Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Childfree & Happy oleh Victoria Tunggono: Seni Memahami Alasan Seseorang Memutuskan Childfree

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
9 Agustus 2023
A A
Childfree & Happy oleh Victoria Tunggono: Seni Memahami Alasan Orang Memutuskan Childfree

Childfree & Happy: Seni Memahami Alasan Seseorang Childfree (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Childfree & Happy
Penulis: Victoria Tunggono
Penerbit: EA Books
Tahun Terbit: Cetakan keempat, 2023
Tebal buku: 150 halaman

Dulu saya sempat heran dan tak percaya ketika beberapa teman saya dengan penuh keyakinan berkata bahwa mereka tak ingin memiliki seorang anak di masa depan. Mereka tak masalah dengan pernikahan, tapi bermasalah jika kelak memiliki anak.

Saya berpikir mungkin keputusan itu sebatas sebuah pernyataan remaja yang belum mau berkomitmen untuk berumah tangga dan tak mau mengurus anak. Namun rupanya saya salah, teman-teman saya ini ternyata begitu konsisten dalam keputusannya untuk tetap tidak memiliki anak hingga mereka beranjak dewasa.

Sebagai orang dengan budaya timur, tentu awalnya saya sulit mengerti keputusan teman-teman saya yang memilih untuk childfree ini. Meski saya tak pernah mendebat atau mencela keputusan mereka, saya selalu bertanya-tanya dalam hati. “Kok ada ya orang yang menikah, tapi nggak mau punya anak?”

Setelah membaca buku Mbak Victoria Tunggono yang berjudul Childfree & Happy, saya jadi jauh lebih mengerti kenapa teman-teman saya dan banyak orang di luar sana memutuskan untuk childfree. Sebelum membahas lebih lanjut tentang alasan yang melatarbelakangi seseorang untuk childfree, nggak ada salahnya kita terlebih dahulu memahami tentang konsep childfree.

Memahami konsep childfree

Childfree di sini berbeda dengan childless. Childfree adalah kondisi di mana orang memutuskan untuk hidup tanpa anak secara sukarela. Keputusan tersebut diambil dengan sadar dan penuh keyakinan. Sedangkan childless adalah kondisi seseorang nggak memiliki anak karena faktor luar, bisa karena fisik atau biologis.

Meski sama-sama tak memiliki anak, namun biasanya orang-orang yang childfree ini jauh lebih merasa happy atau bahagia. Sebab dari awal mereka memang tak mengharapkan kehadiran anak, sehingga tak memiliki anak bukan satu hal yang membuat mereka kesulitan atau sampai tertekan.

Gimana ya, orang Indonesia ini kan masih menganut kebudayaan gemar bertanya, “Kapan punya momongan?” seolah obrolan soal anak ini merupakan template obrolan basa-basi yang wajib dibicarakan dalam setiap pertemuan. Bagi masyarakat kita, anak adalah tujuan pernikahan. Anak adalah aset bagi orang tua di masa tuanya. Semakin banyak anak, konon semakin banyak rezeki. Makanya keputusan untuk nggak memiliki anak seolah sulit diterima masyarakat kita.

Baca Juga:

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

Childfree & Happy: orang yang memutuskan childfree bukan berarti membenci anak-anak

Lewat buku Childfree & Happy, saya jadi paham bahwa orang-orang yang memutuskan untuk nggak memiliki anak ini bukanlah orang-orang yang benci atau nggak suka dengan kehadiran anak-anak. Mereka nggak masalah untuk berinteraksi dan memiliki hubungan dengan anak-anak, hanya saja mereka tak mau memiliki anak.

Mungkin selama ini pola kehidupan yang kita anut selalu mengajarkan bahwa orang dewasa yang sudah menikah dan memiliki anak itu merupakan sebuah keharusan. Ibaratnya setiap pernikahan harus memiliki anak kalau mau pernikahannya awet dan langgeng. Sebagai perempuan, kita harus hamil dan melahirkan dulu biar bisa dikatakan sebagai seorang perempuan sempurna. Tapi, apakah kebahagian dan kesempurnaan perempuan itu hanya bisa didapat dengan adanya kehadiran seorang anak?

Memiliki anak bukan sebuah keharusan, melainkan kesiapan

Menyimak cerita orang-orang yang memutuskan untuk childfree di dalam buku Childfree & Happy membuat saya lebih memahami tentang keputusan orang-orang untuk nggak memiliki anak. Benar, memiliki anak bukan sebuah keharusan tapi sebuah kesiapan.

Banyak orang yang diharuskan untuk memiliki anak padahal mereka tak memiliki kesiapan dalam mengurus dan membesarkan anak. Pada akhirnya korban dari semua ketidakbecusan ini adalah anak.

Anggap dianggap sebagai beban, penderitaan, kesulitan, serta kesengsaraan bagi orang tuanya. Padahal anak-anaklah yang sejatinya menjadi korban dari para orang tua yang melahirkan mereka tanpa kesiapan sebagai orang tua. Entah itu kesiapan pengetahuan, emosi, psikologis, maupun materi.

Banyak orang menyatakan dirinya childfree, tapi tak banyak orang yang mengungkapkan alasan kenapa mereka memilih jalan tersebut. Padahal setiap orang yang memutuskan untuk childfree tentu pernah melewati masa-masa atau mendengar cerita mengenai dunia anak-anak yang tak mudah.

Setelah membaca Childfree & Happy, kini saya paham bahwa orang-orang yang memutuskan childfree bukanlah orang-orang yang membenci anak-anak. Sebaliknya, mereka justru menyayangi anak-anak. Mereka tak mau jika di masa yang akan datang, mereka menjadi tersangka yang menyebabkan anak-anak ini sampai menderita dan tak bahagia.

“… Memilih childfree adalah cara saya untuk memperbaiki bumi, menyelamatkan anak-anak.”- hal. 41

Childfree & Happy mengajak pembaca memahami keputusan orang lain soal memiliki anak

Dari buku Childfree & Happy saya banyak belajar untuk memahami keputusan orang lain mengenai ketidakinginan mereka memiliki anak yang mana itu kurang umum di masyarakat kita. Saya memahami bahwa setiap orang punya alasan dalam setiap pengambilan keputusan dalam hidupnya. Mereka jauh lebih paham tentang dirinya, sehingga kurang elok rasanya jika kita sebagai orang luar menghakimi keputusan mereka.

Ada sebuah kalimat yang pernah saya dengar dari salah seorang teman saya yang bunyinya kurang lebih seperti ini, “Kita nggak bisa memilih terlahir dari orang tua yang seperti apa. Tapi, kita bisa memilih menjadi orang tua yang seperti apa.” Jika menjadi orang tua dirasa terlalu berat dan dapat menyengsarakan anak-anak kelak, mungkin keputusan untuk childfree adalah keputusan yang tepat.

Penulis: Reni Soengkunie
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Beberapa Hal yang Tak Perlu Dibicarakan Saat Bicara Soal Childfree.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2023 oleh

Tags: AnakBuku MojokchildfreeChildfree & HappyPernikahanVictoria Tunggono
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

Siapa Bilang Cari Cincin buat Laki-laki Itu Susah? Sovia Jewelry Solusinya

Siapa Bilang Cari Cincin buat Laki-laki Itu Susah?

13 November 2023
anak muda jawa nasihat jawa ora ilok duduk di pintu mojok

Jangan Buat Anak Penasaran dengan Kata ‘Ora Ilok’

13 Mei 2020
madura calon mertua menikah dengan teman satu kantor mojok

3 Saran dari HRD Perihal Menikah dengan Teman Satu Kantor

7 Juli 2020
Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

9 Februari 2022
Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

30 Januari 2023
mahar saham

Tren Mahar Saham, Bagaimana Aturannya?

10 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.