Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Tap Out, Kebijakan Baru Transjakarta yang Menjengkelkan

Marshel Leonard Nanlohy oleh Marshel Leonard Nanlohy
20 Oktober 2022
A A
5 Penumpang yang Sebaiknya Nggak Naik Bus TransJakarta Terminal Mojok tap out

5 Penumpang yang Sebaiknya Nggak Naik Bus TransJakarta (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tap out justru bikin penumpang TransJakarta kerepotan. Kebijakan kok bikin jengkel gini ya?

Kebijakan baru dari TransJakarta menuai banyak protes di kalangan konsumennya. Pasalnya, saat ini penumpang diharuskan untuk menempelkan kartu elektronik ketika hendak keluar dari Transjakarta.

Sebelumnya, penumpang hanya perlu menempelkan kartu elektroniknya satu kali, yakni saat awal naik ke dalam bus. Sekarang, per tanggal 6 Oktober 2022, penumpang harus menempelkan kartunya lagi setelah sampai di tujuan akhir, atau bahasa kerennya “tap out”. Alhasil, antrean panjang pun tidak terelakkan di beberapa titik. Kenapa harus gitu, sih?

Mau melakukan perjalanan bersama Transjakarta?
Pastikan saldo minimun kamu Rp 5.000 dan selalu tempelkan kartu kamu saat naik dan turun bus (tap in & tap out di setiap perjalanan yaa! pic.twitter.com/IGDgIEediM

— Transportasi Jakarta (@PT_Transjakarta) October 4, 2022

Eksekusi kebijakan tap out ini tidak berjalan dengan mulus. Masalah yang muncul pun beragam. Mulai dari banyak kartu yang terblokir, hingga protes karena ada isu saldo kartu elektronik akan terpotong sebanyak dua kali, yaitu setiap menempel kartu pada mesin.

Di sisi lain, penumpukan massa di jam pulang kerja yang harus tap out juga merepotkan pihak penumpang dan petugas Transjakarta. “Udah sore, hujan, macet, masih harus nunggu antrean panjang pula,” ungkap salah satu bapak yang ngedumel sambil ikut antre depan saya.

Kalau masih seperti ini tanpa ada evaluasi, berikut beberapa masalah yang berpotensi terjadi ketika Anda hendak melakukan perjalanan menggunakan Transjakarta.

#1 Antrean panjang menggulung

Jumlah warga yang memprioritaskan TransJakarta sebagai transportasi umum utama cukup banyak, sedangkan halte pun nggak bisa menampung manusia sebanyak itu. Tanpa kebijakan tap out aja, antreannya udah kayak mau naik wahana di Dufan.

Baca Juga:

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

Saya Pengguna Setia Transjakarta dan Setuju kalau Tarifnya Naik asal 4 Hal Ini Terpenuhi

Hal ini tentu menguras habis tenaga. Berdiri berjam-jam menunggu bus yang lewat di halte transit seperti Halte BKN cukup membuat betis keras. Belum lagi kalau nggak dapat tempat duduk karena norma kursi prioritas. Buat Anda yang darah rendah dan mau naik TransJakarta di jam ramai, coba pikir ulang, deh! Mending naik ojol…

Meskipun pihak TransJakarta punya solusi, penumpukan massa masih saja terjadi, terutama di halte yang tertutup (bukan halte yang di pinggir jalan, tapi halte yang di tengah jalan). Lalu apakah solusinya gagal? Eits, sabar dulu.

Antrean panjang (Dokumentasi pribadi)

#2 Potensi kartu yang tertukar

Untungnya, pihak TransJakarta sudah menemukan solusi atas antrean panjang yang diakibatkan oleh kebijakan tap out. Khususnya untuk bus dengan nomor D11 dan 7C (yang saya alami sendiri), solusinya adalah dengan mengumpulkan kartu elektronik milik penumpang kepada salah satu petugas di dalam bus.

Tenang, setelah mengumpulkan kartu elektronik, petugas akan membantu Anda menempelkan kartu elektronik sebelum keluar toll. Hasilnya, penumpang dapat langsung keluar tanpa harus antre (lagi) saat hendak keluar dari bus.

Setiap solusi pasti punya konsekuensi. Potensi kartu Anda tertukar dengan orang lain menjadi nyata sekarang. Maka dari itu, segera tandai kartu yang Anda miliki dengan hal tertentu, bisa berupa tanda tangan, gantungan, coretan, atau apa pun yang sekiranya bisa jadi pembeda. Punya kartu elektronik harus berkarakter, dong!

Sayangnya, solusi ngumpulin kartu ini hanya bisa berlaku untuk bus tertentu yang pemberhentiannya cukup jauh, sehingga ada waktu buat mengumpulkan kartu penumpang yang banyak—dan berdesakan—tentu saja.

Tumpukan penumpang (Dokumentasi pribadi)

#3 Saldo terpotong dua kali

Masalah tentang saldo terpotong dua kali sebenarnya sudah membuat geram penumpang sejak TransJakarta menetapkan kebijakan baru. Bayangkan, alasan ongkos murah yang awalnya memotivasi saya untuk naik TransJakarta lama-lama luntur kalau hal ini nggak segera diperbaiki.

Sebelum jam tujuh pagi, harga yang harus dibayar untuk naik bus TransJakarta adalah senilai dua ribu rupiah. Setelah lewat dari jam tujuh pagi, harga naik menjadi tiga ribu lima ratus rupiah. Kalau dihitung double, artinya sekali pergi Anda harus membayar 4 ribu rupiah (sebelum jam tujuh pagi) dan membayar 7 ribu rupiah (setelah jam tujuh pagi). Lumayan loh itu nambahnya.

Apalagi kalau kejadian saldo terpotong ini nggak sengaja. Kemungkinan hanya terjadi karena human error atau kesalahan pada mesin. Mau marah pun nggak tega sama petugasnya, karena Blio juga masih harus nginget-nginget kartu orang yang banyak.

Semoga masalah yang satu ini segera diselesaikan, ya. Rugi 3500 rupiah dalam waktu satu bulan itu lumayan, loh.

#4 Pemblokiran kartu yang sia-sia

Imbauan untuk menempelkan kartu saat keluar bus sudah disebarkan baik secara langsung maupun via online. Ketakutan utama yang muncul kalau Anda lupa menempelkan kartu adalah pemblokiran kartu elektronik.

Setidaknya hal tersebut yang membuat saya khawatir. Mosok iya cuman karena lupa, kartu saya bisa terblokir. Faktanya, pemblokiran tersebut nggak terlalu menakutkan.

Kartu yang terblokir hanya perlu ditempel sebanyak tiga kali. Tap pertama untuk mendeteksi apakah kartu terblokir atau tidak, tap kedua untuk melakukan reset kartu elektronik pada mesin, dan tap ketiga untuk melakukan transaksi. Katanya sih begitu, tapi jangan kaget semisal saldo Anda berkurang setelah melakukan tap ketiga. Hadeeeh.

Penerapan kebijakan baru TransJakarta ini memang masih jauh dari kata mulus. Alih-alih mempermudah penumpang, kebijakan ini justru mempersulit. Jadi gimana, adakah pilihan lain selain naik Transjakarta, wahai warga Depok, Cibubur, dan daerah pinggiran lain di sekitar Jakarta?

Penulis: Marshel Leonard Nanlohy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Naik Transjakarta Jika Terburu-buru

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2022 oleh

Tags: kebijakantap outtransjakarta
Marshel Leonard Nanlohy

Marshel Leonard Nanlohy

Seorang Pemuda yang berusaha menemukan makna kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa, baik yang sederhana maupun yang menguji, sebagai bagian dari perjalanan memahami kehidupan.

ArtikelTerkait

Panduan Menikmati Transportasi Umum di Jakarta Terminal Mojok

Panduan Menikmati Transportasi Umum di Jakarta

1 Februari 2023
Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta

Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta

1 Juli 2025
Tak Ada yang Lebih Tabah dari para Pejuang KRL Jakarta Tarif KRL berbasis NIK

Tarif KRL Berbasis NIK Adalah Ide Brilian untuk Mengurangi Desak-Desakan Penumpang!!!

31 Agustus 2024
Saya Lebih Suka Halte Bundaran HI yang Dulu: Minimalis tapi Tetap Estetis

Saya Lebih Suka Halte Bundaran HI yang Dulu: Minimalis tapi Tetap Estetis

6 September 2023
Beberapa Sanksi Jitu yang Bisa Diterapkan Bagi Pengendara yang Suka Nyerobot Jalur Busway

Beberapa Sanksi Jitu yang Bisa Diterapkan Bagi Pengendara yang Suka Nyerobot Jalur Busway

11 Desember 2019
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung

7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung

6 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.