Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Film Marvel Memang untuk Mereka yang Hidupnya Mumet

Lydia Tesaloni Mangunsong oleh Lydia Tesaloni Mangunsong
4 Desember 2022
A A
Film Marvel Memang untuk Mereka yang Hidupnya Mumet

Marvel Studios (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Film Marvel emang gitu-gitu aja, tapi kalian seneng kan? 

Tempo hari saya memutuskan menonton Black Panther: Wakanda Forever yang rilis di Indonesia pada 9 November lalu. Keputusan itu bisa dibilang terpaksa, semata-mata karena saya tidak mendapat jadwal yang sesuai untuk film lain yang ingin saya tonton. 

Untuk memperjelas, keterpaksaan itu bukan karena saya pengkritis-film-jenius yang anti Marvel. Saya sudah mencekoki diri dengan Marvel sejak masih pakai rok merah. Melainkan karena teman saya yang seleranya di atas rata-rata sudah memberikan ulasan singkat, “Seru sih, tapi akhirnya ketebak.” 

Ulasan teman saya itu sebenarnya saya ragukan: dia rewel, hal-hal yang tidak bisa dia terima seringnya sangat mudah saya maklumi. Tapi, setelah cukup banyak film dan serial yang saya tonton, saya mengaku bahwa saya juga jadi mudah tidak puas dengan sebuah alur cerita sederhana yang mudah tertebak. Maka dari itu saya mempertimbangkan juga ulasan teman saya itu.

Namun, beres menonton, saya mendapat satu kesimpulan: film Marvel memang untuk mereka yang hidupnya mumet saja. 

Apakah saya termasuk golongan orang yang bisa menebak akhir kisah Black Panther: Wakanda Forever itu? Ya, akhir ceritanya memang berada dalam prediksi ala-ala yang saya ciptakan selagi menonton. Namun apakah saya tidak puas dengan alur cerita yang ditawarkan? Sangat puas. 

Menurut seorang dosen asal Marquette University, Marvel menampilkan sebuah kisah kepada penontonnya, tetapi “tidak menunjukkan alur”. Dalam hal ini, film-film Marvel memang tidak kunjung menampakkan akhir: selalu ada sekuel yang berkaitan dengan karakter lain, sama halnya dengan kehidupan yang tidak berhenti di satu fase dan terus berlanjut. Hal ini membawa film-film Marvel dekat dengan kehidupan.

Jika menilik film-film Marvel lainnya, hampir tidak ada akhir yang mengecewakan: the heroes win, selalu seperti itu. Meski “bawang-bawang” kerap ditabur lewat kematian sejumlah tokoh, tetapi akhirnya itu sepadan juga dengan keberhasilan para hero mencapai target yang diinginkan. 

Baca Juga:

Superhero Fatigue: Ketika Film Superhero Mulai Bikin Enek

7 Drama Korea Terburuk Sepanjang Masa

Cerita yang demikian memang terkesan monoton ketika telah menjadi citra yang juga nyata direpresentasikan. Tapi, sebagai (kalau boleh self-claim dan moga-moga enggak dianggap overproud) penonton lama Marvel, kendati sudah yakin betul para hero akhirnya akan menang, saya tetap menikmati naik-turun alur yang disisipkan untuk mencegah kebosanan penonton. Saya bisa menebak akhirnya akan bahagia (sebatas itu, tanpa tahu bagaimana kebahagiaan itu dicapai) dan saya tidak kecewa ketika tebakan itu benar.

Sebenarnya, akhir bahagia yang penonton telah prediksi atas film-film Marvel menjadi sebuah harapan. Ketika berbagai konflik hadir, penonton merasa “aman” karena memiliki harapan tersebut. Jadi bahkan ketika tokoh dalam film nampaknya sudah di ujung tanduk, penonton akan “meneguhkan hati” untuk tetap percaya bahwa akhir cerita pasti bahagia. Semua akan baik-baik saja. Kemudian ketika hal tersebut benar terjadi, yang tersisa adalah rasa puas karena harapannya tidak sia-sia. 

Fenomena tersebut, kalau mau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sebenarnya sangat dekat. Ketika menargetkan sesuatu, tentu seseorang menaruh harapan besar untuk berhasil. Selama berjalannya proses mencapai target yang pastinya tidak mudah, salah satu yang diandalkan untuk bertahan adalah harapan. Berbeda dengan film, tak jarang harapan yang telah dibangun sejak awal ternyata tidak terealisasi.

Dengan kenyataan hidup yang tidak terprediksi itu, menonton film yang akhir ceritanya bisa diperhitungkan menjadi sebuah hiburan. Sudahlah di kehidupan nyata kecewa, masakah masih mencari kekecewaan di film juga. Dalam suatu penelitian yang dilakukan dosen dan peneliti asal Amerika Serikat pada 1993, ditemukan bahwa penonton menganggap akhir sedih membawa makna yang lebih dalam. Dalam hal ini, sejumlah orang tidak mencari “makna yang dalam” dari tontonannya. Kekecewaan telah ditelan cukup banyak dalam hidup yang mumet, jadi tontonan baiknya hanya menjadi hiburan saja: dan itu didapat dari film-film Marvel.

Pada akhirnya, akhir bahagia film-film Marvel yang tertebak itu sungguh fiksi dengan realitas yang sama sekali berbeda dari kehidupan nyata. Tapi, jelas tidak mengecewakan, sebab menunjukkan “sesuatu yang lain”, sesuatu yang belum tentu didapat di kehidupan nyata: akhir bahagia.

Penulis: Lydia Tesaloni Mangunsong
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Shang-Chi dan Komentar Denis Villeneuve yang Masuk Akal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2022 oleh

Tags: akhirfilm marvelPlot
Lydia Tesaloni Mangunsong

Lydia Tesaloni Mangunsong

Mahasiswi (sayangnya) jurnalistik.

ArtikelTerkait

CGI Masalah Terbesar Film-film Superhero Indonesia Terminal Mojok superhero fatigue

Superhero Fatigue: Ketika Film Superhero Mulai Bikin Enek

17 Februari 2023
7 Drama Korea Terburuk Sepanjang Masa Terminal Mojok

7 Drama Korea Terburuk Sepanjang Masa

24 September 2022
Panduan Memahami Plot Film Dune buat Kalian yang Keburu Ngantuk terminal mojok.co

Panduan Memahami Plot Film Dune buat Kalian yang Keburu Ngantuk

21 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.