Mari Periksa Maksud Tweet Budiman Sudjatmiko yang Bandingkan Awkarin dan Tri Mumpuni

Budiman menekankan bahwa kebaikan itu sebaiknya tidak hanya sensasional, tapi juga esensial. Karena sensasional mengalami peyorasi, jadi banyak yang merasa itu sebagai serangan kepada Karin.

Artikel

Ainur Rohmah

Dalam tweetnya yang viral ini, Budiman Sudjatmiko menyebut apa yang dilakukan Karin basisnya sensasi, sementara Bu Tri basisnya esensi. Kita periksa.

 

Budiman tidak menyebutkan secara pasti apa yang dilakukan Karin dan Bu Tri. Kalau lihat pemberitaan belakangan, paling tidak dua hal yang dilakukan Karin terkait kerja sosialnya yakni menyalurkan nasi bungkus untuk demonstran #ReformasiDikorupsi dan aksinya ikut memadamkan kebakaran lahan.

Sedangkan Bu Tri, sudah malang-melintang dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, terutama mempelopori pembangkit listrik mikrohidro di pedesaan-pedesaan. Saya pernah meliput satu acara yang dihadiri Bu Tri di sebuah desa di Jateng pada 2012.

Waktu itu, Bu Tri disebut membantu warga untuk mandiri dalam hal perlistrikan sehingga tidak butuh PLN lagi. Bisa dibilang, peran Bu Tri menyentuh problem dasar masyarakat. Dia tahu persoalan dan membantu mengatasinya dengan segala pengetahuan yang dimilikinya sehingga dampaknya sangat dirasakan masyarakat. Saya kira, ini yang dimaksud Budiman dengan berdasarkan esensi.

Bu Tri bekerja dalam senyap. Selama bertahun-tahun, dia melakukannya tanpa banyak sorot kamera atau diketahui banyak orang, meski beliau sudah banyak sekali dapat penghargaan dan diprofilkan media.

Sementara dalam kerja-kerja sosialnya, Karin mendapat sorotan/perhatian banyak orang sehingga gaungnya ke mana-mana, meskipun itu tidak terlalu esensial atau menjawab persoalan dasar. Inilah yang oleh Budiman dikatakan basisnya sensasional, yang saya kira konteksnya adalah positif.

Baca Juga:  Membandingkan Burger King dan McDonald's Tidaklah Sulit: Jelas Lebih Enak Burger King, Lah!

Budiman menekankan bahwa kebaikan itu sebaiknya tidak hanya sensasional, tapi juga esensial. Nah karena sensasional sekarang mengalami peyorasi (yang sebenarnya netral jadi bermakna negatif), jadi banyak yang merasa itu sebagai serangan kepada Karin.

Meski demikian, menurut saya, Budiman tetap perlu dikritisi dalam beberapa hal. Pertama, Bu Tri latar belakangnya adalah aktivis pemberdayaan masyarakat, sementara Karin adalah influencer. Sudah saya cek, Bu Tri tidak terlalu aktif main medsos (twitter dn FB).

Sementara kondisi Karin—dengan followersnya yang ratusan ribu—MENDUKUNGNYA UNTUK VIRAL. Dia ngepost kegiatannya, apalagi yang unik atau tidak biasa, ya jadi perbincangan.

Bu Tri barangkali tidak mau atau mungkin saja tidak bisa mempromosikan kegiatan-kegiatannya. Barangkali Bu Tri juga akan sensasional jika mempunyai followers banyak dan aktif di medsos dengan konten menarik. Zaman dan latar belakang merek berbeda. Generasi sekarang dengan sedikit upaya bisa viral, apalagi influencer.

Kedua, perbandingannya tidak apple to apple. Bu Tri itu senior, pengetahuannya luas terkait bidangnya, dan sudah melakukan kerja sosialnya bertahun-tahun. Karin masih muda, yang mungkin masih mencari bentuk dirinya. Jadi kalau bicara kedalaman dampak yang ditimbulkan keduanya, ya jauh.

Ketiga, kenapa membandingkannya antara Karin dengan Bu Tri yg sama-sama perempuan? Kenapa tidak Karin dengan laki-laki yang kegiatannya esensial seperti bu Tri misalnya? Kenapa harus perempuan dengan perempuan? Ada apa dengan perempuan sehingga dibanding-banding kan?

Saya kira Budiman nge-tweet itu berangkat dari fenomena Karin baru-baru ini. Inti yang ingin dia sampaikan adalah bahwa kebaikan itu sebaiknya tidak hanya sensasional, tapi juga esensial. Mungkin niatnya gak buruk tapi ya namanya orang….

Apalagi belakangan ini Karin kan memang lagi dibanding-bandingkan dengan perempuan-perempuan lainnya misal Tsamara Amani. Itu kemarin sudah mengundang kecaman sebagian perempuan di medsos. Eh Budiman nge-tweet gitu juga, ya jadilah….

Baca Juga:  Misuh dan Pergaulan Anak Muda

Saya kira, sensasi yang dilakukan Karin dan Gretta juga tidak bisa disepelekan karena menemukan momentumnya (masing-masing isu climate change dan kebakaran hutan). Dari aksi yang menginspirasi, kita tidak pernah tahu kalau ada orang-orang lain yang akan melakukan hal-hal yang esensial, atau paling tidak memperbaiki diri.

Saya akan menutup ini dengan cuitan @awkarin soal proses (hidup) yang dia post 5 oktober lalu. Saya kira Karin kini juga masih mengembangkan diri. Jadi didukung saja agar dia lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

BACA JUGA Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja atau tulisan Ainur Rohmah lainnya. Follow Twitter Ainur Rohmah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.578 kali dilihat

12

Komentar

Comments are closed.