Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Gunung Es Praktik Kekerasan di Pondok Pesantren Modern

Gifari Juniatama oleh Gifari Juniatama
6 September 2022
A A
Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri  Terminal Mojok pondok pesantren

Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah tragedi memilukan terjadi di pondok pesantren Daar El Qalaam, Tangerang pada awal Agustus lalu. Seorang santri meninggal karena perkelahian dengan teman satu pondoknya. Peristiwa yang seharusnya tidak pernah terjadi di pondok pesantren, sebuah tempat mulia untuk menimba ilmu. Sungguh aneh, karena sampai ada perkelahian yang berujung pada kematian di sebuah lembaga yang seharusnya menjadikan anak didik aman.

Setidaknya ini menunjukkan adanya kelalaian dalam pengawasan. Namun di luar kasus tersebut, terdapat praktik kekerasan di pondok pesantren “modern” yang memang sudah seharusnya mulai menjadi perhatian banyak pihak.

Sebelumnya, saya perlu membedakan terlebih dahulu maksud pondok pesantren pada tulisan ini. Terdapat beberapa jenis pondok pesantren di Indonesia, baik dari sistem pendidikannya, pola pengajaran, sampai dengan cara mengorganisir santri. Secara spesifik, dalam tulisan ini saya akan membahas pondok pesantren dengan sistem “modern”, yang memiliki organisasi santri dengan fungsi menegakkan aturan pesantren. Pesantren dengan model seperti ini biasanya memiliki sangat banyak aturan sehingga memerlukan tenaga dari santri yang terorganisir sebagai perpanjangan tangan dari pesantren untuk menindak para pelanggar peraturan. Dari para pengurus inilah, biasanya praktik kekerasan di pondok pesantren biasa ditemukan.

Kekerasan di pondok pesantren “modern” adalah sesuatu yang seolah lazim diperbincangkan di kalangan lulusan pesantren atau mereka yang pernah merasakan pendidikan pesantren modern. Para santri yang lebih senior yang menjadi pengurus organisasi pesantren memegang semacam “license to hit” dengan alasan menegakan aturan pesantren. Dari pembiaran pemakaian kekerasan inilah, kekerasan menjadi semacam ritual normal di kalangan para santri.

Konsumsi paling lazim adalah pukulan dari gantungan baju atau mungkin gagang sapu. Aparatur yang melakukan kekerasan biasanya adalah bagian keamanan, dan mungkin beberapa pengurus dari bidang lain yang merasa perlu menggunakan kekerasan untuk “mendisiplinkan” santri. Jika ada salah seorang santri yang melakukan pelanggaran berat, biasanya ia akan menjalani semacam sidang dengan proses interogasi yang tidak hanya berisi bentakan saja.

Pada satu sisi, santri enggan untuk memberi tahu orang tua mereka tentang kekerasan yang mereka alami karena sungkan atau mungkin takut dicibir sebagai seorang pengadu. Pada sisi lain, ada juga keyakinan dari sebagian orang tua santri bahwa pendidikan “keras” yang anak mereka alami itu adalah bagian dari proses pendidikan ala pesantren yang sudah lumrah. Dua alasan inilah yang saya pikir menjaga budaya kekerasan di lingkungan pondok pesantren modern terus ada. Padahal, apakah kedisiplinan harus selalu menggunakan kekerasan? Maka, tidak heran jika istilah “penjara suci” sempat ada di kalangan para santri untuk menjuluki pondok pesantren. Karena para santri seolah hidup dengan diawasi oleh para sipir yang siap sedia mementungi mereka kapan saja.

Salah satu jenis hukuman lain yang saya pikir menjadikan santri seolah seperti kriminal adalah menggunduli rambut setiap santri yang melanggar peraturan tertentu. Biasanya pelanggaran terhadap aturan lumayan berat akan mendapat hukuman gundul. Saya kurang mengerti apa relevansi menggunduli kepala di lembaga pendidikan. Apakah untuk mempermalukan dan kemudian memberikan efek jera?

Bagi saya, tidak begitu aneh jika kemudian ada anggapan pada sebagian orang bahwa pesantren adalah tempat untuk mendisiplinkan anak-anak nakal. Proses pendisiplinan dengan kekerasan yang masih saja ada di pondok pesantren modern setidaknya memberikan satu alasan yang cukup untuk menstimulus orang-orang berpikir demikian.

Baca Juga:

Kabupaten Tangerang Melesat Meninggalkan Kota Tangerang: Kehidupan di Kabupaten Lebih Mewah dan Modern!

Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

Saya pikir praktik kekerasan ini adalah sesuatu yang sangat jauh dari nilai rahmah atau kasih sayang dalam Islam. Karena sebenarnya proses pendidikan agama dan perbaikan akhlak tidak harus memerlukan kekerasan. Hal inilah yang saya lihat dari pesantren salafiyah atau pesantren tradisional yang ada di kampung saya. Para santri pesantren tradisional tetap pintar dalam ilmu-ilmu agama dan berakhlak baik tanpa mendapat kekerasan dari santri senior yang tidak perlu.

Para orang tua menaruh harapan besar dengan menyekolahkan anaknya di pondok pesantren, selayaknya hal ini bisa dijaga dengan baik. Perbaikan dengan menihilkan tindak kekerasan oleh sesama santri perlu dilakukan oleh pondok pesantren “modern”.

Penulis: Gifari Juniatama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pondok Pesantren Bukanlah Tempat Pembuangan Anak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2022 oleh

Tags: gunung esKekerasanmodernpondok pesanteren
Gifari Juniatama

Gifari Juniatama

ArtikelTerkait

Melecehkan Pelaku Pelecehan Seksual Itu Goblok!

Melecehkan Pelaku Pelecehan Seksual Itu Goblok!

18 Desember 2022
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Nyatanya, Kita Tidak Lebih Baik daripada PKI

2 Oktober 2020
kekerasan pada perempuan di internet definisi pengertian jenis macam mojok.co

Panduan Mengenal Kekerasan pada Perempuan di Internet

10 Agustus 2020
Saatnya Kita Berhenti Glorifikasi Bandung dan Yogya secara Berlebihan

Saatnya Kita Berhenti Glorifikasi Bandung dan Yogya secara Berlebihan

25 April 2022
Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

15 Oktober 2023
Kabupaten Tangerang Melesat Meninggalkan Kota Tangerang: Kehidupan di Kabupaten Lebih Mewah dan Modern!

Kabupaten Tangerang Melesat Meninggalkan Kota Tangerang: Kehidupan di Kabupaten Lebih Mewah dan Modern!

5 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.