganti, Wiyung) sedang ada perbaikan dan terkenal dengan macetnya. Betapa bersyukurnya mahasiswa di Ketintang ketika mereka ingin pulang kampung atau mudik. Mereka nggak perlu bersusah payah macet-macetan dan gosong-gosongan di jalan.

Kita harus setuju, meskipun secara fasilitas sangat jomplang, memang sejatinya, kita, mahasiswa Unesa Ketintang, nggak usahlah cemburu-cemburu ke saudara muda kita. Bagaimanapun Unesa Lidah Wetan, ya, tetap Unesa juga. Mungkin kita yang ada di Ketintang hanya butuh bersabar. Mengingat Unesa tahun ini menambah mahasiswa jos-josan, otomatis dana rumah tangga Unesa seharusnya juga akan bertambah dari UKT dan SPP. Siapa tahu, tahun di depan Unesa Ketintang bisa nyalip Lidah Wetan. Aamiin.

Penulis: Adhitiya Prasta Pratama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Jadi Mahasiswa Unesa Itu Nggak Enak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2023 oleh

Tags: fotokopiSurabayaunesa ketintangunesa lidah wetan
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

Aneh tapi Nyata, Transportasi Umum Andalan di Surabaya Bayar Pakai Sampah sampai Matur Nuwun adminduk surabaya

Aneh tapi Nyata, Transportasi Umum Andalan di Surabaya Bayar Pakai Sampah sampai Matur Nuwun

6 Januari 2024
Fakta Buruknya Kondisi Jalanan di Jogja dan Surabaya (Unsplash)

Jalanan Jogja Semakin Parah. Sama Parahnya seperti Kota Surabaya yang Menjadi Kota Paling Macet di Indonesia

11 Januari 2024
Membayangkan Mei Mei dalam Serial Upin Ipin Tinggal di Surabaya Barat, Dia Adalah Salah Satu Crazy Rich Mojok.co

Membayangkan Mei Mei dalam Serial Upin Ipin Tinggal di Surabaya Barat, Dia Adalah Salah Satu Crazy Rich

23 Februari 2024
Sudah Tahu Lahan Parkir Mahasiswa UNESA Ketintang Itu Nggak Luas, tapi Nekat Menerima Mahasiswa Super Banyak, Well Banget!

Sudah Tahu Lahan Parkir Mahasiswa UNESA Ketintang Itu Nggak Luas, tapi Nekat Menerima Mahasiswa Super Banyak, Well Banget!

7 Oktober 2023
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Surabaya Dianggap Singapura-nya Indonesia Udah Nggak Pas Maksa Lagi Terminal Mojok

Surabaya Dianggap Singapura-nya Indonesia? Udah Nggak Pas, Maksa Lagi

5 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.