Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Memberi Bayi Kopi Instan Memang Nggak Ngotak, tapi Menuntut Sikap Sempurna dari Ibu yang Minim Privilese Juga Kurang Tepat

Butet RSM oleh Butet RSM
26 Januari 2023
A A
Memberi Kopi Instan ke Bayi Memang Nggak Ngotak, tapi Menuntut Sikap Sempurna dari Ibu yang Minim Privilese Juga Kurang Tepat Terminal mojok

Memberi Bayi Kopi Instan Memang Nggak Ngotak, tapi Menuntut Sikap Sempurna dari Ibu yang Minim Privilese Juga Kurang Tepat (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Adinda Yana, ibu yang memberi kopi instan untuk bayinya mungkin tak akan dicemooh jika dia melakukannya 40 tahun silam. Pemilik akun TikTok @kayess9 yang kini sudah di-banned permanen itu saat ini tinggal di Desa Mangalli, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Entah apa yang dia rasakan saat ini setelah mendapat sorotan dari netizen hingga presiden karena konten yang dibuatnya.

Dulu, memberikan kopi ke anak balita adalah hal yang dipercaya baik. Tapi, ilmu pengetahuan sudah berkembang. Mitos bahwa kopi baik untuk balita sudah lama ditinggalkan. Lantas, mengapa pengetahuan Adinda Yana seakan tertinggal puluhan tahun dibanding Anda sekalian? Apakah benar dia sengaja mengontenkan kebodohannya demi popularitas semata?

Ibu beri bayinya kopi instan adalah potret kemiskinan struktural

Salah seorang penulis Terminal Mojok, Erma Kumala Dewi, telah mengajak kita untuk mempertanyakan di mana logika Adinda Yana lewat tulisan cerdas yang bisa Anda baca ulang di sini. Sayangnya, nggak ada jawaban ndakik-ndakik untuk pertanyaan Mbak Erma dan kita semua. Jawabannya sangat sederhana, Adinda Yana adalah potret korban kemiskinan struktural yang masih meliputi negeri ini.

Jangankan Anda yang rakyat jelata, presiden kita pun terusik kok dengan viralnya konten ibu yang memberi kopi instan saset untuk bayinya itu. Dalam pidatonya, Presiden Jokowi sampai memberi apresiasi untuk jajaran polisi. Lucu, kan? Ternyata polisi bisa super sat set melayani masyarakat yang sudah viral di media sosial. Bahkan berbagai media memberitakan bahwa Kapolres Gowa, AKBP Reonald Trauli Simanjuntak, bersedia menjadi bapak asuh untuk si bayi.

Dalam tulisan Mbak Erma kemarin, untuk memberi hukuman dari dinas terkait kepada Adinda Yana yang dengan sengaja melakukan kebodohan itu sudah jelas ditolak. Wong korban kemiskinan struktural itu adalah sarana terbaik yang bisa ditunggangi untuk melakukan kebaikan dengan spotlight dari media, je. Kasus ini merupakan bukti nyata tidak suksesnya penyuluhan untuk ibu dan balita di Gowa. Tentu Dinas Kesehatan setempat merasa malu saat presiden menyorot kegagalan peran edukasi dari Posyandu dalam kasus ini.

Mempertanyakan peran dinas-dinas terkait

Saya jadi berpikir, apakah Puskesmas lewat kadernya di Posyandu memang punya standar yang berbeda-beda? Jadi gini, kalau di desa saya, Sewon, Bantul, Posyandu jelas punya peran penting untuk menyebarkan update pengetahuan soal kesehatan ibu dan anak. Setiap ada agenda timbangan rutin, selalu ada undangan yang diantarkan ke rumah warga yang memiliki anak balita. Begitu juga saat ada kelas gratis untuk ibu hamil di Puskesmas.

Sebenarnya datang ke Posyandu memang tak wajib, namun para kader di sini benar-benar telaten menjemput bola. Pendekatan yang dilakukan oleh para kader pun sangat intens saat ada ibu hamil di desa, terlebih pada ibu yang berasal dari golongan miskin. Tadinya saya heran melihat militannya para kader di sini. Tapi ternyata kader yang rajin ya lahir dari pendampingan intens pihak Dinas Kesehatan lewat Puskesmas setempat.

Adinda Yana memang baru tinggal seminggu di rumah kontrakannya. Otomatis, pihak terkait edukasi kesehatan di tempat tinggalnya sekarang ya nggak bisa disalahkan. Namun, tetap saja Dinas Kesehatan setempat harus nrimo kalau disebut kecolongan. Kebodohan memberi kopi instan dan makanan pedas pada bayi yang dilakukan Adinda Yana adalah bukti bahwa sejak ia hamil hingga anaknya berusia 7 bulan, tak mendapatkan pengetahuan yang cukup.

Baca Juga:

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

Suka Duka Pengusaha Kecil Jualan Live di TikTok: Nggak Ada yang Nonton, Sekalinya Ada yang Nonton Malah PHP

Bagaimanapun, kemiskinan Adinda Yana adalah sebuah potret buram yang nyata terjadi. Sekali lagi, Anda, para kaum smart yang bisa enak-enak scrolling dengan perut terjamin kenyang dibuat gusar lewat tingkah orang yang Anda sebut bodoh. Tentu Anda belum lupa juga dengan polah nenek gayung yang mandi hingga dini hari, bukan? Ada fakta lain di balik kesimpulan cetek bahwa TikTok membuat orang-orang yang Anda sebut bodoh mendapat spotlight.

Orang miskin mencari hiburan yang sederhana dan mudah diakses

Mereka yang sudah lelah dengan kemiskinan akan mencari hiburan yang paling sederhana untuk membebaskan diri mereka sesaat. Orang yang berada dalam keadaan yang lebih baik dan waras biasanya lekas-lekas mempertanyakan pilihan hiburan idola kelas bawah. Hiburan-hiburan seperti rokok, seks murah, narkoba kelas bawah, judi, dan kini yang terbaru TikTok, menjadi hiburan yang nggak rumit dan mudah diakses.

Kita yang lebih beruntung mungkin sulit untuk bisa paham, mengapa yang sudah miskin makin miskin pula mentalnya. Mengapa mereka yang sudah miskin nggak punya daya juang untuk hijrah ke kehidupan yang lebih baik. Kenapa mereka memberi anak kopi instan sasetan alih-alih asupan yang lebih bergizi. Dan mengapa mereka berkubang di lumpur kebodohan dan seolah enggan beranjak.

Jawabannya ya karena mereka memang nggak mampu. Itulah mengapa orang-orang yang punya kehidupan lebih baik harusnya tak hanya bisa mencibir ke sesamanya. Mbok ya kalau nggak bisa membantu, cobalah buat ngamuk ke dinas terkait yang punya sumber daya lebih dan memang bertugas untuk meraih mereka yang tak mampu.

Mungkin amarah dari orang yang lebih terdidik, lebih pandai, lebih mampu secara finansial pada lembaga terkait isu sosial akan berdampak baik. Ya dicoba saja untuk marah ke arah yang tepat. Buktinya, ada yang langsung menolong Mbak Adinda Yana setelah netizen ngamuk, kan?

Penulis: Butet RSM
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Viral Konten TikTok Ibu Kasih Bayi Kopi Good Day, Bukti Jadi Ibu Rumah Tangga Tetap Harus Berpendidikan Tinggi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2023 oleh

Tags: Bayikonten tiktokkopi instantiktok
Butet RSM

Butet RSM

Ibu dari tiga anak, penulis lepas yang tinggal di Bantul. Terbiasa menulis tentang UMKM, pasar, pendidikan alternatif, dan keresahan sosial.

ArtikelTerkait

Nia Ramadhani MC raffi ahmad terminal mojok

Sebuah Nasihat dari MC Amatir untuk Nia Ramadhani

2 Februari 2021
tiktok shop

Apakah TikTok Shop Bakal Efektif?

25 Desember 2021
Akun TikTok Rama Property, Akun Marketing Rumah Terbaik

Akun TikTok Rama Property, Akun Marketing Rumah Terbaik

2 September 2023
TikTok Pernah Dibunuh, Mati, dan Kini Bangkit dari Kuburnya

TikTok Pernah Dibunuh, Mati, dan Kini Bangkit dari Kuburnya

22 Januari 2020
nakes konten tiktok

Ngaku Nakes buat Konten TikTok, tapi Etika Profesinya Ditinggal

11 November 2021
Tabiat Dosen Gaib, di Kelas Tidak Pernah Ada, tapi Sogok Mahasiswa dengan Nilai A dosen muda

Menjadi Dosen Muda Tak Seindah Konten di TikTok!

11 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.