Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Aib Memalukan Karawang Adalah ketika Warganya Merasa Asing dengan Goyang Karawang

Diaz Robigo oleh Diaz Robigo
4 September 2023
A A
Karawang Menyimpan Aib di Antara Warga dan Goyang Karawang (Unsplash) alun-alun karawang

Karawang Menyimpan Aib di Antara Warga dan Goyang Karawang (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Karawang yang indah itu, saya merasa, selalu ada jarak. Kebetulan saya suka berkelana. Dan, selama berkelana, mulai dari Jawa Tengah sampai Sumatera, pasti ada yang menyinggung soal Goyang Karawang. Orang pasti mengenali Karawang dengan kata “goyang”.

Kadang di sini momen ini saya merasa bodoh, sekaligus menjadi aib yang memalukan. Gimana, ya, saya, sebagai orang asli sini, justru nggak akrab dengan istilah “goyang”.

“Kamu orang mana?” 

“Saya orang Karawang.” 

Kebanyakan orang akan menyeletuk, “Oh, berarti bisa goyang dong?” Sambil tersenyum, saya menjawab kalau tidak bisa. Kadang saya memikirkan hal ini begitu dalam. Dari sekian banyak julukan, orang paling mengenali kota ini sebagai kota per-goyang-an.

Akamsi yang tidak mengenali budaya sendiri: Goyang Karawang

Mirisnya adalah, saya, sebagai akamsi yang lahir di sini, sama sekali tidak akrab dengan “Goyang Karawang”. Saking minimnya pengetahuan saya, sah saja kalau banyak yang menganggap saya tidak tahu sama sekali. Sejak kecil hingga SMA, saya sama sekali tidak menerima pelajaran atau pengetahuan secara langsung soal per-goyang-an. Kadang saya merasa sedih karena menjadi aib bagi daerah sendiri.

Orang mengenal Goyangan Karawang sebagai rangkaian gerakan yang indah dan erotis. Tarian ini menggambarkan keseimbangan antara keanggunan, kecantikan, dan kekuatan. Selain gerakannya yang indah, para penari selalu mengenakan kostum yang memikat. Kostum tradisional kami memang penuh warna serta hiasan dan menjadi daya tarik visual yang luar biasa.

Belum mendapat sentuhan yang lebih masif

Sebagai akamsi, saya pribadi merasa kalau pengenalan Goyang Karawang yang otentik masih belum masif. Padahal, ciri khas goyangan ini, baik dari gerakan sampai kostum sudah sangat ikonik.

Baca Juga:

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

Karawang dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Pemda Sibuk Urusi Izin Investasi, tapi Lupa Menjaga Ekologi

Saya sendiri baru mengenali warisan budaya ini dari sebuah artikel di Detik. “Secara umum, Goyang Karawang adalah gaya menari rancak penari Karawang zaman dulu. Menurut para seniman, tarian Goyang Karawang diidentikkan dengan gerak pinggul penari perempuan yang cenderung erotis.”

Merasa tergelitik, saya mencari tahu lebih dalam. Salah satu literatur menyebutkan bahwa Goyang Karawang ini mulai terkenal pada periode 1970an. Dia yang mengenalkan goyangan ini bernama Itoh, seorang penari dari kesenian topeng banjet. 

Saat itu, Itoh mewakili Karawang dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh Pemprov Bandung. Menurut pengakuannya, Itoh mendapatkan juara satu dengan menampilkan tarian ronggeng. Goyangan itulah yang menjadi melegenda. Versi lain mengatakan kalau goyangan yang ikonik itu sudah ada sejak zaman kolonial.

Oleh sebab itu, menurut saya, kampanye mengenalkan goyangan ini ke anak muda bisa digalakkan kembali. Misalnya membuat acara baru menyusul Festival Goyang Karawang. MURI mencatat acara ini sebagai festival dengan penari terbanyak, yaitu 17 ribu penari. Adalah Cellica Nurrachadiana, Sang Bupati, yang menjadi penggagas.

Menjaga budaya, melestarikan keindahan

Saat ini, banyak hal yang mengancam budaya sendiri. Misalnya mulai dari globalisasi, urbanisasi, sampai perubahan sosial. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan budaya Goyang Karawang agar tidak punah.

Salah satu cara untuk melestarikan warisan budaya ini adalah dengan mendukung program pendidikan budaya di sekolah lokal. Tujuannya adalah mengenalkan anak-anak pada keindahan dan makna Goyang Karawang. Kita harus bisa mendorong generasi muda untuk belajar karena mereka yang akan melanjutkan tradisi ini.

Mendukung seniman lokal dengan mengadakan pertunjukan atau kompetisi seni yang melibatkan komunitas juga bisa menjadi strategi. Terakhir, melakukan pengarsipan dan dokumentasi untuk menjaga rekam jejaknya bagi generasi mendatang.

Melestarikan budaya Goyang Karawang adalah tanggung jawab bersama. Lewat upaya bersama, kita bisa menjaga keindahan dan makna budaya supaya tetap hidup dan berkembang. Jangan sampai ada lagi orang Karawang seperti saya yang nggak kenal dengan budaya sendiri. Nanti jadi aib kota, lho.

Penulis: Diaz Robigo

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sebagai Orang Asli Karawang, Saya Sangat Iri Sama Cikarang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 September 2023 oleh

Tags: goyang erotisGoyang KarawangJawa BaratKarawangkota karawang
Diaz Robigo

Diaz Robigo

figur yang pernah terlibat dalam proses demokrasi tingkat daerah di Karawang, dengan fokus pada isu-isu pembangunan dan pelayanan publik.

ArtikelTerkait

Mengenal Kota Banjar Jawa Barat yang Sering Disalahpahami sebagai Kota Banjarmasin, padahal Beda Pulau dan Provinsi Mojok.co umk banjar

Kota Banjar, Kecil Kotanya, Tiarap UMK-nya

18 Maret 2024
Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

16 Mei 2025
Baleendah, Kecamatan di Kabupaten Bandung yang Potensial tapi Disia-siakan

Baleendah, Kecamatan di Kabupaten Bandung yang Potensial tapi Disia-siakan

10 Maret 2024
Ironi Purbalingga: Kota Industri, tapi Warganya Lebih Memilih Cari Kerja di Daerah Lain Mojok.co

Ironi Purbalingga: Kota Industri, tapi Warganya Lebih Memilih Cari Kerja di Daerah Lain

24 April 2024
Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

2 Juli 2024
Cikarang Punya Rute KRL, tapi Kami Malah Iri Sama Karawang (Unsplash)

Rute KRL Bikin Orang Karawang Iri Sama Cikarang? Wah, Salah, Justru Kami yang Iri Sama Karawang

20 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.