Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Sisi Gelap Dunia Kerja Jepang: Memahami Karoushi dan Burakku Kigyou

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
2 Desember 2022
A A
Sisi Gelap Dunia Kerja Jepang Memahami Karoushi dan Burakku Kigyou Terminal Mojok

Sisi Gelap Dunia Kerja Jepang Memahami Karoushi dan Burakku Kigyou (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dunia kerja memang memiliki banyak sisi gelap yang tak bisa dimungkiri. Upah rendah, eksploitasi tenaga kerja yang tak manusiawi, sampai kekerasan mental dan fisik di tempat kerja seolah jadi hal biasa. Tak terkecuali dunia kerja di Jepang. Di balik majunya Jepang dan terkenal sebagai negara pekerja keras, tetap saja budaya kerjanya menyisakan persoalan pelik yang bisa mengancam nyawa pekerja itu sendiri. Dua hal yang jadi momok dunia kerja Jepang adalah karoushi dan burakku kigyou.

Apa itu karoushi dan burakku kigyou?

Karoushi berasal dari kata 過労 (bekerja lebih) dan 死 (kematian), sehingga bisa diartikan sebagai kematian akibat bekerja berlebihan. Meskipun standar jam kerja adalah 40 jam per minggu, faktanya pekerja Jepang bisa bekerja lembur ratusan jam per bulan. Artinya, dalam satu hari mereka bisa lembur hingga lebih dari 4 jam dan pulang sampai larut malam. Ada banyak kasus pekerja dalam dunia kerja Jepang yang tidur hanya 3 jam dalam sehari, dan bahkan terpaksa menginap di kantor.

Sementara itu, burakku kigyou atau black company adalah perusahaan yang mengeksploitasi pekerjanya secara berlebihan. Sebuah perusahaan dikatakan burakku kigyou jika mempekerjakan karyawan dan memaksa mereka bekerja lembur berlebihan tanpa gaji dan upah lembur yang memadai, serta melecehkan atau mengintimidasi pekerja secara verbal maupun fisik.

Meskipun sasaran utama burakku kigyou ini adalah karyawan baru, banyak juga karyawan kontrak yang jadi korban. Biasanya para karyawan ini merasa takut kalau kontrak mereka nggak diperpanjang sehingga mereka rela disuruh ini itu demi status pekerjaannya. 

Selain karyawan baru dan karyawan kontrak, karyawan paruh waktu juga sering menjadi korban. Mereka nggak memiliki kontrak kerja yang lebih pasti sehingga bisa dengan mudah “dimanfaatkan”. Apalagi karyawan paruh waktu biasanya merupakan mahasiswa yang butuh pengalaman kerja untuk isian CV-nya 

Meski begitu, bukan berarti karyawan tetap maupun senior nggak akan mengalami intimidasi ini, ya. Dengan dalih promosi jabatan, mereka juga biasanya mudah dieksploitasi. Jadi, praktik eksploitasi ini pada dasarnya bisa terjadi pada siapa saja dalam dunia kerja Jepang.

Kasus paling fenomenal dalam dunia kerja Jepang

Pada Agustus 2012, seorang insinyur pria berusia 28 tahun di Perusahaan Nagoya Works bunuh diri karena terlalu banyak bekerja. Pada tahun 2011, dia ditunjuk sebagai penanggung jawab atas proyek pengembangan sistem. Sayangnya proyek tersebut bermasalah sehingga dia gagal memenuhi jadwal penyelesaian proyek. Akhirnya dia bekerja lembur lebih dari 100 jam sebulan selama beberapa bulan untuk menebus penundaan tersebut. Namun, dia mengalami gangguan mental. Pada Desember 2014, kasusnya dilaporkan sebagai kecelakaan kerja.

Ada juga kasus lima karyawan pria di Mitsubishi Electric Corporation Jepang yang mengalami gangguan jiwa dan gangguan otak akibat jam kerja yang panjang. Mereka adalah insinyur atau peneliti pengembangan sistem. Dua orang di antaranya bunuh diri karena terlalu banyak bekerja, tetapi dilaporkan sebagai kecelakaan kerja.

Baca Juga:

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

5 Hal Tak Terduga yang Bikin Bahagia di Kantor

Seorang karyawan pria pabrik jaringan perusahaan di Amagasaki (Hyogo) juga bunuh diri karena terlalu banyak bekerja pada Februari 2016 silam. Sekitar empat bulan sebelum kematiannya, dia bekerja lembur hingga lima kali lipat dari sebelumnya menjadi 80 jam per bulan. Pada Juni 2017, dia dilaporkan kecelakaan karena mengalami gangguan mental. 

Kasus terkenal lainnya adalah Mina Mori, seorang karyawati 26 tahun dari jaringan restoran Watami. Ia bunuh diri setelah dua bulan bergabung pada tahun 2008. Keluarganya mengajukan keluhan ke Kantor Standar Tenaga Kerja Yokosuka untuk meminta pengakuan bunuh diri terkait pekerjaan, tetapi ditolak. Mereka kemudian mengajukan banding ke Biro Tenaga Kerja Prefektur Kanagawa dan mengakui stres terkait pekerjaan sebagai penyebab penurunan kesehatan mental Mina Mori. Pada Desember 2015, Watami membayar kompensasi sebesar 130 juta yen kepada keluarga Mina Mori, dan pendiri Watami, Miki Watanabe, meminta maaf.

Seorang karyawati Dentsu, Takahashi Matsuri yang berusia 24 tahun juga melakukan bunuh diri karena terlalu banyak bekerja. Ia “dipaksa” bekerja berjam-jam, bahkan lemburnya mencapai 105 jam pada bulan Oktober 2015. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jendela asrama pada 25 Desember 2015. Kasus ini sempat heboh karena sebelum kematiannya, Takahashi Matsuri sempat mengeluh di Twitter.

Kasus kematian akibat kelelahan bekerja atau dikenal dengan karoushi dari tahun 2016 sampai 2019 di Jepang berjumlah 925 kasus. Mengerikan, ya?

Most Evil Corporation of The Year Award

Meskipun kedengarannya sangat aneh, setiap tahun di Jepang ada semacam “award” yang digunakan untuk menilai mana perusahaan Jepang yang paling jahat. Penghargaan ini diadakan pertama kali pada tahun 2012 lalu.

Penghargaan perusahaan terjahat dalam dunia kerja Jepang pada tahun 2012 diberikan kepada TEPCO (Tokyo Electric Power Company Holdings Incorporated), tahun 2013 Watami Food Service, tahun 2014 Yamada Holdings Co, Ltd., tahun 2015 Seven Eleven Japan Co, Ltd., tahun 2016 Dentsu Inc., tahun 2017 Hikkoshisha, dan tahun 2018 Mitsubishi Electric Corporation. Selama pandemi Covid-19 penghargaan Most Evil Corporation of The Year Award ini ditiadakan dan belum ada informasi terbaru hingga kini.

Walaupun perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya mendapat rekomendasi dari pemerintah untuk melakukan perbaikan, tetap saja kultur budaya kerja Jepang sangat sulit untuk diubah.

Lantas, bagaimana?

Kebanyakan perusahaan Jepang nggak bisa mencegah terulangnya “kecelakaan kerja” yang menyebabkan kematian pekerjanya ini. Meskipun mereka tahu juga bahwa penyebab pekerjanya bunuh diri adalah karena terlalu banyak bekerja.

Perusahaan Dentsu misalnya, mereka masih memiliki semboyan perusahaan yang disebut “Oni Jusoku” (sepuluh aturan setan) hingga saat ini yang berarti karyawan harus bekerja sendiri, nggak diberikan pada orang lain, dan nggak menyeret orang lain. Mereka juga memiliki motto yang nggak manusiawi seperti “jangan lepaskan meskipun terbunuh sampai tujuan selesai…” sehingga pekerja jadi terintimidasi.

Begitu juga dengan calon karyawan yang tetap melamar pekerjaan di perusahaan yang memiliki reputasi buruk. Demi prestis misalnya, atau demi gaji idamannya. Meskipun tak dipaksa secara langsung oleh atasan, lingkungan kerja dan tuntutan pekerjaan akan membuat para pekerja Jepang ini bersaing sengit.

Jadi, seberapa keras pemerintah Jepang mengubah UU ketenagakerjaan dan membatasi jam lembur sekalipun agar nggak ada lagi kasus karoushi, budaya kerja Jepang yang sudah turun temurun itu tak akan mudah diubah begitu saja. Mungkin kalau digalakkan semboyan “pulang tenggo itu keren”, bisa saja sih berubah. Tapi entah kapan itu akan terjadi, nggak ada yang tahu.

Penulis: Primasari N. Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 6 Budaya Kerja Jepang yang Bikin Geleng-geleng Kepala.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2022 oleh

Tags: Bunuh Diriburakku kigyoudunia kerjajepangkaroushilembursisi gelap
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Hitachi Seaside Park, Tempat Mekarnya Bunga-bunga Indah di Tepi Samudra

Hitachi Seaside Park, Tempat Mekarnya Bunga-bunga Indah di Tepi Samudra

11 Juni 2022
3 Alasan PNS Seharusnya Nggak Usah Lembur terminal mojok

3 Alasan PNS Seharusnya Nggak Usah Lembur

4 Oktober 2021
deadliner

Siapa Sangka Kalau Deadliner adalah Simulasi Underpressure Menuju Dunia Kerja yang Sesungguhnya

21 Agustus 2019
Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

24 Februari 2022
Bunga Tabebuya Magelang: Indah, tapi Merepotkan Penyapu Jalan Mojok.co

Bunga Tabebuya di Magelang Memang Indah, tapi Merepotkan Penyapu Jalan

30 Oktober 2023
Oversharing tentang Enaknya Kerja di Jepang Nggak Masalah, tapi Tolong Cerita Juga Bagian Nggak Enaknya

Oversharing tentang Enaknya Kerja di Jepang Nggak Masalah, tapi Tolong Cerita Juga Bagian Nggak Enaknya

9 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Ternyata Bus Trans Jatim Nggak Ada Bedanya dengan Angkot, Ngebut dan Ugal-ugalan!

4 Mei 2026
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Pustakawan, Profesi yang Sering Dianggap Remeh, padahal Kerjanya Enak dan Banyak Untungnya

7 Mei 2026
Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan Mojok.co

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan

4 Mei 2026
Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, kalau Malam Dikuasai Kontainer

Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, Malam Dikuasai Kontainer

5 Mei 2026
Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

7 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin
  • Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.