Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mari Periksa Maksud Tweet Budiman Sudjatmiko yang Bandingkan Awkarin dan Tri Mumpuni

Ainur Rohmah oleh Ainur Rohmah
16 Oktober 2019
A A
memeriksa budiman karin

menelaah budiman sudjatmiko

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam tweetnya yang viral ini, Budiman Sudjatmiko menyebut apa yang dilakukan Karin basisnya sensasi, sementara Bu Tri basisnya esensi. Kita periksa.

2 contoh kebaikan oleh 2 perempuan: 1. Awkarin & 2. Tri Mumpuni.. Yg pertama basisnya sensasi, yg ke 2 esensi. Kebaikan harus sensasional tp yg lebih penting juga esensial. Tak cukup salah 1.
Budaya kita lebih suka yg pertama, meski tubuh kita butuh yg ke 2..

— Budiman Sudjatmiko (IG: kelasinspirasibudiman) (@budimandjatmiko) October 13, 2019

 

Budiman tidak menyebutkan secara pasti apa yang dilakukan Karin dan Bu Tri. Kalau lihat pemberitaan belakangan, paling tidak dua hal yang dilakukan Karin terkait kerja sosialnya yakni menyalurkan nasi bungkus untuk demonstran #ReformasiDikorupsi dan aksinya ikut memadamkan kebakaran lahan.

Sedangkan Bu Tri, sudah malang-melintang dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, terutama mempelopori pembangkit listrik mikrohidro di pedesaan-pedesaan. Saya pernah meliput satu acara yang dihadiri Bu Tri di sebuah desa di Jateng pada 2012.

Waktu itu, Bu Tri disebut membantu warga untuk mandiri dalam hal perlistrikan sehingga tidak butuh PLN lagi. Bisa dibilang, peran Bu Tri menyentuh problem dasar masyarakat. Dia tahu persoalan dan membantu mengatasinya dengan segala pengetahuan yang dimilikinya sehingga dampaknya sangat dirasakan masyarakat. Saya kira, ini yang dimaksud Budiman dengan berdasarkan esensi.

Bu Tri bekerja dalam senyap. Selama bertahun-tahun, dia melakukannya tanpa banyak sorot kamera atau diketahui banyak orang, meski beliau sudah banyak sekali dapat penghargaan dan diprofilkan media.

Sementara dalam kerja-kerja sosialnya, Karin mendapat sorotan/perhatian banyak orang sehingga gaungnya ke mana-mana, meskipun itu tidak terlalu esensial atau menjawab persoalan dasar. Inilah yang oleh Budiman dikatakan basisnya sensasional, yang saya kira konteksnya adalah positif.

Baca Juga:

Panduan Memahami Tweet-tweet Budiman Sudjatmiko yang Terlalu Ndakik Buatmu!

Awkarin VS Nadiyah: Apa Betul Bangsa Ini Dibiasakan Memaklumi Plagiarisme?

Budiman menekankan bahwa kebaikan itu sebaiknya tidak hanya sensasional, tapi juga esensial. Nah karena sensasional sekarang mengalami peyorasi (yang sebenarnya netral jadi bermakna negatif), jadi banyak yang merasa itu sebagai serangan kepada Karin.

Meski demikian, menurut saya, Budiman tetap perlu dikritisi dalam beberapa hal. Pertama, Bu Tri latar belakangnya adalah aktivis pemberdayaan masyarakat, sementara Karin adalah influencer. Sudah saya cek, Bu Tri tidak terlalu aktif main medsos (twitter dn FB).

Sementara kondisi Karin—dengan followersnya yang ratusan ribu—MENDUKUNGNYA UNTUK VIRAL. Dia ngepost kegiatannya, apalagi yang unik atau tidak biasa, ya jadi perbincangan.

Bu Tri barangkali tidak mau atau mungkin saja tidak bisa mempromosikan kegiatan-kegiatannya. Barangkali Bu Tri juga akan sensasional jika mempunyai followers banyak dan aktif di medsos dengan konten menarik. Zaman dan latar belakang merek berbeda. Generasi sekarang dengan sedikit upaya bisa viral, apalagi influencer.

Kedua, perbandingannya tidak apple to apple. Bu Tri itu senior, pengetahuannya luas terkait bidangnya, dan sudah melakukan kerja sosialnya bertahun-tahun. Karin masih muda, yang mungkin masih mencari bentuk dirinya. Jadi kalau bicara kedalaman dampak yang ditimbulkan keduanya, ya jauh.

Ketiga, kenapa membandingkannya antara Karin dengan Bu Tri yg sama-sama perempuan? Kenapa tidak Karin dengan laki-laki yang kegiatannya esensial seperti bu Tri misalnya? Kenapa harus perempuan dengan perempuan? Ada apa dengan perempuan sehingga dibanding-banding kan?

Saya kira Budiman nge-tweet itu berangkat dari fenomena Karin baru-baru ini. Inti yang ingin dia sampaikan adalah bahwa kebaikan itu sebaiknya tidak hanya sensasional, tapi juga esensial. Mungkin niatnya gak buruk tapi ya namanya orang….

Apalagi belakangan ini Karin kan memang lagi dibanding-bandingkan dengan perempuan-perempuan lainnya misal Tsamara Amani. Itu kemarin sudah mengundang kecaman sebagian perempuan di medsos. Eh Budiman nge-tweet gitu juga, ya jadilah….

Saya kira, sensasi yang dilakukan Karin dan Gretta juga tidak bisa disepelekan karena menemukan momentumnya (masing-masing isu climate change dan kebakaran hutan). Dari aksi yang menginspirasi, kita tidak pernah tahu kalau ada orang-orang lain yang akan melakukan hal-hal yang esensial, atau paling tidak memperbaiki diri.

Saya akan menutup ini dengan cuitan @awkarin soal proses (hidup) yang dia post 5 oktober lalu. Saya kira Karin kini juga masih mengembangkan diri. Jadi didukung saja agar dia lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

Kalo ketemu orang yang lagi masa-masanya alay, tahan diri deh jangan ngatain. Gue juga gitu, gue pasti inget-inget gue juga pernah alay banget dulu wkwkwk.
Alay itu proses.
Bagaimana kita mengembangkan diri itu pendewasaan.

— karin novilda (@awkarin) October 4, 2019

BACA JUGA Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja atau tulisan Ainur Rohmah lainnya. Follow Twitter Ainur Rohmah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2019 oleh

Tags: awkarinbudiman sudjatmikokarin novilda
Ainur Rohmah

Ainur Rohmah

Journalist | words @SCMPNews, @asiasentinel

ArtikelTerkait

Awkarin VS Nadiyah: Apa Betul Bangsa Ini Dibiasakan Memaklumi Plagiarisme?

Awkarin VS Nadiyah: Apa Betul Bangsa Ini Dibiasakan Memaklumi Plagiarisme?

30 Oktober 2019
awkarin

Awkarin Aja Udah Berubah Jadi “The New Karin”, Kalian Apa Tidak Bosan Jadi Tukang Hujat Terus?

17 Oktober 2019
awkarin

Awkarin Berbuat Baik, Kok Banyak yang Terusik?

16 Oktober 2019
Awkarin

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Awkarin! Jangan Takut Berpolitik

28 Oktober 2019
misuh

Misuh dan Pergaulan Anak Muda

26 September 2019
Julid Abadi, yang Fana Itu Kebaikan dan Keburukan MOJOK.CO

Julid Abadi, yang Fana Itu Kebaikan dan Keburukan

29 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter, Dihina tapi Jadi Motor Tangguh dan Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.